SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Blog Pribadi Atma Winata Nawawi

Minggu, 20 Mei 2012

PEMANFAATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO UNTUK DAERAH TERPENCIL


PEMANFAATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO UNTUK DAERAH TERPENCIL
Oleh : Puguh Adi Satriyo, ST, Puslitbang Iptekhan Balitbang Dephan

Pendahuluan.
            Negara Indonesia adalah Negara kepulauan yang masih banyak daerah-daerah yang masih terpencil dan belum ada penerangan listrik dan terjangkau oleh PLN. Padahal listrik atau penerangan sangat dibutuhkan oleh daerah tersebut agar daerah tersebut tidak ketinggalan dalam memperoleh informasi yang bertujuan untuk memajukan daerah tersebut dan dapat meningkatan pruduktifitas masyarakatnya. Oleh karena itu uintuk memenuhi kebutuhan akan penerangan listrik untuk daerah terpencil perlu diciptakan alat yang dapat menjangkau tempat terpencil yang murah dan ramah lingkungan, yaitu Pembangkit Listri Tenaga Mikrohidro.
            Pemasangan pembangkit listrik tenaga air atau Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) khususnya didaerah terpencil masih perlu dikembangkan melihat daerah di Indonesia yang banyak sekali gunung dan air terjun yang belum dimafaatkan secara optimal, dan masih banyak pula daerah terpencil di Indonesia yang belum terjangkau oleh aliran listrik (PLN) terutama untuk pos-pos TNI di daerah terpencil dan perbatasan.Sebagai alternatif pembangkit listrik dengan menggunakan diesel (PLTD) yang menggunakan bahan bakar minyak khususnya solar yang biaya operationalnya lebih besar dibanding PLTMH, disamping itu PLTMH juga ramah lingkungan.

            Bertitik tolak dari keadaan tersebut maka perlunya diadakan penelitian dan pengembangan tentang pemasangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang tentunya dengan bahan bakunya yang mudah didapat yaitu air, seperti saluran irigasi, sungai kecil yang ada didataran rendah, atau kepulauan yang tidak memiliki bukit-bukit tetapi air yang melimpah. Dalam hal ini PLTMH dengan menggunakan sistem cetak miring adalah dimana air tidak tertahan pada sebuah bendungan. Pada sistem cetak miring, sebagian air sungai diarahkan ke saluran pembawa kemudian dialirkan melalui pipa pesat (penstock) menuju turbin. Selepas dari turbin, air dikembalikan lagi kealiran semula, sehingga hal ini tidak banyak mempengaruhi lingkungan atau mengurangi air yang keperluan pertanian. Air akan dialirkan kedalam turbin melalui sudu-sudu runner yang akan memutarkan poros turbin. Putaran inilah yang akan memutarkan generator untuk menghasilkan energi listrik.
Belajar dari Negara Maju.
            Di negara laju seperti negara Belanda sumber daya alam telah lama di gunakan dengan mengunakan media angin yaitu kincir angin yang menggerakkan turbin sehingga akan menghasilkan listrik, maka tempat-tempat terpencil di sana sudah tidak lagi mengandalkan diesel atau alat lain yang menggunakan bahan bakar minyak sebagai sumber pembangkitnya. Selain di negara maju di negara vietnam telah mencoba sistem Pembangkit listrik Tenaga Mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah-daerah terpencil di negara itu. Vietnam merupakan negara yang berhasil mengembangkan turbin ukuran kecil yang dapat digunakan oleh penduduk dengan keterampilan yang minimal hingga berjumlah ribuan tersebar di pelosok desa. Di negara kita juga telah mencoba teknologi ini di daerah Jawa barat dan di daerah Sulawesi khususnya daerah yang banyak air terjun sebagai sumber tenaganya oleh karena itu teknologi ini perlu diterapkan juga pada satuan-satuan TNI didaerah terpencil dan daerah perbatasan yang jauh dari jangkauan aliran listrik sehingga dapat melepas ketergantungan terhadap bahan bakar minyak atau bahan tambang lainnya yang dapat sewaktu-waktu habis digunakan. Masih banyak lagi sumber daya alam yang lain yang belum dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) di Jaringan Irigasi
            Tujuan dari penerapan pembangkit listrik tenaga mikrohidro di jaringan irigasi adalah untuk menunjang pembangunan pedesaan melalui peningkatan taraf sosial-ekonomi masyarakat desa. Jaringan irigasi yang banyak dibangun di daerah pedesaan untuk menunjang pembangunan pertanian menyimpan potensi tenaga air yang cukup besar untuk dimanfaatkan bagi PLTM.
Penerapan pembangkit listrik tenaga mikrohidro di jaringan irigasi adalah untuk mengembangkan potensi tenaga air yang terdapat pada jaringan irigasi menjadi potensi tenaga listrik, dengan membuat pembangkit listrik tenaga mikrohidro pada bagian-bagian dari jaringan irigasi yang mempunyai potensi, dan menyalurkan tenaga listrik yang dihasilkan kepada masyarakat pemakai untuk dimanfaatkan bagi pengembangan potensi sosial-ekonomi desa (pendidikan, kesehatan, keluarga berencana, keagamaan, pertanian, peternakan, industri kecil/rumah, kerajinan, ketrampilan, perdagangan dan lain-lain).
PERSYARATAN TEKNIS
1.    Sistem pengelolaan jaringan irigasi cukup baik, sehingga pendistribusian air berlangsung secara teratur sepanjang tahun.
2.    Debit air yang diperlukan tersedia sepanjang tahun dan dapat dipenuhi oleh debit sungai rata-rata pada musim kemarau.
   3.    Tinggi terjun yang cukup, yang bersama-sama dengan debit aliran menghasilkan potensi tenaga air yang dinyatakan dengan
           daya sumber :    
Ps = r gQH
dimana :
Ps = daya sumber (W)
r = kerapatan massa air (kg/m3)
g = percepatan gravitasi (m/dt2)
            Q = debit aliran (m3/dt)
            H = tinggi terjun (m)
Potensi listrik tenaga mikrohidro dinyatakan dengan daya hasil :
Ph = ht Ps
            dimana :
            Ph = daya hasil (W)
            ht = effisiensi total PLTM (%)
4. Pembuatan PLTM tidak mengganggu sistem irigasi yang sudah ada, bahkan agar diusahakan adanya peningkatan/perbaikan.
5 PLTM menggunakan teknologi tepat guna agar pembuatan, pengoperasian dan pemeliharaannya dapat dilakukan dengan menggunakan tenaga kerja setempat.
PERSYARATAN SOSIO-EKONOMIS
1. Potensi listrik tenaga mikrohidro yang ada merupakan sumber daya yang dapat menunjang pembangunan pedesaan. Potensi sosial-ekonomi desa yang dapat dikembangkan dengan adanya PLTM cukup besar.
2.     Biaya pembuatan PLTM dapat ditanggulangi oleh usaha swadaya masyarakat, koperasi atau unit usaha swasta kecil dan menengah lainnya.
3.     Usaha kelistrikan dari PLTM secara ekonomi dapat dipertanggung jawabkan, dalam arti potensi konsumen yang ada dapat menyerap produksi listrik yang dihasilkan dengan harga jual yang ditetapkan berdasarkan prinsip-prinsip pengusahaan.
        Potensi sumber daya manusia yang ada dapat diharapkan untuk mengelola PLTM secara baik dan handal.

