SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Blog Pribadi Atma Winata Nawawi

Minggu, 07 Juli 2013

MASJID AGENG KARATON SURAKARTA HADININGRAT

Menara Mesjid Saat Subuh


Masjid Agung Kraton Surakarta (nama resmi bahasa Jawa: Masjid Ageng Karaton Surakarta Hadiningrat) pada masa pra-kemerdekaan adalah sebuah masjid agung milik kerajaan (Surakarta Hadiningrat) dan berfungsi selain sebagai tempat ibadah juga sebagai pusat syiar Islam bagi warga kerajaan.


Masjid Agung dibangun oleh Sunan Pakubuwono III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768. Masjid ini merupakan masjid dengan katagori masjid jami', yaitu masjid yang digunakan untuk salat berjamaah dengan ukuran makmum besar (misalnya salat Jumat dan salat Ied). Dengan status sebagai masjid kerajaan, masjid ini juga berfungsi mendukung segala keperluan kerajaan yang terkait dengan keagamaan, seperti Grebeg dan festival Sekaten

Raja (Sunan) Surakarta berfungsi sebagai panatagama (pengatur urusan agama) dan masjid ini menjadi pelaksana dari fungsi ini. Semua pegawai mesjid diangkat menjadi abdi dalem kraton, dengan gelar seperti Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (untuk penghulu) dan Lurah Muadzin untuk juru adzan.

Tampak Depan

Gerbang Mesjid Agung

Pendopo

Tempat Abdi Dalem Berkumpul
Masjid Agung menempati lahan seluas 19.180 meter persegi yang dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta merupakan bangunan bergaya tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka (mahkota). Gaya bangunan tradisional Jawa ini adalah khusus untuk bangunan masjid.

Di dalam kompleks Masjid Agung dapat dijumpai berbagai bangunan dengan fungsi kultural khas Jawa-Islam. Juga terdapat maksura, yang merupakan kelengkapan umum bagi masjid kerajaan
.

Kamis, 04 Juli 2013

GUNUNG KAWI DAN KOTA MALANG


Gunung Kawi
Banyak diantara kita yang langsung terpikir mengindentikan kota Malang dengan Gunung Semeru ataupun Gunung Bromo, memang pasca keluarnya film 5cm di layar lebar, kedua Gunung yang terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTS) ini menjadi primadona wisata domestik, hal yang agak terlambat karena mengingat kedua gunung ini sejak lama telah menjadi primadona wisata Mancanegara.

Namun sesungguhnya Gunung Kawi lah yang secara posisi paling dekat dengan Kota Malang, gunung ini dapat dinikmati dari tengah kota, seolah menjadi penjaga dan pelindung masyarakat di kota Malang. 

Banyak orang yang mengenal Gunung Kawi karena mistisnya, dianggap sebagai tempat persembahan dan mencari kekayaan

Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaannya, terutama menyangkut masalah kekayaan. Mitos seputar pesugihan Gunung kawi ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan “berkah” berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka.

Biasanya lonjakan pengunjung yang melakukan ritual terjadi pada hari Jumat Legi (hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena ‘dikeramatkan’ dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan, antara lain:

Rumah Padepokan Eyang Sujo. Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro. 
 
Guci Kuno. Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama ‘janjam’. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membuat seseorang menjadi awet muda. 
 
Pohon Dewandaru. Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman.

Untuk mendapat ‘simbol perantara kekayaan’, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet.
Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.

Siapakah sesungguhnya Eyang Jugo dan Eyang Sujo?

Yang dimakamkan dalam satu liang lahat di pesarean Gunung Kawi ini? Menurut Soeryowidagdo (1989), Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo atau Raden Mas Iman Sudjono adalah bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kawi ini.

Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkancara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan lain yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.

Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke makam mereka melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam eninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo etiap tanggal 1 bulanSuro (muharram), di tempat ini selalu diadakan erayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini iasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut.

Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.

Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.

Senin, 01 Juli 2013

Rabu, 19 Juni 2013

MEMPERTANYAKAN KESERIUSAN PEMERINTAH MELAKUKAN PENGOLAHAN DAN PEMURNAN MINERAL DI DALAM NEGERI

Dalam menyambut HUT KAHMI ke-47, departemen riset dan teknologi Majelis Nasional KAHMI mengadakan Takshow dengan judul "Mempertanyakan Keseriusan Pemerintah Melakukan Pengolahan dan Pemurnian Mineral Dalam Negeri". Yang menghadirkan narasumber Martiono Hardianto (Presdir NNT/Ketua API-IMA), Hamdan Zulfa (Hakim Konstitusi), Sutan Batugana (Ketua Komisi 7/FPD). 

