SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Blog Pribadi Atma Winata Nawawi

Sabtu, 30 Maret 2013

SAPI DAN KEHORMATAN LELAKI

Di kandang-kandang yang terasing, sapi-sapi istimewa dipelihara secara istimewa pula. Mereka dilayani dan dijaga laksana raja. Ketika waktunya tiba, sapi-sapi itu disembelih demi mengangkat kehormatan laki-laki di mata istri. Empat bulan terakhir, Isya (62) tidak tidur serumah dengan istrinya, tetapi dengan sekawanan sapi. Tempatnya di sebuah kandang yang tersembunyi di antara semak dan rerimbunan pohon ratusan meter dari Gampong Lam U, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Suatu pagi pada pertengahan Februari, Isya baru saja bangun tidur. Rambutnya masih acak-acakan. Ia tersenyum menyambut kedatangan empat tamunya.

Isya menyilakan kami untuk melihat peraduannya berupa dipan bambu di pojok kandang. Tiga sapi jantan menempati ruangan lebih besar seolah menunjukkan siapa tuan rumah kandang itu. Udara di dalam kandang dipenuhi bau kotoran sapi dan asap perapian yang menusuk tajam. Di tempat itulah, hingga empat bulan ke depan, Isya bakal melewatkan hari bersama sapi-sapi meugang yang dititipkan kepadanya.

Sapi meugang adalah sapi jantan pilihan yang dipersiapkan untuk dipotong pada saat meugang, yaitu tradisi menyambut awal Ramadhan yang biasa digelar orang Aceh. Sejumlah catatan lama, misalnya dalam The Achehnese (Snouck Hurgronje, 1906) dan Adat Aceh dari Satu Manuscript India Office Library (Banda Aceh, PLPIS, 1976), menyebutkan, meugang menjadi perayaan utama di Aceh selain peringatan malam Lailatulkadar, Idul Fitri, dan Idul Adha pada abad ke-17. Pada hari itu, masyarakat Aceh akan memborong daging sapi dan mengolahnya jadi aneka masakan lezat.

Tidak diumbar

Sejak memasuki awal musim memelihara sapi meugang, kehidupan Isya berputar di seputar kandang. Ia hanya meninggalkan kandang ketika shalat di meunasah (mushala) dan menonton pertandingan sepak bola di televisi di sebuah kedai kopi. Saat ia pergi, Fadly (38), kerabat Isya yang juga pemelihara sapi, menggantikan tugasnya. Begitu juga sebaliknya.

Buat Isya, pekerjaan menjaga sesuatu yang dianggap istimewa sudah biasa ia lakukan. Laki-laki murah senyum yang mengaku pensiunan tentara itu mengatakan, ”Dulu tugas saya menjaga anak pejabat tinggi, sekarang menjaga sapi, ha-ha-ha.”

Fadly juga telah cukup lama menjalani pekerjaan itu. Sedari kecil, dia menemani ayahnya yang juga pemelihara sapi meugang. Pekerjaannya sebagai pemelihara sapi sempat terhenti selama konflik bersenjata melanda Aceh tahun 2003-2005. Fadly memilih menyingkir ke Bandung, Jawa Barat, dan kembali lagi setelah konflik reda.

Kembali ke kampungnya berarti kembali ke lembah di pinggir Gampong Lam U, tempat memelihara sapi meugang. Lembah itu ibarat kampung sapi meugang. Puluhan kandang sapi berderet. Jarak antarkandang sekitar 500 meter dipisahkan rimbun rumput gajah dan pohon pisang.

Sebagaimana pemeliharanya, kehidupan sapi meugang juga terasing dari dunia luar. Mereka tidak bisa berkeliaran dan berbaring di jalan raya seperti kawanan sapi lain di seantero Aceh. Ruang hidup sapi-sapi itu praktis hanyalah kandang seukuran tubuh yang terlindung dari paparan matahari dan hujan. Hanya sebulan sekali sapi-sapi itu keluar kandang ketika dimandikan. ”Sapi-sapi itu tidak boleh diumbar seperti sapi-sapi biasa. Mereka tidak boleh banyak bergerak,” ujar Isya.

Ya, tugas utama sapi itu pada masa pengasingan hanya satu: menumpuk daging sebanyak mungkin. Barangkali sama dengan tugas yang diemban sapi kobe, Jepang, yang terkenal dengan daging wagyu-nya. Bedanya, sapi meugang di Aceh tidak dipijat dan tidak diberi minuman sake.
Namun, sama seperti sapi kobe, sapi meugang diperlakukan bak raja. Setiap hari, pemeliharanya memberikan bertumpuk-tumpuk pakan istimewa, mulai dari rumput gajah, sukun, dedak dan garam, nanas, hingga hati batang pisang. Secara rutin, sapi-sapi itu pun dicekoki dengan jamu yang terdiri dari lengkuas, bunga kecombrang, sejenis jeruk lokal, dan cuka. ”Agar sapi tidak masuk angin dan doyan makan,” kata Fadly.
Bahkan, para pemelihara juga menjaga sapi-sapi itu dari gigitan serangga dengan membakar ranting-ranting dan dedaunan yang mengeluarkan asap. ”Prinsipnya yang boleh digigit serangga hanya penjaga, sapinya tidak boleh,” tutur Isya.

Dengan teknik memelihara yang ketat seperti itu, Fadly mengklaim berat sapi bertambah cepat dan harganya pun melejit. ”Sapi ini saya beli empat bulan lalu Rp 18 juta, sekarang harganya sudah Rp 23 juta. Empat bulan lagi saat meugang bisa Rp 30-an juta,” ujar Fadly.

Gengsi laki-laki

Ketika meugang tiba, sapi-sapi itu digiring ke Pasar Hewan Sibreh di Aceh Besar untuk dinilai berat dan harganya oleh para pedagang sapi. Dalam satu tatapan mata, pedagang sapi seperti Azhari Abdullah (59) sudah tahu apakah sapi-sapi yang disodorkan kepadanya dipelihara secara meugang atau tidak. Kalau kurang yakin, ia biasanya akan menepuk pantat sapi keras-keras. Plaaak!

”Tak perlu dijelaskan, saya tahu itu sapi meugang atau bukan, termasuk taksiran berat daging dan harganya,” ujar Azhari.

Kawanan sapi meugang itu selanjutnya disembelih di awal sekaligus ujung kebebasannya. Dagingnya lantas menjadi rebutan banyak orang. Mengapa? ”Sebab, daging sapi meugang itu adalah simbol kehormatan laki-laki Aceh. Semakin banyak daging sapi meugang yang bisa dibawa pulang seorang laki-laki, semakin terhormat dia di mata istri,” kata Reza Idria, antropolog dari IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Sebagian daging sapi itu akan diolah menjadi aneka masakan seperti rendang dan kari untuk dinikmati semua anggota keluarga. Sisa daging yang berlimpah dijadikan sie reboh (daging asam) agar awet dan tahan disimpan sepanjang Ramadhan.

Berapa pun harga daging sapi meugang, laki-laki Aceh akan membelinya. Itu sebabnya, harga daging sapi saat musim meugang melonjak tidak keruan. Pada musim meugang tahun 2012, harga daging sapi di Aceh mencapai Rp 130.000 per kilogram. Padahal, harga daging sapi di Jakarta ketika itu hanya Rp 90.000 per kilogram.