PENGKAJIAN PENERAPAN PLTM DI JARINGAN IRIGASI

Pengkajian aspek teknologi

1.     Evaluasi teknis potensi listrik tenaga mikrohidro di daerah irigasi.

2.     Penelitian laboratorium dengan model PLTM.

3.     Perencanaan dan pelakssanaan konstruksi prototipe PLTM di jaringan irigasi.

4.     Uji coba kapasitas prototipe PLTM.

5.     Uji coba kapasitas jaringan transmisi dan distribusi dari prototipe PLTM.

6.     Uji coba pengoperasian prototipe PLTM.

7.    Evaluasi teknis pengoperasian prototipe PLTM.

KESIMPULAN

Banyak sumber daya alam yang ada di negara kita belum dimanfaat secara optimal tidak seperti di negara maju yang sudah memanfaatkan sumber daya alamnya dengan baik seperti pembangkit listrik tenaga air padahal letak negara kita yang banyak sekali pegunungan yang tentunya banyak sekali air terjun yang melimpah, dan banyak daerah yang letaknya di dataran tinggi belum dijangkau aliaran listrik, dengan pembangkit listrk tenaga mikro hidro daerah tersebut akan mendapatkan aliran listrik yang tentunya dengan perawatan yang relatif mudah dan murah.

DAFTAR PUSTAKA
Sumber di ambil dari Brosur CV. Cihanjuang Inti Tehnik – Cimahi jawa barat

Selasa, 03 April 2012

MEWARISKAN BUMI UNTUK GENERASI MENDATANG

Setiap manusia adalah agen perubahan. Bersama kita bisa menciptakan masa depan yang kita inginkan 20 tahun yang akan datang.

Pesan ini adalah pesan utama yang ingin disampaikan kepada para pemimpin dunia dan berbagai komponen masyarakat yang akan terlibat dalam Konferensi Pembangunan Berkelanjutan atau Rio+20 yang akan diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brasil, pada 20-22 Juni nanti.

Dua puluh tahun setelah Rio menggelar “Earth Summit” pada 1992, Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali mengorganisir forum global yang akan membahas strategi yang perlu dilakukan jika dunia ingin mewariskan bumi yang layak ditinggali untuk generasi mendatang.

Di tengah perang dan perebutan sumber daya alam yang saat ini masih berlangsung di sejumlah negara, dunia harus menyelesaikan dua masalah penting yaitu masalah kemiskinan dan kerusakan lingkungan guna menciptakan masa depan yang berkelanjutan.

Jumlah penduduk dunia tahun ini telah mencapai 7 miliar. Jumlah ini akan melonjak menjadi 9 miliar penduduk pada 2050. Dan seperlima penduduk dunia – 1,4 miliar jiwa – saat ini masih hidup dengan pendapatan US$1,25 (Rp11.000) setiap hari bahkan kurang.

Sekitar 1,5 miliar penduduk dunia belum memiliki akses atas listrik dan 2,5 miliar penduduk lainnya tidak memiliki fasilitas sanitasi yang layak.

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, setiap hari, masih ada satu miliar penduduk dunia yang hidup kelaparan.

Gas rumah kaca terus meningkat dan lebih dari sepertiga spesies dunia akan musnah jika perubahan iklim dibiarkan tak terkontrol.

Earth Summit pada 1992 telah meletakkan dasar-dasar pembangunan yang berkelanjutan dengan mendorong negara untuk berpikir global dan beraksi secara lokal untuk mengatasi masalah perubahan iklim dan pemanasan global. Sejak saat itu solusi menuju terciptanya pembangunan yang berkelanjutan juga telah ditemukan. Solusi ini terkait cara kita membangun kota, menggunakan energi, air, pangan dan memerlakukan ekosistem.

Dunia harus beralih ke pola pembangunan yang lebih hijau, lebih ramah lingkungan sambil tetap berfokus mengatasi masalah kemiskinan.

Dunia dituntut untuk melindungi sumber daya laut dan ekosistemnya dari dampak perubahan iklim, eksploitasi dan kerusakan.

Menciptakan kota yang lebih layak untuk ditinggali dan lebih efisien juga menjadi salah satu kunci terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan.

Semua itu bisa diraih dengan beralih ke energi baru dan terbarukan yang bisa mengurangi emisi karbon secara signifikan, mengurangi polusi di dalam dan luar ruangan, tanpa melupakan tujuan utama pembanguan ekonomi yaitu kesejahteraan yang berkeadilan sosial.