Setelah dikeluarkan UU No.4/2009 tentang Mineral dan Batubara mestinya dilanjutkan dengan keluarnya PP di tahun yang sama, kemudian diperkuat dengan Permen yang seharusnya juga diwaktu yang sama. Namun kenyataannya UU Minerba disahkan baru pada tahun 2010 PP No.7 tentang petunjuk UU tersebut disahkan, yang akhirnya Permen baru keluar pada tahun 2011.

UU tersebut mengamanahkan Perusahaan Tambang utk membuat smelter 4 tahun setelah beroperasi. Deadline Januari 2014. Apakah ini benar-benar serius? Dalam tahun itu juga mestinya keluar PP. Khusus perusahaan tambang pemegang kontrak karya, ada keharusan untuk memulai proses. Setiap tahun, perusahaan kontrak karya menyampaikan studi, dan studi yg kita sampaikan tidak pernah mendapat tanggapan. Mendadak pada tahun 2009 di buat UU bahwa perusahaan harus membuat smelter. 

Pertanyaan Investor apakah Indonesia masih ngn menjadi anggota International Community. Semua peraturan sebelum di UU harus mendapat persetujuan DPR. Yang menjadi masalah besar adalah Permen No.7 Tahun 2012, dalam lampiran menetapkan secara rinci. Padahal dalam UU, PP, dan Batang Permen hal tersebut blum ada. Karena bisa dimurnikan maka dikatakan bisa dimurnikan. IMA bbrp kali mencoba meyakinkan pemerintah dengan mengundng berbagai pihak yang memahami pemurnian. Sejak 2012 kita lakukan FGD, rupanya dari sana terungkap 5 komoditi, (besi, tembaga (non-visible), bauksit, nikel, zinc). Presivisibility study. Semua metal2 yang ada tsb blum ada smelter, hampir dipastikan pada Januari 2014 blum bisa dilaksanakan. Bahwa apabila pada Januari kita dilarang ekspor, maka akan kehilangan devisa US$ 8 billion. Kemudian juga akan ada pemotongan karyawan.

Mudah-mudahan aka nada perubahan yang baik, karna dampak politik, ekonomi, dan sosial sangat besar.

Senin, 17 Juni 2013

MENUNGGU PERDEBATAN CERDAS DI DPR

Senin pagi ini Dewan Perwakilan Rakyat akan mengadakan Sidang Paripurna untuk menerima atau menolak Rancangan Anggaran dan Pendapatan Negara Perubahan 2013 yang diajukan pemerintah. Pembahasan di tingkat Badan Anggaran sudah selesai hari Sabtu di mana sembilan fraksi menyetujui peningkatan APBN menjadi sebesar Rp 1.726 triliun.

Perubahan APBN terpaksa dilakukan terutama karena besar subsidi bahan bakar minyak yang semula ditetapkan Rp 194 triliun tidak mungkin lagi mencukupi dengan tingkat konsumsi seperti sekarang ini. Perhitungan yang dilakukan menyebutkan bahwa subsidi BBM akan membengkak sampai Rp 90 triliun apabila tidak dilakukan penaikan harga.

Pertanyaannya, apakah kita akan menolelir kenaikan Rp 90 triliun untuk subsidi BBM. Mayoritas partai politik berpendapat terlalu mubasir kalau kita harus menambah subsidi BBM sampai Rp 90 triliun. Tetap dianggarkan subsidi yang lebih besar dari Rp 194 triliun, tetapi tambahannya tidak Rp 90 triliun.

Oleh karena tidak ditambah penuh Rp 90 triliun, maka beban itu sebagian harus ditanggung masyarakat. Itulah yang membuat harga BBM bersubsidi akan naik dari Rp 4.500 per liter seperti yang berlaku sekarang ini. Usulan pemerintah, harga bensin bersubsidi dinaikkan menjadi Rp 6.500, sementara solar bersubsidi dinaikkan menjadi Rp 5.500.

Perdebatan itulah yang kita bisa lihat hari Senin pagi. Bagaimana para anggota DPR akan saling beradu argumentasi tentang perlunya harga BBM bersubsidi itu dinaikkan atau tidak. Lima partai politik mendukung kenaikan yakni Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Amanat Nasional. Empat partai berada dalam posisi menolak yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Hati Nurani Rakyat, dan Partai Gerakan Indonesia Raya.