Bagaimana dengan laki-laki yang tidak mampu? ”Laki-laki Aceh akan sangat malu jika tak bisa membawa daging sapi saat meugang. Kehormatannya di mata istri dan mertua langsung jatuh,” tutur Reza.

Istri pun malu kepada tetangga jika tidak bisa memasak daging sapi saat meugang. Untuk menutupi malu, kata Reza, istri akan memasak daun pandan dan daun kari (temurui) yang harumnya menyebar ke mana-mana. ”Dengan begitu, tetangga mengira keluarga itu memasak kari. Sampai seperti itu!” ucap Reza.

Namun, lanjut Reza, sebenarnya jarang sekali ada laki-laki Aceh yang tidak sanggup membawa daging sapi saat meugang. Selama mau bergaul dengan tetangga, ia pasti mendapatkan daging. Dengan membantu menyiangi sapi yang disembelih keluarga lain, dia bisa mendapatkan bagian daging sapi.

Itulah jalan keluar yang disediakan adat untuk menjaga kehormatan lelaki. Tujuannya agar tak ada laki-laki yang terjungkal kehormatan karena sapi.

Sumber : Kompas Cetak
Editor : I Made Asdhiana

Kamis, 07 Maret 2013

PEMERINTAH REKLAMASI PULAU-PULAU TERLUAR

Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) terus berupaya mereklamasi pulau-pulau terluar yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuannya tidak lain untuk menyelamatkan pulau-pulau tersebut, seperti halnya yang dilakukan di Pulau Batu Berating wilayah Kota Batam, Kepulauan Riau.

"Reklamasi dilakukan sekeliling pulau, karena wilayahnya yang tidak luas. Reklamasi menggunakan dana APBN 2012 senilai Rp 9 miliar," kata Kepala Satuan Pelaksana Jaringan Sumber Daya Air, KemenPU Wilayah Sumatera VI, Bakti, di Batam, Kamis (21/2/2013).

Pulau Beranting merupakan satu dari dua pulau terluar NKRI di wilayah Kepri yang dibenah KemenPU pada tahun anggaran 2012. Kementerian PU juga memasang pemecah gelombang di Pulau Pelampung untuk mengantisipasi abrasi.
Sebelum direklamasi, Pulau Batu Berakit hanya nampak air surut, sedang ketika air pasang, pulau itu menghilang. Kini setelah direklamasi, luas pulau saat surut menjadi 700 meter persegi.
Teknik reklamasinya, PU menanam batu besar di sekeliling pulau, lalu menyelimutinya dengan batu geranit yang dibungkus beronjong HDPE. Selain direklamasi, Kementerian PU juga memperbaiki menara mercusuar yang ada di sana.

Jumat, 08 Februari 2013

AL MUBDI'U : YANG MAHA MEMULAI


"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?" (QS. Ath-Thur: 35)

Pertanyaan di atas ditujukan kepada mereka yang masih ragu tentang penciptaan alam, termasuk manusia.
Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa alam itu ada dengan sendirinya dan tidak ada yang menghancurkan serta membinasakannya kecuali waktu.

Anggapan seperti itu telah direkam al-Qur’an:
“Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga.” (QS. Al-Jatsiyah: 24).

Teori evolusi yang digagas oleh Darwin dan ilmuwan lainnya hanyalah bersifat hipotesa yang sama-sekali belum atau tidak akan terbukti kebenarannya, selama-lamanya. Teori yang menduga bahwa terwujudnya sesuatu karena adanya unsur-unsur sebelumnya yang mengalami proses evolusi sehingga menghasilkan sesuatu yang baru, hanyalah isapan jempol yang tak pernah terbukti secara ilmiah.

Memang, kaum atheis selalu mempertanyakan, jika segala sesuatu itu ada yang menyiptakan, lalu siapakah yang menyiptakan Tuhan? Pertanyaan seperti itu sudah ada sejak zaman Nabi saw, oleh karenanya beliau telah mengajarkan kepada kita: “Sesungguhnya setan dating kepada salah seorang di antara kamu dan bertanya, siapakah yang menyiptakan langit? Dijawab, Allah. Ditanya lagi, siapakah yang menyiptakan bumi? Dijawab, Allah. Lalu, ia akan bertanya lagi, siapakah yang menyiptakan Allah? Maka apabila muncul pertanyaan seperti itu, segeralah berkata: “Aku beriman kepada Allah dan Rasulullah saw.”

Pandanglah alam raya yang terbentang luas di depan kita, perhatikan satu persatu ciptaan Allah yang nyaris tak terhingga itu, betapa indah dan harmonis. Lalu, tanyalah dalam hati yang terdalam, Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10).

Dalam al-Qur’an, kata Al-Mubdi-u dalam bentuk isim (kata benda) tidak ditemukan, baik yang disifatkan kepada Allah atau pun kepada selain-Nya. Meskipun demikian, bentukan kata dari Al-Mubdi-u dalam bentuk fi’il mudhari’ (kata kerja masa kini dan masa depan), maupun dalam bentuk fi’il maadhi (kata kerja masa lampau yang mengandung makna kepastian) dapat dijumpai dalam beberapa ayat. Salah satu contohnya adalah:
“Hanya kepada-Nyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar dari Allah, sesungguhnya Dia-lah yang memulai (menyiptakan) makhluq”. (QS. Yunus: 4)

Dalam ayat yang lain juga dapat dijumpai, misalnya:
“Atau siapakah yang memulai (menyiptakan) makhluq dan siapa pula yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Katakanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. An-Naml: 64)

Ya, Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada kita sebagai Al-Mubdi-u, Yang Maha Memulai. Menurut Al-Qusyairi, Al-Mubdi-u berarti Dialah yang menyiptakan makhluq dari tiada menjadi ada tanpa contoh sebelumnya, dan mengembalikan mereka dengan kebangkitan serta menghidupkan kembali makhluk-makhluk-Nya yang telah mati pada hari kiamat nanti.

Contoh sederhana adalah penyiptaan manusia. Walaupun penyiptaan manusia itu berulang-ulang dan dalam jumlah yang amat besar, penyiptaannya bukan pabrikan atau bersifat massal. Dua anak kembar yang lahir dari rahim yang sama, tidak persis sama, baik bentuk fisik, apalagi struktur kejiwaannya. Kreasi Allah sungguh tak terbatas, selalu terbarukan. (Hamim Thohari)

Selasa, 05 Februari 2013

SELAMAT MILAD KE-66 HMI

Hari ini, saya baru pulang dari aktivitas rutin, pasca pulang kerja saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan beberapa teman lama di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Kemudian saya juga menyempatkan diri untuk menghadiri undangan pelantikan Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) yang diselenggarakan di JHCC Senayan Jakarta.

Ada yang menarik dari acara hari ini, pertama hari ini adalah tepat ulang tahun HMI yang ke 66 tahun, sebuah usia yang tidak lagi muda bagi organisasi yang umurnya hampir menyamai umur Republik ini. Tentu sejarah panjang Republik ini pun tidak bisa kita lepaskan dari peran HMI, mulai dari zaman perjuangan mempertahankan Republik, zaman Revolusi, hingga zaman Reformasi. Kader HMI selalu mewarnai tiap fase tersebut.