Namun dunia belum sepenuhnya beralih ke sana. Landasan pembangunan berkelanjutan yang ada sejak Earth Summit belum diterapkan secara konsisten. Korupsi, persaingan bebas, keserakahan (greed) memicu eksploitasi sumber daya alam dan pola pembangunan yang tidak ramah lingkungan.

Jumat, 30 Maret 2012

MENGAPA MAHASISWA MENJADI PENTING DALAM PERUBAHAN SOSIAL?

Kurun 20 tahun terakhir seluruh wacana apapun yang hadir di negeri ini untuk menuntut perubahan sosial selalu disedot masuk wilayah politik. Setiap hari di media massa, di ruang publik, di jalan kita menyaksikan aneka pluralitas budaya dari kelompok terdominasi yang selama ini bersembunyi kini bermunculan. Keterbukaan telah membuat orang berpikir jika setiap identitas perlu diakui dan untuk itu harus dirayakan. Identitas perlawanan ini dapat mudah kita temukan dalam bentuk simbol-simbol penindasan.


Akibat dari tuntutan ini maka setiap perlawanan akan masuk dalam wilayah politis dimana tuntutan itu pada akhirnya terlepas dari teks dan konteksnya. Karena apa-apa yang disedot dalam wilayah politik akan dianggap mewakili suatu kepentingan dan belum tentu kepentingan bagi pihak lainnya.

Di titik ini setiap kritik maupun argument pembelaan antar kelompok baik yang menghegemoni (kekuasaan, pemerintah, otoritas keamanan, etc.) maupun yang terhegemoni (rakyat, mahasiswa, buruh, orang miskin, etc) –keduanya akan selalu terjebak dalam paradok identitas.

Seperti beberapa bulan lalu, ketika para petani Jambi menjahit mulutnya dan bertenda di gedung DPR; mereka memprotes tanah yang diambil perusahaan kelapa sawit. Teks menjahit mulut bukanlah suatu permainan, ia melibatkan unsur keseriusan, rasa sakit, dan pengorbanan; karena bagi petani ini mungkin satu-satunya cara merepresentasikan dari tidak mampu-nya lagi rakyat bersuara, juga bentuk keprihatinan karena suara mereka tidak lagi di dengar pemerintah dan parlemen. 

Namun justru di sinilah nasib sial petani, seluruh wacana yang dibawanya dalam wilayah politik perlawanan lewat tanda-tanda penindasan (dengan hidup di tenda-tenda, aksi puasa, dan menjahit mulut) jatuh dalam konteks yang berbeda alias paradok. Nyatanya publik (lewat kaca mata media massa) melihatnya hanya sekedar sebagai aksi-aksi teaterikal, suatu aksi dimana di dalamnya terdapat unsur fiksi, tidak benar-benar nyata, drama, dan hanyalah sandiwara sebagaimana aksi-aksi puasa, jahit mulut, atau bakar diri lainnya. Setelah satu bulan di gedung DPR tanpa tanda-tanda perhatian dari parlemen dan pemerintah, akhirnya tenda-tenda itu disinggirkirkan aparat satpam dan petani bubar jalan.

Sehingga dapat difahami mengapa perlawanan terhadap otoritas hegemonik oleh kelompok-kelompok terdominasi menjadi baal (kebas), dan segera berakhir tanpa rasa. Ini karena merujuk Allen J Scott dalam The Cultural Economy of Cities (1997) pada kenyataan: bahwa dalam kurun 50 tahun ke belakang kita terjebak dalam sistem kapitalis yang membentuk agglomerasi kantung-kantung ekonomi lengkap dengan pasar dan pusat-pusat kehidupannya.

Akibatnya fatal; tidak hanya barang konsumsi yang diduitin namun ruang pun dikomodifikasi; di kota tanah menjulang tinggi, penduduk asli terlempar ke tepian karena tak mampu beli apartemen dan kembali sebagai buruh atau pengemis. Dalam kurun itu pula kita melihat hutan-hutan dibuka agar punya nilai “produktif-ekonomis” lewat kebijakan pembiayaan raksasa, menggusur petani dari local wisdom, dan adatnya. Kehilangan tanah dan hancurnya pranata desa, membuat mereka terjebak agglomerasi kota-kota. 

Mereka jadi buruh pabrik, wiraniaga, atau sedikit untuk diangkat sebagai pegawai negeri dan menjadi bagian dari sistem kekuasaan baru. Agglomerasi ini yang membuat kekuatan kritik terhadap ketidakadilan dalam ruang publik perlahan sirna, karena masing-masing orang sibuk dengan mengurus dirinya dan memperjuangkan nasib-nasib dalam struktur kota. 

Di antara mereka akan lahir kelas menengah -orang-orang yang sedikit beruntung karena pintar, rajin, atau pandai menipu. Orang-orang ini menganggap ketidakadilan yang terjadi disekitar mereka bukanlah bagian dari hegemoni, karena jika mereka bisa sukses kenapa yang lain tidak. Gejala korupsi pemikiran ini, lanjut Scott adalah ketundukan mereka dalam struktur kelas-kelas socialita dari agglomerasi kota yang memang sengaja diciptakan. Mereka merasa hidupnya sudah sejahtera karena bergaji ,mampu kredit mobil, bergabung dengan klub-klub sosial, tinggal di properti kawasan elit. Sementara orang-orang yang tidak seberuntung mereka itu karena nasibnya belum jadi orang kaya. 

Akibatnya kesadaran oposisi dari mereka melemah dan terjebak dalam dualitis oposisi. Di satu sisi mereka masuk ke wilayah perjuangan menegakkan nilai-nilai universal (hak hidup, hak usaha, hak dilindungi) namun di sisi lain mereka mengidentifikasi diri dalam semangat self-interest –nilai-nilai personal: hak makan, hak ingin senang-senang, hak bersosialita dalam kelompok-kelompoknya.