Kita berharap perdebatan berlangsung cerdas. Kualitas argumentasi yang disampaikan dan cara menyampaikannya penting untuk membuat masyarakat menjadi tercerahkan. Jangan sampai yang terjadi di dalam Sidang Paripurna adalah pokrol bambu, karena resonansinya akan sampai keluar di mana banyak kelompok akan melakukan unjuk rasa.

Pada akhirnya semua itu akan berpulang kepada kehidupan kita sebagai bangsa. Kalau perbedaan yang ada mampu dikelola dengan baik, maka kita akan bisa menjadi bangsa yang lebih baik. Namun jika kita hanya mengandalkan otot dan menang-menangan, maka kita semua akan mengalami kemunduran.

Satu hal yang ingin kita ingatkan bahwa selama 68 tahun kita merdeka, kita terlalu bertumpu kepada minyak. Cerita-cerita yang menyebutkan bahwa kita adalah negeri yang kaya minyak, tidaklah tepat. Kita memang negeri yang kaya energi, namun energi itu bukanlah minyak.

Menurut Pendiri Kelompok Medco, Arifin Panigoro, sejak tahun 2004 jumlah produksi minyak kita lebih rendah dari konsumsinya. Sekarang ini perbedaan itu semakin tinggi, di mana setiap hari kita harus mengimpor sekitar 750.000 barrel minyak dalam bentuk mentah maupun jadi. Artinya, untuk menopang kebutuhan energi masyarakat, kita harus mengimpor 1,2 juta liter setiap harinya.

Kita akan mengalami kesulitan besar apabila cara pandang pemenuhan kebutuhan energi itu tidak kita ubah. Kita harus mencari energi alternatif dan bahkan energi itu haruslah energi yang terbarukan, bukan energi asal fosil yang tidak bisa terbarukan seperti sekarang ini.

Kita tidak akan bosan-bosannya untuk mengingatkan agar kita tidak boleh kalah dari negara seperti Swedia yang berhasil mendiversikasi kebutuhan energi masyarakatnya. Swedia berhasil mengurangi 50 persen kebutuhan energi berasal dari minyak untuk digantikan dengan bioenergi.

Padahal Swedia itu tidak sekaya Indonesia sumber daya alamnya. Ethanol yang mereka pergunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor juga harus mereka impor. Tetapi mereka memilih menggunakan ethanol karena selain bisa terbarukan, ethanol lebih ramah terhadap lingkungan.

Bahkan yang luar biasa, Swedia menggunakan kayu sebagai energi untuk masyarakat. Semua ranting, dahan, dan bahkan batang pohon yang tidak terpakai mereka buat menjadi pelet. Pada musim dingin, semua rumah tangga menggunakan pelet untuk menghangatkan rumah mereka.

Semua itu bisa mereka lakukan karena visi pemenuhan energi mereka sangat jelas. Swedia memilik strategi yang dijalankan secara konsisten oleh seluruh bangsanya. Mereka tidak terus berkutat pada persoalan harga BBM, tetapi keluar dengan pikiran yang lebih bernas.

Indonesia seharusnya bisa lebih hebat dari Swedia. Sebab, kita memiliki sumber daya alam yang jauh lebih lengkap dari Swedia. Kita punya sinar Matahari yang bersinar 12 bulan penuh, sementara Swedia hanya 3 bulan dalam setahun. Kita masih punya air, angin, dan produk pertanian yang bisa diubah menjadi energi.

Bagi kita sebenarnya tinggal kemauan untuk melakukannya. Tidak mungkin kita akan mampu memanfaatkan semua kekayaan alam itu, kalau tidak mau berpikir. Selama kita tidak pernah mau berpikir alternatif, maka seumur-umur kita akan berkutat dengan minyak dan lebih ironis berkelahi terus hanya soal harga BBM.

Jumat, 10 Mei 2013

AL-MU'ID ; YANG MAHA MENGEMBALIKAN

Dia (Allah) yang menyiptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ar-Rumm: 27)

Adalah wajar jika manusia bertanya-tanya tentang kehidupannya setelah mati, apakah mereka binasa selamanya atau akankah mereka kembali dihidupkan. Pertanyaan seperti itu tak mungkin bisa dijawab secara memuaskan oleh sains maupun teknologi. Kecerdasan intelektual manusia yang sangat terbatas itu tak mungkin bisa menjawab misteri ini. Itulah sebabnya, Allah mengutus para Nabi dan Rasul serta menurunkan wahyu untuk menjelaskan berbagai masalah ghaib yang terlihat gelap bagi mata telanjang.