Kini di era reformasi, setelah melalui 3 kali Pemilu (1999, 2004, dan 2009) kader HMI semakin memberikan hegemoni dalam banyak warna, pilihan ideologi perjuangan, kendaraan politik, hingga jagoan calon presiden. Bisa dipastikan disemua lini tersebut ada kader HMI. Jadi 66 tahun adalah perjalanan panjang untuk HMI bersama Republik ini dengan gerakan Islam dan Ke-Indonesia-an.

Yang kedua tentu saja dihari pelantikan Pengurus KAHMI ini, lebih banyak hal yang menarik yang bisa kita bahas, dimulai dengan perebutan kursi presidium KAHMI yang berlangsung sangat seru dan ramai, mengingat pemilihan diadakan di Pekanbaru, Riau pada 30 November 2012 yang lalu. Dimana nama-nama besar yang sering diperbincangkan publik mengemuka sebagai kandidat Presidium KAHMI. Sebut saja Mahfud MD, Anas Urbaningrum, Nurhayati Assyegaf, Anies Baswedan, Abdullah Puteh, dan banyak lagi nama-nama besar yang mungkin tidak asing lagi ditelinga banyak orang. 

Ditengah menghangatnya pemilihan, muncul wacana menolak Koruptor untuk menjadi Presidium, hal ini menjadi angin segar bagi sebagian kalangan bahwa saatnya Korps Alumni Mahasiswa terbesar di Indonesia itu melakukan bersih-bersih diri dengan tidak menjadikan mantan koruptor menjadi tokoh di KAHMI. Bisa ditebak, hal ini berdampak pada tersingkirnya Abdullah Puteh yang pernah menjadi narapidana korupsi saat menjabat Gubernur DI.Aceh, meskipun tim suksesnya telah bergerilya untuk melobi pemilih agar menulis nama yang bersangkutan di kertas pemilihan.

Hingga menjelang pelantikan 5 Februari 2013, wacana KAHMI menolak koruptor ini kembali mengemuka, tepat sehari sebelumnya salah satu Presidium KAHMI, Anas Urbaningrum mendapat serangan politik kembali dari Tokoh Senior Partai Demokrat, Jero Wacik yang bereaksi atas hasil Survei SMRC bahwa Partai Demokrat hanya mendapat 8% apabila Pemilu diadakan hari ini sehingga meminta Ketua Dewan Pembina untuk turun tangan, termasuk meminta mengganti Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Gonjang ganjing ini berefek pada acara pelantikan dimana sebagian orang yang berteriak menyebut Anas Koruptor, dipukuli hingga terjadi perkelahian dan adu jotos di arena pelantikan. Tentunya insiden ini sangat disayangkan, dimana mestinya sebagai Korps Alumni, KAHMI harus memberikan contoh kesantunan bagi kader-kader HMI yang masih aktif tersebut.

Saat perjalanan pulang kerumah dari lokasi JHCC, saya kembali dikagetkan dengan berita pengunguman telah ditetapkannya Gubernur Riau, Rusli Zaenal sebagai tersangka KPK karena kasus PON dan suap izin lahan. Rusli Zaenal merupakan alumni HMI yang mendukung pelaksanaan Munas KAHMI di Pekanbaru yang lalu. Ini adalah kado hitam bagi KAHMI ditengah rasa percaya diri untuk bangkit dalam perjuangan pemberantasan korupsi.

Tentu saja, baik Anas maupun Rusli tidaklah merepresentasikan seluruh alumni HMI, namun sedikit banyak apa yang terjadi pada mereka akan berdampak pada citra KAHMI sendiri. Saya jadi teringat dengan pembicaraan saya bersama Abdullah Hehamahua saat di Pekanbaru, beliau mengatakan bahwa kalo Mahfud MD yang selama ini dicitrakan sebagai tokoh yang bersih, akan ikut menjadi kotor apabila terpilih menjadi Presidium KAHMI. Ternyata tokoh sekelas Abdullah Hehamahua sendiri masih pesimis bahwa citra tempat penampungan politisi korup belum bisa dilepaskan dari KAHMI.

Akhirnya saya hanya ingin merenung, apakah kondisi Republik ini yang masih korup dicerminkan oleh KAHMI yang menampung politisi korup, atau kondisi KAHMI lah yang akan mewarnai Republik ini. Wallahualam bissya'wab.

Selamat Milad ke-66 HMI ku...
Yakin Usaha Sampai

Kamis, 31 Januari 2013

APAKAH ADA KONSPIRASI ABRAHAM SAMAD?

Rabu malam 30 Januari 2013 kita semua diguncang dengan pemberitaan dashyat, yang mungkin tidak ada yang pernah memprediksinya. Beberapa orang yang diduga melakukan tindakan penyuapan tertangkap tangan di Hotel Le Meridien Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, yang tertangkap adalah orang dekat Presiden PKS, Luthfi Hasaan Ishaaq yang juga anggota DPR RI Komisi 1. Dalam beberapa jam kemudian KPK juga menetapkan yang bersangkutan menjadi tersangka dan menjemputnya ke KPK untuk diperiksa. Publik kaget, banyak politisi dan pesohor di negeri ini tidak menyangka hal ini akan terjadi di awal tahun 2013 ini. Memang sudah lama digadang-gadang bahwa 2013 adalah tahun politik, sehingga akan banyak kejutan-kejutan politik di tahun ini.

Agaknya argumen tersebut tidaklah terlalu berlebihan, dimulai dari Kongres Partai Nasdem yang diwarnai mundurnya banyak kader dan tokoh-tokohnya yang menjadi buah bibir. Dilanjutkan dengan tertangkapnya Politisi PAN Wanda Hamidah saat bersama beberapa artis dirumah Raffi Ahmad yang diduga sedang pesta Narkoba. Namun sejenak kita melupakan kedua kejadian diatas karena yang ini jauh lebih seru dan dashyat, orang nomor satu di Partai dakwah yang dari awal kelahirannya selalu megadang-gadangkan diri sebagai Partai bersih dan anti korupsi harus menghadapi kenyataan berurusan dengan lembaga anti korupsi yang terkenal tidak sembarang dalam menjerat orang, karena menurut amanah UU bahwa KPK tidak mengenal SPPP (Surat Perintah Penghentian Penyidikan). Sehingga semua orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka harus disidangkan.

Mati-matian petinggi PKS mencoba bereaksi dengan mengatakan bahwa Partainya tengah difitnah, terdapat konspirasi besar, dan berbagai argumen lainnya. Tentu kita mencoba untuk mengurai kenapa muncul pertanyaan seperti ini. Bila kita melihat bahwa ini konspirasi tentu kita mesti menuding bahwa KPK ada dibalik ini semua, tentunya orang nomor satu di KPK yaitu Abraham Samad yang langsung menjadi sorotan.