Mereka berteriak gelisah akibat kemacetan tetap justru mobil mereka penyebabnya, mereka menuntut taman kota dan perbaikan fasilitas umum, tetapi malah mereka yang meramaikan mall-mall dan menciptakan sampah teknologi. Sewaktu pemerintahnya menjerit dibebani subsidi ,tetapi pemerintahnya juga yang menghabiskan anggaran bagi pengadaan fasilitas mobil pejabat.

Di tengah paradok silang argumentasi ini, maka agglomerasi kota hanya meninggalkan satu kelas dan struktur perlawanan yang tersisa; yaitu kelas pelajar-mahasiswa. Mereka bukanlah kelas menengah tetapi juga bukan kelas bawah. Mereka adalah orang-orang yang terseleksi dari jutaan rakyat yang sial tidak mampu melanjutkan sekolah akibat kemiskinan. Di sisi lain mereka tidak terikat dengan kapitalisasi penggajian yang diciptakan struktur kota. Sehingga ketika mereka bersuara menyampaikan penderitaan rakyat, kesulitan ibu-ibu menyiasati uang belanja yg sudah sedikit, atau keluhan tukang ojeg yang bingung dengan kenaikan BBM maka kita masih dapat melihat suatu ketulusan karena mereka bergerak bukan karena alasan profit kapital.

Di sinilah, di dalam struktur negeri yang pelan-pelan berubah menjadi kota (urbanizing) dan hilangnya ikatan-ikatan kepedulian seperti halnya kehidupan desa tergantikan politik-ekonomi transaksional, maka keberadaan kelas pelajar-mahasiswa ini tinggal menjadi satu-satunya mediator sosial yang masih dapat diharapkan mendorong kepada perubahan-perubahan agar negeri ini menjadi lebih baik.

Senin, 05 Maret 2012

DUNIA BERALIH KE ENERGI TERBARUKAN


Upaya untuk beralih ke energi ramah alam terus menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terungkap dalam laporan Program Lingkungan PBB berjudul Keeping track of our changing environment – From Rio to Rio+20 (1992-2012).

Investasi bahan bakar dan energi terbarukan mencetak rekor baru naik 32% dari US$160 miliar pada 2009 menjadi US$ 211 miliar pada 2010. Nilai ini meningkat lima setengah kali lipat dibanding investasi pada 2004.

Dan untuk pertama kalinya, negara berkembang melampaui negara maju dalam investasi proyek energi terbarukan ini.  
Potensi pertumbuhan energi terbarukan masih sangat besar. Saat ini sumber energi terbarukan termasuk biomassa (biomass) baru menyumbang 13% pasokan energi dunia pada 2008.

Biomassa adalah bahan-bahan yang berasal dari limbah tanaman dan hewan yang digunakan untuk sumber energi seperti daun dan kayu untuk memasak dan memanaskan ruangan. Porsi energi terbarukan ini terus meningkat menjadi 16% pada 2010.

Minyak, batu bara dan gas masih mendominasi produksi energi untuk transportasi, industri, pemanas, kelistrikan dan pembakaran lain.

Sumbangan ketiga sumber energi tersebut mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir, sehingga komposisinya mencapai 80%.

Sementara porsi energi terbarukan masih tertinggal. Biomassa masih menjadi sumber energi terbarukan utama (10%), terutama di negara berkembang yang penduduknya sebagian besar masih menggunakan limbah tanaman dan hewan untuk memasak dan pemanas.

Saat unsur biomassa dikeluarkan dari komposisi energi terbarukan, maka sumbangan energi terbarukan yang lain seperti matahari, air dan angin hanya 3-6% dari total energi dunia.

Namun seiring dengan semakin kompetitifnya harga energi terbarukan, produksi dan instalasi energi terbarukan seperti panel surya terus meningkat.

Produksi biofuel yang terus meningkat dalam dua puluh tahun terakhir juga membawa peluang sekaligus tantangan bagi lingkungan dan kondisi sosial.

Biofuel disebut-sebut sebagai pengganti ideal bahan bakar fossil. Brasil adalah negara yang telah menggunakan biofuel ini secara luas. Konsumsi biofuel di Brasil naik 20% setiap tahun dan mencapai angka 30 juta ton setara minyak pada 2009.

Namun tren penggunaan biofuel menimbulkan kekhawatiran terkait penggunaan dan peralihan lahan untuk memroduksi biofuel.

Alih guna lahan mengancam keberadaan makhluk hidup di sekitarnya dan mengancam ketersediaan air yang pada akhirnya mengancam keamanan pangan penduduk.

Indonesia bersyukur masih diberi sumber daya alam yang melimbah. Sumber energi yang belum tergali masih sangat besar.

Jumlah simpanan gas alam yang relatif lebih bersih dibanding batu bara dan minyak bumi, mampu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri hingga puluhan tahun lamanya.

Belum lagi potensi energi panas bumi, tenaga surya dan potensi pembangkit listrik mikro bertenaga air yang belum diangkat.

Yang diperlukan adalah komitmen bersama untuk beralih ke energi hijau, energi yang ramah lingkungan dengan terlebih dahulu memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada.

Tanpanya Indonesia akan terus bergantung pada impor bahan bakar fosil dari negara lain. Pemerintah harus membangun infrastruktur untuk membantu peralihan ke energi ramah lingkungan.

Dan masyarakat pelan tapi pasti harus diberikan pencerahan atas manfaat energi terbarukan. Dengannya kita bisa mandiri dan beralih ke konsep ekonomi hijau dengan lebih cepat.

Senin, 20 Februari 2012

UMUR BARU, SEMANGAT TERBAHARUKAN

Hari ini, aku tidak berhenti bersyukur kepada Allah SWT, tepat hari ini aku menginjakkan langkah baru dalam hidupku, sebuah langkah yang hanya bisa aku jejaki satu kali. Langkah yang tidak akan bisa aku tarik mundur ke belakang ataupu aku percepat. Sebuah langkah yang harus aku jalani dengan alamiah.