Jangankan manusia biasa, Nabi Ibrahim yang disebut sebagai khalilullah, kekasih Allah, yang keyakinan dan keimanannya telah mencapai seratus persen itu masih minta ditunjukkan “simulasi” penciptaan kembali. Allah tidak tersinggung dengan permintaan Ibrahim tersebut, Dia hanya bertanya, apakah kamu kurang percaya? Ibrahim menjawab, bukannya kurang percaya, tapi justru untuk lebih meyakinkan keimananku. Pendek cerita, Ibrahim diperintahkan untuk menangkap beberapa burung, lalu burung-burung itu dicincang-cincang menjadi beberapa bagian. Masing-masing bagian diletakkan di atas bukit, lalu Ibrahim diperintahkan untuk memanggil semuanya. Potongan-potongan daging burung itu lalu menyatu kembali, hidup, dan bisa terbang lagi.

Subhanallah, simulasi tersebut bukan sulap, bukan magic, juga bukan permainan ketangkasan. Melalui simulasi itu Allah hendak meyakinkan manusia bahwa mengembalikan kejadian makhluk-Nya kepada keadaan semula itu lebih ringan daripada membuat materi baru. Walaupun di sisi Allah tidak ada istilah lebih ringan dan lebih berat. Bagi Allah segala kehendak-Nya pasti terjadi. Jika Dia berkehendak, cukup bagi-Nya berfirman “kun” (jadilah), maka jadi.

Kaum musyrikin, sebagaimana juga kaum lain yang tidak mendapat informasi dari Allah melalui wahyu yang diturunkanNya akan terheran-heran jika ada yang menyatakan bahwa ada kehidupan setelah mati. Mereka bertanya-tanya, apakah setelah manusia menjadi tulang belulang, bahkan telah melebur menjadi tanah bisa dihimpun dan dapat hidup lagi? Karena yang merasa heran atas kejadian tersebut bukan hanya kaum musyrik yang hidup pada jaman Nabi, tapi akan selalu ada orang yang bertanya-tanya soal itu hingga akhir zaman, maka al-Qur’an perlu menginformasikannya: “Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan debu, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” (QS. Al-Isra’: 49)

Pertanyaan yang menggambarkan keraguan, bahkan ketidakyakinan itu jangan dibiarkan. Pertanyaan seperti itu harus dijawab secara tegas melalui argumentasi yang pas dan akurat. Dalam hal ini Allah membimbing Nabi Muhammad untuk menjawab mereka, sebagaimana tertera dalam al-Qur’an:

Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu, atau menjadi makhluk lain yang menurut pikiranmu tidak mungkin (bangkit kembali). Mereka akan bertanya, siapa yang akan mengembalikan kami lagi (seperti semula)? Katakanlah, “yang menciptakan pertama kali.” Lalu mereka akan menggelengkan kepala kepadamu dengan mengatakan, “Kapan akan terjadi?” Katakanlah, boleh jadi segera. (QS. Al-Isra: 50 – 51)

Al-Qur’an adalah kalamullah, ia merekam berbagai kejadian masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Al-Qur’an juga merekam berbagai gejolak yang timbul dalam benak dan pikiran manusia, baik yang disembunyikan maupun yang dinyatakan. Di antara gejolak pikiran yang timbul berkaitan dengan topik kita kali ini, direkam secara tajam melalui firmanNya:

"Dan (manusia durhaka) membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya. Ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menyiptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau itu”. Dan tidaklah Tuhan yang menyiptakan langit dan bumi itu berkuasa menyiptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yaasin: 78 – 81)
Dialah Al-Mu’id, Tuhan Yang Maha Mengembalikan. Masih adakah keraguan dalam pikiran dan perasaan kita? Mudah-mudahan kita kembali ke jalan yang lurus.

Jumat, 03 Mei 2013

SEKILAS TENTANG KANTOR FREE WEST PAPUA CAMPAIGN DI OXFORD



SEBUAH kantor kecil ternyata bisa bikin para politisi penghuni Kompleks Parlemen Senayan gerah. Itulah kantor OPM (Organisasi Papua Merdeka). 

Ceritanya, pada 29 April 2013, pemimpin OPM di Inggris Benny Wenda membuka secara resmi kantor Free West Papua Campaign di Kota Oxford. Acaranya sederhana, dihadiri tak lebih dari 50 orang. Tapi jadi berita besar karena reaksi keras pemerintah dan politisi di Jakarta. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa meminta klarifikasi sekaligus memprotes langsung Dubes Inggris Mark Canning di Jakarta. Dari Senayan, nada protes terdengar lebih beragam: panggil Dubes Inggris ke Komisi I, tutup kantor OPM, dan tarik Dubes Indonesia di London.