Sekarang mari kita lihat siapa sebenarnya Abraham Samad ini, lahir di Makassar pada 27 November 1966, Abraham Samad terpilih pada usia relatif muda, 45 tahun. Dalam catatan sekolahnya Samad terkenal sebagai anak yang nakal sehingga harus berpindah-pindah sekolah. Memasuki dunia kampus, Abraham semakin menemukan tempatnya untuk mengaktualisasikan diri. Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tahun 1992, Abraham sedikit goyah dalam penentuan karir profesi yang akan digelutinya kelak. Pada satu sisi, ia sangat berkeinginan untuk menekuni profesi advokat, namun di sisi lain, ibunya lebih mengharapkan agar Abraham untuk menjadi seorang Birokrat.

Abraham memulai karirnya sebagai advokat dengan magang terlebih dahulu. Sejak pertama kali menjejakkan kakinya dalam belantara penegakan hukum di Indonesia ia semakin memahami bahwa sistem hukum Indonesia belum berjalan sebagaimana mestinya.

Di Makassar, Samad dikenal sebagai aktivis antikorupsi. Dia penggagas sekaligus Koordinator Anti Corruption Committee di Sulsel. Salah satu kasus korupsi yang pernah dia bongkar yakni kasus yang melibatkan walikota Makassar. Akibat langkahnya itu, rumah serta usaha milik istrinya pernah dirusak sekelompok orang. Melalui LSM ini, Abraham ingin mendorong terciptanya sistem pemerintahan yang baik. Abraham juga pernah menjadi Tim Penasehat Hukum Komite Pemantau Legislatif (KOPEL) Sulawesi.

Dia menanggalkan profesinya sebagai advokat ketika mendaftar di panitia seleksi calon pimpinan KPK. Selama uji kepatutan dan kelayakan, Abraham adalah calon yang berani berjanji akan mundur tanpa didesak jika satu tahun kepemimpinannya tidak membuahkan hasil. 

Abraham Samad juga merupakan kader HMI, saat di organisasi tersebutlah dia dekat dengan Tamsil Linrung, politisi PKS yang kini menjadi anggota DPR RI daerah pemilihan Sulawesi Selatan. Kedekatan ini tidak bisa disembunyikan karena dalam banyak catatan, Abraham Samad sering bersama-sama dengan Tamsil dalam berbagai gerakan saat mahasiswa dulu. Selain itu Abraham Samad juga dekat dengan Anis Matta, Sekjen PKS yang juga berasal dari Sulawesi Selatan.

Berdasarkan fakta masa lalunya tersebut, timbul pertanyaan dalam pikiran kita semua. Apakah Abraham Samad terlibat dalam sebuah konspirasi besar ini? Jika memang demikian, apa motivasinya, bukankah PKS adalah Partai yang mendukungnya menjadi Ketua KPK saat pemilihan lalu, lantas kenapa kini dia bersikap sebaliknya.

Perjalanan masih panjang, babak-babak baru berikutnya akan datang. Tentu saya dan anda menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Harapan saya semoga PKS yang merupakan salah satu aset bangsa ini dapat kembali bangkit dan membuktikan diri, bahwa sebagai Partai modern PKS tidak bergantung pada tokoh, namun pada ideologi dan semangat awal saat Partai ini dibentuk.
Semoga.

Minggu, 20 Januari 2013

SUDAH CUKUP SUSAH

Suatu siang seorang petugas polisi memerintahkan sebuah sedan yang dikendarai dua orang agar menepi karena telah melanggar peraturan lalu lintas. Saat hendak menulis surat tilang bagi, konsentrasi petugas polisi dibuyarkan oleh suara perempuan yang duduk di samping laki-laki pengemudi.

"Benar kan kataku?" teriak perempuan itu sambil memukul lengan laki-laki pengemudi di sebelahnya.

"Sudah kubilang jangan ngebut! Jangan menyalip-nyalip kendaraan di depanmu seenaknya. Beri tanda, klakson kek, kasih lampu sain kek, dan jangan menyalip dari sebelah kiri. Ambil jalur ketiga, jangan di jalur dua apalagi satu karena kita mau ke arah Selatan. Kenapa sih kamu nggak mau dengar kataku? Sekarang kita tertangkap, terlambat deh aku! Kamu tuh selalu nggak bisa dibilangin. Ayo, mau bilang apa kamu sekarang? Aku yang bawel?!"

Setelah mendengar semua gerutuan perempuan itu, Pak polisi bertanya pada si pengemudi, "Siapa perempuan itu?"

"Istri saya, pak," jawab si pengemudi agak malu.

"Ohhh... ya sudah, teruslah berjalan anda sudah cukup mendapat kesulitan tanpa harus saya tilang."

Sabtu, 19 Januari 2013

AL-HAKIIM, YANG MAHA BIJAKSANA

"Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. 5: 118)

Dalam al-Qur’an, kata Al-Hakim diulang sebanyak 97 kali. Pada umumnya kata tersebut dipakai untuk menyifati Allah swt, sebagian lagi menyifati Al-Qur’an, dan ketetapan Allah.

Sebagian besar Al-Hakim digandengkan dengan Asma Allah yang lain, sekitar 45 kali digandengkan dengan “Al-Aziz, sebanyak 35 kali dengan “Al-Alim”, 4 kali dengan “Al-Khabir”, dan masing-masing sekali dengan “At-Tawwab”, “Al-Hamid”, “Al-‘Aliy”, dan “Al-Wasyi’”.

Al-Hakim merupakan bentuk superlative, yaitu suatu bentuk pengagungan atas Dzat yang memiliki semua kearifan, karenanya Dia Mahabesar dalam segala kebijaksanaan-Nya. Dia Mahabijaksana dalam menciptakan segala sesuatu, dan segala sesuatu dilakukan-Nya secara bijaksana dan sangat sempurna. Tidak ada yang cacat, semua berjalan “by design”. 

Dia sendiri berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu dengan sia-sia dan kamu tidak dikembalikan (kepada Kami)?” (QS. 23: 115)

Bagi Allah, Wujud Sucinya tidak memungkinkan-Nya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya yang Mulia lagi Mahabijaksana. Musthil bagi-Nya menciptakan sesuatu yang sia-sia, bahkan ketika menciptakan seekor nyamuk, sekalipun. “Rabbanaa maa khalaqta haadza baatila”, Ya Tuhan Kami, tidak ada satupun yang Engkau citakan itu sia-sia.

Kearifan, kebijaksanaan, atau wisdom adalah cara terbaik untuk mengetahui sesuatu dengan menggunakan sarana yang terbaik pula. Dia-lah Allah yang Kebijaksanaan-Nya melampai segala sesuatu, Dia mengetahui sumber segala sesuatu melalui pengetahuan-Nya yang abadi dan lestari yang tak seorangpun bisa membayangkan-Nya sebagai wujud yang fana.

Al-Hakim, menurut sebagian Ulama berarti adil dalam penilaian-Nya, pemurah dalam pengaturan urusan-urusan-Nya, Dzat yang menetapkan ukuran segala sesuatu sesuai dengan ilmu-Nya, Dzat yang kearifan-Nya memiliki tujuan yang ultimate, Dzat yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dialah Allah, yang tak seorangpun bisa mengapresiasi Kemahabijaksanaan-Nya kecuali diri-Nya.