Ya Allah, ya Rabb... Terimakasih aku telah diberi kesempatan menginjakkan umur ke-27. Sebuah langkah menuju kematangan jiwa dan kedewasaan, aku menyadari bahwa masih banyak yang belum selesai aku kerjakan dalam hidup ini, sebuah langkah yang masih panjang untuk menjadi Insan Kamil, manusia yang lebih baik dalam Itjihad ku untuk terus berjuang dijalan Mu.

Ya Allah, ya Rabb.. Kuatkanlah aku dalam menjalani kehidupan ini, jadikan aku makhluk Mu yang selalu Istiqomah, selalu merendah dan mencoba jadi jiwa dimanapun aku berada.

Usia ini tidak akan berarti apa-apa bila amal kebajikan yang aku kumpulkan masih belum seberapa...
Amin Ya Rabb

Sabtu, 21 Januari 2012

MEMBANGUN BUDAYA DAN EKONOMI RAMAH LINGKUNGAN

Budaya dan gaya hidup – walau masih sering dilupakan – memiliki peran penting untuk mengatasi masalah lingkungan. Laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebutkan, setidaknya ada tiga komponen dalam budaya masyarakat dunia yang memiliki dampak penting pada masyarakat dan lingkungan. Ketiga komponen itu adalah mobilitas penduduk, kebiasaan masyarakat di rumah dan pola konsumsi makanan.

Kemacetan Ibukota
Pada komponen pertama, mobilitas penduduk, alat transportasi umum dan pribadi saat ini mengonsumsi 20% pasokan energi dunia dan sebanyak 80% diantaranya menggunakan energi berbahan bakar fosil. Jumlah kendaraan di dunia akan melonjak tiga kali lipat pada 2050, dari jumlah saat ini yang 700 juta kendaraan. Sebanyak 90% pertumbuhan kendaraan ini datang dari negara-negara di luar anggota OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan).


Rumah Tidak Ramah Lingkungan
Di rumah, kebiasaan kita menggunakan alat pendingin/pemanas ruangan serta penerangan, juga menyedot energi dan memroduksi gas rumah kaca dalam jumlah besar. Pola konsumsi generasi muda perkotaan di negara berkembang juga menambah kebutuhan pangan dan beban lingkungan yang selama ini telah tereksploitasi oleh penduduk di 34 negara OECD.

Dan saat kota-kota dunia mulai mencari solusi yang ramah alam atas masalah-masalah di perkotaan, mereka dianjurkan untuk menengok kembali pada budaya dan kearifan lokal yang banyak ditemui di wilayah-wilayah pedesaan. Masyarakat di pedesaan tetap bisa beraktifitas tanpa membutuhkan banyak energi. Mereka juga bisa mengelola lahan dan sumber daya alam, mengurangi sampah dan menjaga kelestarian lingkungan.

Budaya dan gaya hidup masyarakat juga bisa menciptakan lapangan kerja baru terutama bagi penduduk yang tidak mampu. Menurut laporan Unesco yang diterbitkan tahun lalu, nilai industri budaya ini mencapai 7% dari Produk Domestik Bruto Global.

Di Mali, misalnya, industri budaya berhasil menyumbang 5,8% lapangan kerja pada 2004 dan 2,38% PDB negara itu pada 2006. Jika ditambah dengan sektor informal, sumbangan dua sektor tersebut ke PDB nasional mencapai 57%. Mali memperoleh pendapatan dari kunjungan wisata ke berbagai situs budaya yang masuk dalam kategori situs warisan dunia Unesco (world heritage sites).


Hal yang sama juga terjadi di banyak wilayah lain seperti di Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Indonesia. Penduduk memeroleh pemasukan dari penjualan kerajinan tangan, pentas musik dan budaya yang menjadi sumber lapangan kerja bagi komunitas lokal. 

Museum dan lembaga-lembaga budaya lain juga bisa membawa manfaat ekonomi. Untuk itu semua pihak perlu menjaga warisan budaya dan berinvestasi untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur.

Semua uraian di atas membuktikan, aset budaya bisa memicu berkembangnya industri kreatif yang akan menjadi sumber lapangan kerja yang ramah alam. Dengan bantuan dana dan pelatihan, para perancang dan perajin bisa mengembangkan usaha yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan baku dan energi yang ramah alam.

Perkembangan ini bisa semakin dipercepat dengan menyediakan infrastruktur informasi dan teknologi yang akan membantu industri kreatif berbasis budaya ini menemukan pasar lokal maupun global.


Sabtu, 07 Januari 2012

ENERGI PRODUKTIF: KUNCI PERANGI KEMISKINAN

Memberikan akses ke energi modern saja tidak cukup. Yang diperlukan adalah program energi produktif yang bisa mengentaskan kemiskinan.

Hal ini bisa diwujudkan dengan menggabungkan program yang membuka akses ke energi modern – untuk memasak, sistem pemanas dan kebutuhan listrik – dengan program produktif yang akan bisa menjadi sumber penghasilan, meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat, terutama masyarakat miskin.

Menurut penelitian Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diterbitkan Kamis (19 Januari 2012), solusi seperti ini akan menjadi solusi energi terbaik di Asia Pasifik.

Kesimpulan tersebut didukung oleh laporan Program Pembangunan PBB (UNDP) yang menyebutkan bahwa tidak akan pembangunan tanpa energi. Dan masalah kemiskinan, tidak akan bisa diatasi tanpa memerhatikan kebutuhan akan layanan energi yang produktif.

Penelitian yang berjudul “Towards an ‘Energy Plus’ Approach for the Poor” ini meneliti 17 proyek energi di seluruh wilayah Asia-Pasifik guna mengetahui proyek mana yang berhasil dan tidak.

Saat ini, hampir separuh dari populasi dunia kekurangan akses ke energi modern. Dan lebih dari 20% dari populasi global atau sekitar 1,4 miliar penduduk tidak memiliki akses ke energi sama sekali.

Diperkirakan, 2,7 miliar penduduk – 40% dari populasi dunia – masih menggantungkan sumber energinya dari kayu, arang atau kotoran ternak untuk memasak atau pemanas.