Reaksi keras muncul gara-gara Walikota Oxford menghadiri acara serta ikut menggunting pita pada peresmian kantor itu. Kehadiran sang pejabat dipersepsikan sebagai dukungan Pemerintah Inggris terhadap gerakan Papua Merdeka. Padahal sikap Dewan Kota Oxford sama sekali tidak mewakili pandangan politik luar negeri Inggris. Persis dukungan seorang anggota parlemen di sana terhadap Papua Merdeka yang tak bisa dipersepsikan sebagai dukungan Parlemen Inggris secara resmi.

Kita juga tidak bisa meminta pemerintah Inggris untuk menutup kantor OPM di negara itu. Sebab, undang-undang di Inggris memang mengizinkan pembukaan kantor itu. Tidaklah elok jika kita mendesak pemerintah suatu negara untuk melanggar aturannya sendiri.

Apa yang terjadi di Inggris sebenarnya juga terjadi di Indonesia. Hizbut Tahrir (HT), organisasi internasional Islam yang berpusat di London, terlarang di Inggris. Tapi, tidak demikian di Indonesia. Karena itu, HT mendirikan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang aktif memperjuangkan ide pendirian pemerintah Islam sedunia yang disebut Khilafah Islamiyah. Beberapa acara HTI pun dihadiri pejabat pemerintah.

Pemerintah Indonesia jelas bersalah jika melarang berdirinya cabang Hizbut Tahrir di Indonesia karena mereka tidak melanggar undang-undang. Juga keliru bila pemberian izin sekaligus kehadiran pejabat dalam acara HTI dipersepsikan sebagai dukungan Pemerintah Indonesia atas gagasan Khilafah Islamiyah.
  
Internasionalisasi Kasus Papua

Mulanya, pembukaan kantor OPM di Oxford hanyalah sebuah peristiwa kecil. Hampir tak ada liputan media. Namun, setelah muncul reaksi keras pemerintah dan DPR, peristiwa itu bukan hanya digunjingkan media di Indonesia tapi juga oleh media internasional.

Liputan media adalah berkah bagi Benny Wenda dan kawan-kawan. Sebab, salah satu agenda kelompok OPM di luar negeri adalah internasionalisasi kasus Papua. Tujuannya, membangun kesadaran masyarakat internasional bahwa ada masalah di Papua. Dari situ mereka berharap ada dukungan dari penjuru dunia terhadap gerakan Papua Merdeka.

Soal internasionalisasi kasus Papua ini perlu dipahami Jakarta. Internasionalisasi bakal selalu mencuat bila di Papua terjadi hal-hal yang buruk semisal kasus pelanggaran hak asasi manusia, kegagalan pemerintah menyejahterakan rakyat, kasus korupsi, dan sebagainya. Setiap kebobrokan yang terjadi di Papua akan digiling sebagai pesan kampanye kelompok Papua Merdeka di luar negeri.
Jika para pejabat pemerintah dan kalangan DPR di Jakarta tidak ingin terjadi internasionalisasi kasus Papua, maka rumusnya sederhana: jangan berlaku buruk di Papua. Lenyapkan kebobrokan, lakukanlah hal baik seperti penegakan hukum dan penegakan hak asasi manusia. Operasi militer harus dihindari dan diganti dengan dialog dalam menyelesaikan konflik politik. Berantas korupsi dan sejahterakan rakyat! Itulah tuntutan masyarakat Papua.

Rumus ini terbukti efektif dalam kasus penembakan anggota TNI di Puncak Jaya oleh pasukan TPN OPM (Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka) yang dipimpin Goliat Tabuni, Februari 2013. Meski berduka karena kehilangan personil militer, pemerintah menanggapi dengan tenang. Tidak bertindak keras dengan senjata, pemerintah berupaya mendahulukan proses hukum atas kasus penembakan tersebut. 

Hasilnya, aksi kekerasan TPN OPM dikecam dunia internasional. Bahkan kecaman juga datan dari negara-negara yang jadi basis kampanye gerakan Papua Merdeka seperti Australia, Amerika, dan Inggris. Rumus serupa hendaknya dapat diterapkan untuk mengatasi masalah kantor OPM di Oxford atau di mana pun. 

Solahudin, peneliti Papua