Sebagian Ulama juga mengartikan Al-Hakiim dengan pengertian bahwa Allah mengetahui kebenaran secara mutlak dan bertindak berdasarkan pengetahuan itu secara mutlak pula. Tindakan atau amalan tanpa ilmu berarti kesesatan, sedangkan ilmu tanpa amalan adalah kesia-siaan.

Bagaimanapun sedikitnya kadar hikmah yang dikaruniakan kepada seseorang, itu sangat berarti bagi mereka. Hikmah adalah karunia yang amat besar setelah ilmu. Allah berfirman:
“Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah itu, maka benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS. 2: 269)

Begitu bernilainya hikmah bagi kehidupan manusia di dunia ini, maka Nabi Ibrahim as senantiasa berdo’a: Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah. (QS. 26: 83). Jika Nabi Ibrahim yang dikenal bijaksana itu masih berdo’a agar dikaruniai hikmah, bagaimana dengan kita?

Hikmah adalah mutiara kepe­mimpinan. Nabi Daud ditunjuk sebagai pemimpin kaumnya karena memiliki hikmah. Allah berfirman: “Kami karuniakan kepadanya kebijaksanaan dan (kekuatan) dalam menghakimi persoalan.” (QS. 38: 20). Sebagai gambaran konkrit orang yang menyandang himah adalah Nabi Muhammad saw sebagaimana terangkum dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah melimpahkan karunia-Nya kepada orang-orang yang beriman ketika Dia mengutus di antara mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri, untuk mebacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, dan untuk menyucikan mereka, dan untuk mengajarkan kepada mereka al-Kitab(Al-Qur’an) dan al-Hikmah. Sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. 3: 164)

Saat ini banyak pemimpin yang pandai, yang memiliki ilmu dan pengetahuannya sangat banyak dan luas, tapi orang yang bijaksana, yang memiliki wisdom dan kearifan sangatlah langka. Padahal untuk memimpin, apalagi pada masyarakat yang majemuk diperlukan kearifan, kebijaksanaan, dan wisdom.

“Dia (Allah) menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar dianugerahi karunia yang banyak. Dan orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. 2: 269)

Selasa, 15 Januari 2013

FILOSOFI KODOK DALAM BEJANA

Sebuah percobaan menarik, dapat anda lakukan dirumah. Letakkan sebuah bejana yang diisi air mendidih diatas kompor, kemudian masukan seekor kodok hidup kedalamnya, maka bisa dipastikan sang kodok akan segera melompat keluar karena kaget dengan panasnya air didalam bejana. Namun, bila sang kodok anda masukkan bejana bersama dengan air yang masih dingin, kemudian anda letakkan diatas kompor dan mulai menyalakannya, maka secara perlahan namun pasti sang kodok akan ikut mendidih bersama air didalamnya tanpa melompat keluar.

Demikian pula dalam kehidupan, apabila kita merasa berada dalam zona yang sangat nyaman, maka berhati-hatilah, karena sesungguhnya kita berada dalam bahaya. Tanpa terasa bahaya akan membuat air kenyamanan yang berada disekitar kita mendidih hingga kita mati dalam rebusan air kenyamanan yang mendidih tersebut.

Filosofi ini dapat menyadarkan kita akan pentingnya untuk selalu siaga apabila kita berada dalam zona yang nyaman. Kesuksesan karir, keluarga yang sehat, rezeki yang berlimpah, fasilitas yang memadai, lingkungan yang aman, dan berbagai kenyamanan lainnya tidak akan berlangsung lama. Karena sesungguhnya hal-hal sulit akan terjadi cepat atau lambat.

Semoga kita semua tetap istiqamah dalam menjalani hidup.

Selasa, 01 Januari 2013

SELAMAT TAHUN BARU 2013

Tidak terasa tahun 2012 baru saja kita lewati, begitu banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan di tahun 2012 bahkan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin bagi kebanyakan kita ini hanya akan jadi hal biasa setelah sibuk dengan semua aktivitas di tahun 2013. Namun bila kita renungi lebih dalam lagi, refleksi di masa lalu mesti memperkuat langkah kita dalam menatap masa depan.

Selamat tinggal 2012, selamat datang 2013.

Selamat tahun baru

Sabtu, 15 Desember 2012

TELADAN RASUL

  1. Mandi pagi sebelum subuh atau paling tidak sejam sebelum matahari naik. Air dingin yang meresap ke dalam badan bisa mengurangi lemak mengumpul. Kita bisa saksikan orang mengamal mandi pagi kebanyakan badan tak gemuk. 
  2. Rasulullah mengamalkan minum segelas air dingin (bukan air es) setiap pagi. Mujarabnya InsyaAllah jauh dari penyakit (susah nak kena sakit).
  3. Waktu shalat subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu sujud sekurang kurangnya satu menit setelah membaca doa). Kita akan terhindar dari sakit kepala atau migrain. Ini terbukti oleh ilmuwan yang meneliti kenapa dalam sehari perlu kita sujud. Ilmuwan telah menemukan beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yg tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir ke ruang tersebut.
  4. Dalam kitab ini ada melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama ayam. di khawatirkan akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion + fe sedangkan dalam ikan mengandung ion-fe, jika dalam ayam bercampur dengan ikan maka terjadi reaksi biokimia yang terhasil yang bisa merusak usus kita.
  5. Makanlah dengan menggunakan tangan kanan, Nabi juga mengajarkan kita makan dengan tangan kanan dan bila habis harus menjilat jari. Begitu juga ilmuwan telah menemukan bahwa enzyme banyak terkandung di celah jari, yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur. (enzyme sejenis alat percerna makanan, tanpanya makanan tidak hadam). 
Wallahu A'lam

Kamis, 29 November 2012

AL WASI - YANG MAHA LUAS

Al-Wasi’ merupakan turunan dari kata wa-si-’a, yang berarti luas, lapang, daya tampung, berkelimpahan, meliputi, kaya, dan arti lain yang serupa. Orang yang menguasai berbagai ilmu disebut luas ilmunya. Orang yang mudah memaafkan disebut lapang dada. Orang yang memiliki kekayaan yang banyak disebut berkelimpahan, dan seterusnya.

"Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu." (QS. Al-Mukminuun: 7)
Kata Al-Wasi’ digunakan Al-Qur’an sebanyak 9 kali, dan semuanya dipakai untuk menyifati Allah swt. Hal ini memberi gambaran bahwa hanya Allah yang berhak menyandang sifat ini. Tak ada seorang pun yang memiliki keluasan, sebagaimana keluasan Allah. Hanya Dia Yang Maha Luas dalam segala hal.

Selain dalam bentuk ism (kata benda), wa-si-a dalam bentuk fi’il (kata kerja) juga banyak dijumpai dalam Al-Qur’an, bahkan jumlahnya lebih banyak lagi. Salah satu di antaranya menggambarkan tentang keluasan ilmu Allah, sebagaimana berikut:
“Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?” (Al-An’am: 80).