Jika tidak dicegah, pada 2030, polusi udara dalam ruang yang dihasilkan oleh sumber energi yang tidak efisien tersebut akan menyebabkan 1,5 juta kematian setiap tahun.

Menurut UNDP, kurangnya akses energi dan dampaknya terhadap kesehatan, pendidikan dan pendapatan akan terus membentuk lingkaran setan dan menjadi penyebab kemiskinan kronis.

Sebagian besar proyek energi yang ada sekarang hanya menggunakan pendekatan minimalis dengan hanya berfokus pada upaya menyediakan penerangan rumah tangga, energi untuk memasak dan sistem pemanas.

Program energi seperti ini, menurut laporan PBB, tidak akan berhasil mengentaskan kemiskinan. Program tersebut hanya akan mengubah status masyarakat miskin dari tidak memiliki akses energi menjadi memiliki akses energi.

Diperlukan program energi produktif yang bisa menciptakan peluang untuk memerbaiki ekonomi masyarakat miskin.

Perubahan pendekatan ini sangat penting. Akses ke energi modern harus disertai dengan program pemberdayaan masyarakat yang bisa memanfaatkan energi untuk kegiatan produktif guna memperbaiki ekonomi keluarga.

Program energi yang disertai dengan program kewirausahaan adalah salah satu contohnya. Tanpanya, masyarakat miskin akan terus tergantung pada bantuan atau subsidi pemerintah.

Program yang semata-mata memberikan akses ke energi modern juga akan menghambat perkembangan jaringan energi modern dan sulit 

Minggu, 01 Januari 2012

SELAMAT DATANG 2012

Tahun 2011 dengan segala hiruk pikuknya telah berlalu meninggalkan kita semua, tahun yang penuh dengan pergulatan seru tentang kondisi politik bangsa ini, tahun yang penuh dengan cerita akan rasa ketidak adilan yang dirasakan masyarakat di berbagai daerah. Tahun dimana teriakan mahasiswa semakin menuju kepada rasa frustasi yang ekstrim, membakar dirinya sendiri didepan Istana Negara.  Tahun dimana Pilkada di beberapa daerah menjadi ajang perang terbuka antar warga.

Tahun 2011 juga menyisakan cerita mengenai gejolak di berbagai penjuru dunia, perang saudara yang terjadi di Libya, pembunuhan Tokoh yang paling dicari Amerika Serikat Osama Bin Laden, Krisis keuangan di Yunani yang kini juga merambah negara-negara di sekitarnya. Tahun dimana negara tetangga terlibat sengketa yang berujung pada pengerahan kekuatan militer seperti antara Thailand-Kamboja, antara Vietnam-China, dan tidak lepas juga konflik Malaysia dengan Indonesia.

Ditengah kisruh dan rusuh yang ada, Pemerintah merasa Jumawa dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus merangkak naik, hingga ditutup pada akhir Desember 2012 naik menjadi 6,7%, sebuah angka capaian tertinggi semenjak Indonesia didera Krisis Moneter pada tahun 1997. Pemerintah dan rakyat juga bangga dengan pencapaian Tim Indonesia menjadi Juara Umum Sea Games 2011 di Palembang-Jakarta yang penuh dengan tangis haru setelah belasan tahun absen merasakan menjadi Juara Umum. Pemuda Indonesia juga telah berhasil menghasilkan Kongres Bersama pasca dualisme di tubuh KNPI.

Kini pihak yang merasa kinerjanya berbuah hasil pantas merasa bangga, sedangkan pihak oposisi yang terganggu dengan capaian-capaian tadi tentu akan menyiapkan issu-issu, statemen-statemen, dan gangguan-gangguan lainnya kepada penyelenggara negara ini di tahun 2012.

Tidak bisa dipungkiri bahwa tahun 2012 akan menjadi tahun peralihan politik bangsa ini yang sangat menentukan, di tahun ini membangun politik pencitraan masih dirasa wajar dan belum akan terlalu dipandang politis oleh masyarakat, tentu hal yang berbeda bila sudah memasuki tahun 2013 apalagi 2014 yang tentu nuansa politiknya sangat kuat.

Sebagai generasi muda, saatnya kita memandang optimis tahun 2012 ini, waktunya kaum muda membuktikan dirinya telah pantas memegang estafet kepemimpinan melanjutkan kaum pendahulunya. Mari terus siapkan diri kita, dengan mematangkan semua potensi diri yang kita punya.

Selamat Datang Tahun 2012.

Rabu, 28 Desember 2011

PESONA AYAMARU

".....gunung-gunung, lembah-lembah, yang penuh misteri, yang ku puja slalu, keindahan alam mu yang mempesona, sungaimu yang deras mengalirkan emas, sio ya Tuhan, trima kasih....."
(Tanah Papua, Trio Ambisi)
Saya Berfoto Di Tepi Danau Ayamaru


Mungkin diantara kita belum banyak yang mendengar tentang danau Ayamaru, lain halnya dengan masyarakat di Papua, danau ini sudah terkenal hingga ke pelosok pedalaman disana. Merupakan salah satu danau yang terbesar di tanah Papua. Terletak di distrik Ayamaru, kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat. Danau ini terletak sekitar 220 KM dari Kota Sorong dengan akses transportasi darat yang sangat terbatas. Danau ini menjadi sentral peradaban dan kehidupan masyarakat suku Maybrat yang mendiami wilayah ini.
      

Saya beruntung dapat mengunjungi danau ini, bersama dengan rombongan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Bapak Prof.DR.Balthasar Kambuaya, MBA dan keluarganya yang kebetulan daerah ini juga merupakan kampung halaman beliau. Kunjungan ini merupakan agenda resmi Pak Bert Kambuaya sebagai Raja di daerahnya, sekaligus kunjungan pertama beliau ke kampung halaman pasca dilantik menjadi Menteri. Tentu saja kunjungan ini menjadi sangat spesial untuk beliau, keluarganya dan masyarakat di Papua khususnya kampung halamannya.