Senada dengan ayat di atas, Al-Qur’an juga menyebutkan:
“Mereka yang memilkul ’Arsy dan mereka yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan mereka beriman kepada-Nya dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman (dengan berkata): ’Ya Tuhan kami! Karunia dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan dari-Mu orang-orang yang kembali (kepada-Mu) dan mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari siksa api neraka.” (Al-Mu’min: 7).
Jika kedua ayat di atas menggambarkan keluasan ilmu-Nya, ayat berikut ini justru menggambarkan tentang keluasan rahmat-Nya.

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 156).

Dalam buku An-Nihayah, Ibnu Atsir memaparkan tentang sifat Allah Al-Wasi’ ini dengan menyebut beberapa arti: (1) bisa memperkaya setiap orang miskin, (2) rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, (3) otoritasnya tidak pernah berakhir, (4) rahmat-Nya tidak terbatas, (5) kerajaan-Nya abadi, (6) tidak pernah menghentikan pemberian, (7) tidak pernah kebingungan karena mengetahui sesuatu dari mengetahui yang lain, (8) pengetahuannya meliputi segala sesuatu, (9) kekuasaan-Nya mencakup segala sesuatu, (10) rahmat-Nya amat luas, (11) Dia mandiri, (12) pengetahuan, kekuasaan, dan rahmat-Nya adalah paling besar, (13) Dzat yang sifat-sifat-Nya tidak terbatas, (14) pengetahuan, rahmat, dan ampunan-Nya luas, dan (15) wilayah-Nya begitu besar tak terbatas.

Itulah sebabnya, Al-Wasi’ yang sejati dan mutlak hanya Allah. Hanya Dia yang ilmu-Nya tak bertepi, rahmat-Nya tak pernah habis terbagi, dan kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi.
Dialah Allah yang keluasan-Nya meliputi Barat dan Timur, Utara dan Selatan. Dia ada di segala penjuru langit dan bumi. Karenanya, Dia menginformasikan kepada kita bahwa untuk menghadap kepada-Nya kita bisa mengarahkan wajah kita kemana pun, terutama pada saat kita berada dalam perjalanan (safar), maupun saat kita tidak tahu arah (kiblat).

Allah berfirman: “Maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 115).

Ayat di atas memberi gambaran kepada kita bahwa Allah swt selain Maha Luas Dzat-Nya juga berlapang dada dalam memberikan rukhsah (keringanan) kepada hamba-Nya ketika beribadah. Dia memaklumi hamba-Nya yang kesulitan menghadap kiblat ketika safar, karenanya Dia memberi keringanan.

Apalagi kepada orang yang telah berlapang dada, menolong sesamanya dengan mengeluarkan sebagian dari hartanya, baik dalam bentuk sodakoh, infaq, maupun zakat. Dia melipatgandakan pemberian orang tersebut dengan quantum pahala. Al-Qur’an menyebutkan: “Perumpamaan (nafkah yang dilekuarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

Lalu, bagaimana cara meneladani sifat ini? Bantulah setiap orang yang meminta bantuan, perlakukan semua orang dengan sebaik-baik perlakuan, dan bermurah hatilah kepada setiap orang. Tak lupa, maafkan orang sebelum atau sesudah mereka meminta maaf. Bukalah dada secara lapang untuk menerima keterbatasan manusia.

Kamis, 15 November 2012

AL GHAFFAR ; LUASNYA SAMUDERA AMPUNAN

Al-Qur’an menyebut kata “Ghaffar” sebanyak lima kali, tiga kali berdiri sendiri, sedang dua kali lainnya dirangkai setelah penyebutan sifat dan nama Indah lainnya, yaitu Al-Aziz.

"Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas maghfirah-Nya." (QS. At-Taubah: 117)

Al-Ghaffar berasal dari fi’il madhi “ghafara”, yang berarti menutupi. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa kata itu terambil dari kata “alghafaru” yang berarti sejenis tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka. Jika kita mengambil makna yang pertama, maka Al-Ghaffar berarti Allah menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan keluasan ampunan-Nya.

Adapun jika kita memaknai dengan kata yang kedua, berarti Allah menganugerahkan sifat penyesalan kepada hamba-hamba-Nya sehingga bisa menjadi obat penawar sekaligus penghapusan dosa.

Menurut pendapat kami, keduanya benar dan bisa dipakai, sebab dalam kenyataannya, Dialah yang meniupkan rasa penyesalan pada diri manusia, sehingga hati manusia cenderung meminta maaf ketika berbuat dosa. Dia pula yang memberi ampunan sebesar apapun kepada hamba-hamba-Nya yang menyesal dan bertaubat kepada-Nya.

Al-Ghaffar tidak sekadar mengampuni dosa hamba-hamba-Nya yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap syari’at, tapi pengampunan-Nya meliputi segala hal, termasuk dalam hal akhlaq yang oleh hukum syari’at tidak dianggap sebagai pelanggaran hukum. Sedemikian luasnya pengampunan itu, bahkan meliputi cinta dan emosi. Rasulullah saw senantiasa berusaha adil kepada isteri-isterinya, karenanya Allah mengampuninya jika hati beliau lebih condong kepada salah satu atas yang lain.

Luar biasa, akhlak Allah yang senantiasa menampakkan kebaikan untuk menutupi keburukan. Perhatikanlah, Dia menutupi sisi dalam jasmani manusia dengan penampakan luar yang sedap dipandang mata. Bagian dalam yang kotor dan menjijikkan ditutupi dengan tampilan lahir yang menawan.

Adalah Al-Ghaffar pula yang menutupi bisikan hati dan kehendak-kehendak kotor yang tersembunyi. Seandainya niat kotor, kemauan jahat, niat menipu, sangka buruk, iri hati, dan kesombongan itu terkuak ke permukaan dan diketahui semua orang, sungguh manusia akan mengalami berbagai kesulitan hidup. Jika yang terbetik dalam hati manusia tampak secara telanjang, sungguh masing-masing kita tidak ada yang saling percaya. Isteri tidak percaya kepada suami, anak tidak percaya kepada orangtua, rakyat tidak percaya kepada pemimpinnya. Begitu juga sebaliknya.

Dia, Al-Ghaffar bahkan tetap menutupi sekian banyak salah dan dosa yang telah dilakukan manusia, baik yang dilakukan secara tidak sengaja maupun yang disengaja. Segala aib tetap ditutupi oleh Allah. Itulah sebabnya Dia sangat marah kepada orang yang malam harinya berbuat dosa, sementara di siang harinya ia sebarkan perbuatan dosanya kepada orang lain. Andaikata ia segera menyesal dan bertaubat, pintu ampuan-Nya segera dibuka. Siksa-Nya tidak meliputi orang-orang yang bertaubat.

Al-Ghaffar senantiasa menyambut hamba-Nya yang tulus meminta ampunan, sebesar apapun dosa yang disandangnya. Dia berfirman:
Sampaikan kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri: “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa, Dialah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Dalam hadits qudsy riwayat At-Tirmidzi, Sahabat Anas ra berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman: “Wahai keturunan Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharapkan ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu apa yang telah engkau lakukan di masa lampau dan Aku tidak peduli (betapa banyak dosamu). Wahai keturunan Adam, sekiranya dosa-dosamu telah mencapai ketinggian langit, kemudian engkau memohon ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu. Seandainya engkau datang menemui-Ku membawa seluas wadah bumi ini dosa-dosa dan engkau datang menjumpai-Ku dengan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan membawa pengampunan seluas wadah itu.”

Sebagai hamba Allah, kita dituntut memiliki atau meneladani sifat indah Al-Ghaffar itu, sebagaimana firman-Nya:
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar ia memaafkan orang-orang yang tidak mengharapkan hari-hari Allah.” (QS. Al-Jatsiyah: 14)

Allah juga berfirman:
“Siapa yang bersabar dan menutupi (memaafkan) kesalahan orang lain, maka sungguh hal demikian termasuk yang diutamakan.” (QS. Asy-Syuura: 43)

Ya Ghaffar, kami bermohon kepada-Mu kiranya membersihkan hati kami dari segala noda. Kami bermohon kiranya Engkau memenuhi hati kami dengan cahaya. Berilah kemampuan kepada kami untuk meneladani sifat dan nama-Mu Al-Ghaffar sehingga kami dapat menutupi aib teman-teman kami, membalas kejahatan mereka dengan kebaikan, dan meraih kemuliaan di dunia dan akherat.

Minggu, 14 Oktober 2012

DITEMUKAN PLANET BERLIAN



Para ilmuwan menemukan planet baru yang memiliki radius dua kali lipat Bumi, delapan kali lebih berat dari planet yang dihuni manusia.  Planet yang diberi nama 55 Cancri e dikategorikan sebagai Bumi Super (super-Earth) dan permukaannya dipenuhi dengan batu mulia.
"Ini adalah kali pertama kami melihat dunia berbatu yang memiliki unsur kimia yang secara fundamental berbeda dari Bumi. Permukaan planet ini ditutupi grafit dan berlian, alih-alih air dan granit,"  kata kepala peneliti Nikku Madhusudhan.
Planet ini mengorbit bintangnya dengan kecepatan super cepat, dalam waktu 18 jam, jauh lebih cepat dari Bumi yang mengorbit Matahari dalam waktu 365 hari. Sebuah studi terbaru menyimpulkan, setidaknya sepertiga massa planet tersebut, atau setara dengan tiga kali berat Bumi, adalah berlian.
Planet yang bersuhu luar biasa panas, 3.900 Fahrenheit atau 2.148 derajat Celcius ini adalah satu dari lima planet yang mengorbit pada bintang 55 Cancri. Ia bisa terlihat dengan mata telanjang di konstelasi Cancer. Akan lebih baik lagi jika dilihat menggunakan teropong atau teleskop.
Planet ini kali pertama diobservasi saat mengorbit ke bintangnya tahun lalu, memungkinkan para astronom untuk mengukur radiusnya untuk pertama kali. Penelitian menunjukkan, planet itu tak punya kandungan air sama sekali, mayoritas komposisinya adalah karbon (berlian dan grafit), besi, silikon karbida, dan mungkin, sejumlah silikat. 

Senin, 08 Oktober 2012

JENDERAL TIMUR PRADOPO HARUS DITANGKAP KARENA TERLIBAT DALAM PELANGGARAN HAM PENEMBAKAN MAHASISWA TRISAKTI 1998


Dalam suasana yang sedang memanas antara Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pasca ditetapkannya penyidik senior KPK Kompol Novel Baswedan oleh Polda Bengkulu, kami merasa perlu untuk memberikan pernyataan agar tercipta keadilan penegakan hukum di Republik Indonesia, terutama berkaitan dengan pelanggaran HAM yang terjadi.

Bahwa Tragedi Trisakti yang terjadi 14 tahun yg lalu adalah merupakan sebuah pelanggaran berat ham berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNASHAM) Republik Indonesia. Tragedi ini adalah tragedi yg sangat memilukan yg terjadi pada era transisi di indonesia dari kekuasaan rejim otoriter orde baru menuju negara demokrasi yg menjungjung tinggi hak asasi manusia.banyak pihak yang  menyatakan bahwa tragedi ini lebih parah dan lebih tragis dibandingkan dengan tragedi lapangan tiananmen di beijing china yg dilakukan oleh rejim komunis China. 

Tragedi ini merupakan tragedi kemanusiaan yg menampar nurani setiap manusia pada peradaban modern umat manusia yg sangat menghormati hak asasi manusia termasuk hak utk hidup secara damai,tentram dan bahagia.

Tragedi inipun, juga telah meninggalkan luka yg mendalam bagi keluarga korban,keluarga besar Masyarakat Mahasiswa Universitas Trisakti beserta jajaran Civitas Akademika Universitas Trisakti dan rakyat indonesia secara khusus serta masyarakat internasional secara umum.

Kami, sebagai aktivis pejuang HAM menyatakan :
  1. Menuntut kepada Pemerintah RI dan DPR RI agar serius dalam menuntaskan kasus pelanggaran HAM oleh aparat Kepolisian di masa lalu terutama Tragedi Trisakti 98, tidak hanya kasus yang dipolitisasi seperti Kasus Novel Baswedan.
  2. Menuntut kepada Institusi Penegak Hukum RI dalam hal ini Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yg telah diberikan mandat oleh UU No.26 Tahun 2000 ttg Pengadilan HAM utk menangkap Jend.(Polisi)Timur Pradopo yg pada saat tragedi Mei 1998 di depan kampus Universitas Trisakti (Grogol-Jakarta Barat) manjabat sebagai Kapolres Jakarta Barat
  3. Meminta Kepada Semua Pihak agar Mendukung supremasi hukum dan Ham atas Tragedi Trisakti 98 dan pelanggaran HAM lainnya dimasa lalu.

Dalam penanganan kasus ini, Polisi tidak boleh tebang pilih dalam penuntasan kasus, andaikatapun Kompol Novel Baswedan akan ditahan, maka Polri harus segera juga menahan pejabat Kepolisian yang lain berkaitan dengan pelanggaran disipliner dan kriminal yang dilakukan, termasuk tragedi Mei 1998 oleh Polisi dibawah pimpinan Kapolres Jakarta Barat, Timur Pradopo.

Demikianlah maksud dan tujuan kami mengeluarkan pernyataan sikap ini agar semua pihak dapat mendukung segala daya dan upaya kami sebagai keluarga besar universitas trisakti dalam mengungkap kasus tragedi trisakti 98.atas perhatian dan kerjasamanya kami mengucapkan banyak terima kasih.
 

Hormat Kami,
Bayu Saputra Muslimin, SH
+6281343792942
Ketua Tim Penuntasan Kasus Tragedi 12 Mei 1998 Periode VIII (2008-2010)
Ketua OTF Peradilan Semu Fakultas Hukum Universitas Trisakti
Lembaga Bantuan Hukum Universitas Trisakti


Selasa, 11 September 2012

INI SOAL TENUN KEBANGSAAN, TITIK...!!!


Oleh : Anis Baswedan, PhD

Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa!

Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi.

Janji pertama Republik ini adalah melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara yang harus mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam bencana alam tapi karena diancam saudara sebangsa, maka Republik ini telah ingkar janji.

Akhir-akhir ini nyawa melayang, darah terbuang percuma ditebas oleh saudara sebahasa di negeri kelahirannya. Kekerasan terjadi dan berulang. Lalu berseliweran kata minoritas, mayoritas dimana-mana. Perlindungan minoritas dibahas amat luas.