Penyambutan Masyarakat terhadap Raja Bert Kambuaya
Kami menempuh perjalanan panjang untuk bisa sampai didaerah ini, dari Jakarta kami berangkat menuju Sorong dengan lama waktu sekitar lima jam, dengan transit di Makassar selama 25 menit, setibanya di Sorong kami masih harus melanjutkan perjalanan selama 40 menit menggunakan pesawat Twin Otter milik Merpati Airlines menuju Bandara Kambuaya, di Kabupaten Maybrat. 

Dari udara terlihat jelas gunung-gunung dan lembah-lembah yang penuh misteri, seperti lagu yang dipopulerkan oleh Trio Ambisi tersebut. Sungguh keindahan alam yang tidak akan kita temui di daerah Jawa yang sudah padat penduduknya.

Saat tiba di Bandara Kambuaya, ratusan masyarakat sudah menyambut kedatangan kami, upacara adat dan tarian khas ayamaru meniringi kami sepanjang perjalanan hingga sampai ke rumah kediaman Bapak Raja di Kampung Kambuaya. 

Ada sesuatu yang unik saat saya berdiskusi dengan masyarakat mengenai Bandara Kambuaya ini. Pada saat zaman pendudukan Belanda di Papua, ayah dari Bapak Bert Kambuaya, yaitu Bapak Abraham Kambuaya (Alm) merupakan orang yang memiliki inisiatif untuk membangun Bandara di kampungya. Sesuatu yang tidak lazim dilakukan oleh masyarakat asli papua pada zaman itu. Beliau terinspirasi ketika dipekerjakan sebagai pekerja Kilang Minyak di daerah Teluk Bintuni. Disana beliau melihat bahwa Transportasi Udara lah yang bisa membuat daerah yang terisolir menjadi terbuka sehingga masyarakat bisa mendapat pendidikan dan ajaran agama yang baik.

Dengan semangat tinggi beliau mengajak masyarakat bergotong royong untuk membangun bandara dengan peralatan seadanya, usaha ini berbuah hasil hingga pesawat dapat mendarat pada pertengahan 90'an. Hingga kini Bandara ini acap digunakan sebagai bandara perintis untuk mengangkut kebutuhan pokok dan manusia dari dan menuju Maybrat.

Suasana Natal Di GKI Silo Kambuaya
 Saya pun juga sempat melihat bagaimana suasana perayaan Natal di daerah ini, mayoritas penduduknya adalah penganut agama Kristen Protestan, hampir 95% menurut salah satu masyarakat disana. Kalo dia penduduk asli Ayamaru, pasti penganut Kristen Protestan, kalo ada agama lain itu pastilah pendatang diwilayah ini, demikian menurut salah satu masyarakat yang saya tanya. Mereka hidup rukun dan sangat menghargai penganut agama dan etnis lain, ini terbukti dari Tenaga Medis Dokter PTT dan guru sekolah yang sering datang dari luar Papua, sangat dihormati dan dilindungi. 


Mereka juga kerap mengumpulkan hasil panen dari ternak, ikan, sayuran, kebun, dan lain-lain mereka berikan kepada tenaga medis dan guru sekolah itu. Karna mereka menyadari, bila para tenaga medis dan guru ini betah tinggal dikampung mereka, maka kehidupan mereka akan dapat lebih maju dan sehat.

Kini masyarakat di sekitar danau Ayamaru, Maybrat ini merasakan dampak postif dari tradisi menghormati guru, misionaris, pendeta, dan dokter yang datang ke wilayah mereka. Dibandingkan dengan masyarakat suku lain di Papua, orang-orang dari daerah ayamaru terkenal sebagai Orang Papua yang pintar, berpendidikan, disiplin, pekerja keras, dan memiliki kelebihan lainnya. Menurut salah seorang masyarakat, bahwa Orang Ayamaru sudah tersebar di seluruh tanah Papua, ada yang menjadi PNS, Pegawai Swasta, Pengusaha, Atlet, dan Politikus. Rata-rata orang Ayamaru menduduki pos-pos strategis ditempat mereka berada, banyak juga yang menjadi Bupati, Walikota, Sekda Kabupaten/Kota, Kepala Dinas, Kepala Biro, Kepala Bagian, dan lain-lain.

Inilah perjalanan saya di Ayamaru yang sangat berkesan, saya bisa menyimpulkan bahwa memang Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu merubahnya sendiri. Semoga bangsa kita bisa meneladani salah satu pesona di wilayah Papua yang sangat terisolir ini, namun memiliki Human Resources unggulan.


Minggu, 04 Desember 2011

AL-HAKAM, YANG MENETAPKAN HUKUM



“Maka patutkah aku mencari hukum selain daripada Allah, padahal Dialah yang menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci?” (Al-An’am: 114)

Al-Hakam berasal dari akar kata ha-ka-ma. Dari akar kata itu bisa berubah menjadi haakim dan hukm. Semua kata yang berasal dari pengembangan akar kata ha-ka-ma mempunyai makna yang sama, yaitu menghalangi. Itulah sebabnya, hukum dapat diartikan sebagai perangkat yang dapat menghalangi atau membatasi seseorang atau sekelompok orang dari tindakan yang melanggar.

Pengertian pertama Al-Hakam adalah bahwa Allah-lah yang Maha Memutuskan dan Menetapkan semua perkara. Segala yang terjadi di kolong langit dan di atas bumi adalah ketetapan-Nya. Kapan selembar daun mengering, kapan terlepas dari tangkainya, dan kapan pula jatuhnya ke bumi, Dia-lah yang menetapkan. Tiada Tuhan selain Allah, yang menetapkan segala sesuatu berdasar hukum-Nya.

Pengertian kedua, melalui Asma-Nya ini Allah menetapkan bahwa setiap individu manusia akan memperoleh apa yang telah diusahakannya. Setiap individu menanggung sendiri dosa dan pahalanya. Anak tidak menanggung dosa bapaknya, demikian juga sebaliknya. Islam tidak mengenal dosa warisan, sebagaimana firman-Nya: “Dan bahwa setiap manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusakannya, dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepada-nya).” (An-Najm: 39-40).

Pengertian ketiga, sebagai Al-Hakam, Allah telah menetapkan kepastian hukum bagi hamba-Nya. Bagi yang berbakti akan diganjar dengan kebahagiaan, sebaliknya bagi yang durhaka akan dihukum dengan kesengsaraan. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yanag penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (Al-Infithar: 13 dan 14)

Pengertian keempat, Allah adalah Hakim Agung. Sebagai Hakim Agung, Allah tidak membutuhkan sesuatu, malah sebaliknya segala sesuatu membutuhkan-Nya. Dia tidak bisa dirayu, disogok, dan disuap. Di pengadilan Allah, semua perkara diputus dengan seadil-adilnya. Semua alat bukti dapat dihadirkan, bahkan Allah sendiri yang akan menjadi saksinya. Jangankan perbuatan yang terlihat, niat yang tersembunyi sekalipun dapat dilihat Allah swt. Di hadapan Allah, mana mungkin kita mengingkari atau sekadar menyembunyikannya?

Pengertian kelima, setiap keputusan yang keluar dari-Nya pastilah merupakan keputusan dan adil dan bijaksana. Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya, tapi hamba-Nya lah yang berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri. Apa pun keputusan-Nya harus kita terima. “Boleh jadi sesuatu yang tidak kamu sukai menjadi lebih baik bagi kamu, dan bisa jadi apa yang kamu sukai itu menjadi jelek bagi kamu.” (Al-Baqarah: 216)

Sebagai hambanya Al-Hakam, kita hanya boleh berbaik sangka terhadap apa yang telah diputuskan kepada kita sampai saat ini, juga terhadap apa yang akan diputuskan kelak pada kita di akherat nanti. Kita rela dan bersyukur atas keputusanNya di dunia ini, dan kita senantiasa berharap keputusan terbaik buat kita di akherat kelak.

(Hamim Thohari)

Sabtu, 03 Desember 2011

AL-KHABIR, YANG MAHA MENGETAHUI



"Dia tak tercapai oleh segala indera, tetapi Dia mencapai segala indera. Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An’am: 103)
Al-Khabir berasal dari akar kata kha-ba-ra, yang maknanya berkisar pada dua hal, yaitu pengetahuan dan kelemahlembutan. Dalam Al-Qur’an, kata ini dipakai sebanyak 55 kali. Ada yang berdiri sendiri, tapi lebih banyak lagi yang digandengkan dengan Asma’ul Husna yang lain, seperti Al-Hakiim al-Khabiir, Al-Lathiif al-Khabiir, Al-Khabiir al-Bashiir, dan Al-Aliim al-Khabiir.

Dalam Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama RI, antara Al-Alim dengan Al-Khabir itu terjemahannya sama, yaitu Yang Maha Mengetahui. Padahal, keduanya mempunyai perbedaan arti yang signifikan. Al-Alim mencakup pengetahuan Allah tentang sesuatu dari sisi-Nya, sementara Al-Khabir adalah pengetahuan-Nya yang menjangkau sesuatu yang diketahui. Jika yang pertama (Al-Alim) tekanannya lebih kepada yang mengetahui, sedang pada yang kedua (Al-Khabir) justru yang menjadi titik tekannya adalah sesuatu yang diketahui.

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang ajal, sesuatu yang sangat rahasia, di mana manusia tidak bisa mengetahui secara pasti, maka rangkaian sifat Allah yang digunakan untuk memperjelasnya adalah Al-Aliim al-Khabiir, sebagaimana ayat berikut ini: “Tidak seorangpun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34).

Demikian juga ketika membahas tentang kualitas kemuliaan dan ketaqwaan seseorang, yang hanya Dia yang mengetahuinya, Al-Qur’an menggunakan rangkaian Al-Alii al-Khabiir, seperti ayat berikut: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat: 13).

Lain halnya ketika al-Qur’an berbicara tentang hak prerogatif Allah, berupa rahmat atau adzab, rangkaian kata yaang dipakai adalah Al-Hakiim al-Khabiir, seperti ayat berikut: “Barangsiapa yang dijauhkan adzab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Allah menimpakan suatu?kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 16-18).

Rangkaian kata yang sama digunakan Al-Qur’an ketika berbicara tentang rincian perilaku makhluq-Nya yang menyimpang maupun yang lurus. Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah, yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi; bagi-Nya segala puji di akherat. Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dia mengetahui apa yang merasuk ke dalam bumi dan apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana.” (QS. Saba: 1-2).

Pasangan lainnya adalah Al-Lathiif al-Khabiir. Pasangan ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat rahasia, sehingga indera biasa tak bakal mengetahuinya. Allah berfirman: “Dia tak tercapai oleh segala indera, tetapi ia mencapai segala indera. Dia Maha Halus dan Maha Mengetahui. (QS. Al-An’am: 103).

Rangkaian terakhir adalah Al-Khabiir al-Bashiir, yang dipakai al-Qur’an untuk menggambarkan pe­ngetahuan Allah tentang segala kebutuhan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman: “Sekiranya Allah me­lapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat semaunya di muka bumi. Tetapi Dia menurunkannya sesuai dengan ukuran yang di­kehendaki-Nya; terhadap hamba-hamba-Nya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat.” (QS. Syuura: 27).

Tiada daun kering yang jatuh dari tangkainya, kemudian ditiup angin sehingga di bumi mana jatuhnya, kecuali Dia mengetahuinya. Tiada semut hitam yang berjalan di batu hitam di malam yang kelam, kecuali Dia pula yang mengetahuinya. Kedipan mata, degupan jantung, dan kehendak dalam hati, diketahui-Nya pula. Lalu ke mana kita bisa menghindar dari pantauan-Nya? 

(Hamim Thohari)