Bangsa ini harus tegas: berhenti bicara minoritas dan mayoritas dalam urusan kekerasan. Kekerasan ini terjadi bukan soal mayoritas lawan minoritas. Ini soal sekelompok warga negara menyerang warga negara lain.

Kelompok demi kelompok warga negara secara kolektif menganiaya sesama anak bangsa. Mereka merobek tenun kebangsaan !

Tenun Kebangsaan itu dirobek dengan diiringi berbagai macam pekikan seakan boleh dan benar. Kesemuanya terjadi secara amat eksplisit, terbuka dan brutal.

Apa sikap negara dan bangsa ini? Diam? Membiarkan?

Tidak! Republik ini tidak pantas loyo-lunglai menghadapi warga negara yang pilih pakai pisau, pentungan, parang bahkan pistol untuk ekspresikan perasaan, keyakinan, dan pikirannya.

Mereka bukan sekadar melanggar hukum tapi merontokkan ikatan kebangsaan yang dibangun amat lama dan amat serius ini. Mereka bukan cuma kriminal, mereka perobek tenun kebangsaan.

Tenun Kebangsaan itu dirajut dengan amat berat dan penuh keberanian. Para pendiri republik sadar bahwa bangsa di Nusantara ini amat bhineka. Kebhinekaan bukan barang baru. Sejak negara ini belum lahir semua sudah paham. Kebhinekaan di Nusantara adalah fakta, bukan masalah !

Tenun kebangsaan ini dirajut dari kebhinekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik. Setiap benang membawa warna sendiri. Persimpulannya yang erat menghasilkan kekuatan.

Perajutan tenun inipun belum selesai. Ada proses yang terus menerus. Ada dialog dan tawar-menawar antar unsur yang berjalan amat dinamis di tiap era. Setiap keseimbangan di suatu era bisa berubah pada masa berikutnya.

Dalam beberapa kekerasan belakangan ini, salah satu sumber masalah adalah kegagalan membedakan "warga negara" dan "penganut sebuah agama".

Perbedaan aliran atau keyakinan tidak dimulai bulan lalu. Usia perbedaannya sudah ratusan -bahkan ribuan- tahun dan ada di seluruh dunia. Perbedaan ini masih berlangsung terus, dan belum ada tanda akan selesai minggu depan.

Jadi, di satu sisi, negara tidak perlu berpretensi akan menyelesaikan perbedaan alirannya. Di sisi lain, aliran atau keyakinan bisa saja berbeda tapi semua adalah warga negara republik yang sama. Konsekuensinya, seluruh tindakan mereka dibatasi oleh aturan dan hukum republik yang sama. Di sini negara bisa berperan.

Negara memang tidak bisa mengatur perasaan, pikiran, ataupun keyakinan warganya. Tetapi negara sangat bisa mengatur cara mengekspresikannya. Jadi dialog antar pemikiran, aliran atau keyakinan setajam apapun boleh, begitu berubah jadi kekerasan maka pelakunya berhadapan dengan negara dan hukumnya.

Negara jangan mencampuradukkan friksi/konflik antar penganut aliran/keyakinan dengan friksi/konflik antar warga senegara. Dalam menegakkan hukum, negara harus selalu melihat semua pihak semata-mata sebagai warga negara dan hanya berpihak pada aturan di republik ini.

Apalagi aparat keamanan, ia harus hadir untuk melindungi “warga-negara” bukan melindungi “pengikut” keyakinan/ajaran tertentu. Begitu pula jika ada kekerasan, maka aparat hadir untuk menangkap “warga-negara” pelaku kekerasan, bukan menangkap “pengikut” keyakinan yang melakukan kekerasan. Pencampuradukan ini salah satu sumber masalah yg harus diurai secara jernih dan dingin.

Menjaga tenun kebangsaan dengan membangun semangat saling menghormati serta toleransi itu baik dan perlu. Disini pendidikan berperan penting. Tetapi itu semua tak cukup, dan takkan pernah cukup.

Menjaga tenun kebangsaan itu juga dengan menjerakan setiap perobeknya. Ada saja manusia yang datang untuk merobek. Bangsa dan negara ini boleh pilih: menyerah atau “bertarung” menghadapi para perobek itu. 

Jangan bangsa ini dan pengurus negaranya mempermalukan diri sendiri di hadapan penulis sejarah, bahwa bangsa ini gagah mempesona saat mendirikan negara bhineka tapi lunglai saat mempertahankan negara bhineka.

Membiarkan kekerasan adalah pesan paling eksplisit dari negara bahwa kekerasan itu boleh, wajar, dipahami, dan dilupakan. Ingat, kekerasan itu menular. Dan, pembiaran adalah resep paling mujarab agar kekerasan ditiru dan meluas.

Pembiaran juga berbahaya karena tiap robekan di tenun kebangsaan ini efeknya amat lama. Menyulam kembali tenun yang robek, hampir pasti tidak bisa memulihkannya. Tenun yg robek selalu ada bekas, selalu ada cacat.

Ada seribu satu pelanggaraan hukum di republik ini, tapi gejala merebaknya kekerasan dan perobekan tenun kebangsaan itu harus jadi prioritas utama untuk dibereskan. Untuk mensejahterakan bangsa semua orang boleh “turun-tangan”, tapi untuk menegakkan hukum hanya aparat yang boleh “turun-tangan”. Jadi saat penegak hukum dibekali senjata itu tujuannya bukan untuk tampil gagah saat upacara, tapi untuk dipakai saat melindungi warga negara, saat menegakkan hukum. Negara harus berani dan menang "bertarung” melawan para perobek itu.

Bahkan saat tenun kebangsaan terancam itulah negara harus membuktikan di Republik ini ada kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat tapi tidak ada kebebasan untuk melakukan kekerasan.

Aturan hukumnya ada, aparat penegaknya komplit. Jadi begitu ada warga negara yang pilih untuk  melanggar dan meremehkan aturan hukum untuk merobek tenun kebangsaan, maka sikap negara hanya ada satu: ganjar mereka dengan hukuman yang amat menjerakan. Bukan cuma tokoh-tokohnya saja yang dihukum. Setiap gelintir orang yang terlibat harus dihukum tanpa pandang agama, etnis, atau partai. Itu sebagai pesan pada semua: jangan pernah coba-coba merobek tenun kebangsaan!

Ketegasan dalam menjerakan perobek tenun kebangsaan membuat setiap orang sadar bahwa memilih kekerasan adalah sama dengan memilih untuk diganjar dengan hukuman yang menjerakan. Ada kepastian konsekuensi.

Ingat, Republik ini didirikan oleh para pemberani: berani dirikan Negara yang bhineka. Kita bangga dengan mereka. Kini pengurus negara diuji. Punyakah keberanian untuk menjaga dan merawat kebhinekaan itu secara tanpa syarat? Biarkan kita semua -dan kelak anak cucu kita- bangga bahwa Republik ini tetap dirawat oleh para pemberani.

----------------------------
Tulisan dimuat di Harian Kompas, 11 September 2012 Halaman 6 dalam Rubrik Opini