SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Blog Pribadi Atma Winata Nawawi

Selasa, 22 Oktober 2013

PERAN PEMBENTUKAN OPINI OLEH MEDIA DALAM PEMILU



Media adalah alat yang paling ampuh bagi publik untuk mengontrol politisi. Sebagai representasi dari kepentingan publik, medialah yang paling berperan sebagai wakil publik dalam mengontrol perilaku para politisi. Publik tidak akan menanggung beban dan akibat dari kebijakanyang dirumuskan, disetujui, dan diputuskan berbagai pejabat publik.” Lewis Powell – Hakim Agung di Amerika Serikat.
Napoleon Bonaparte pernah berujar, “Saya lebih memilih berhadapan dengan ribuan tentara musuh daripada harus berhadapan dengan satu orang wartawan.” Napoleon menyadari bahwa dalam dunia politik, media menjadi alat paling ampuh dalam membentuk opini public. Seribu tentara yang menghunus pedang tak begitu terlihat menakutkan karena serangan dan geraknya dapat terbaca. Akan tetapi wartawan dengan opini yang dibuatnya mampu mempengaruhi jutaan orang dengan arah dan opini yang sulit ditebak. Media jauh lebih menusuk dibandingkan dengan senjata canggih sekalipun.
Kata-kata berenergi diatas seolah menyentak kesadaran public. Media sungguh sangat dashyat. Bagi politisi atau penguasa, media massa adalah pisau bermata dua. Disatu sisi, media merupakan alat paling efektif untuk mengupas pemberitaan positif yang dapat memopulerkan dan meningkatkan pencitraan positif seorang politisi atau penguasa. Sementara di sisi lain, media justru dapat menikam dan menguliti seorang politisi dengan pemberitaan negative. Penguasa bisa dijatuhkan dan mendapatkan citra buruk bertubi-tubi karena kuatnya pemberitaan negatif yang mengarah pada pemerintahannya.
Oleh karena itu, tidak aneh bila setiap rezim otoriter di belahan bumi ini kerap mengontrol media secara ketat. Simaklah pelbagai peristiwa yang terjadi di masa orde baru. Media massa dikekang. Jika ada media yang berani sedikit saja melawan kekuatan rezim maka otomatis akan dibredel. Pembredelan adalah peristiwa biasa yang bisa kita tengok di setiap sudut waktu. Hanya pemberitaan positif terhadap rezim yang diizinkan. Jika tidak ingin ditutup, sikap kritis media mau tidak mau mesti dilontarkan dengan sangat hati-hati.
Situasi mencekam seperti ini tidak berlangsung abadi, seperti lazimnya kehidupan dunia itu sendiri memang tidak kekal. Di akhir masa pemerintahan rezim orde baru, khususnya di era tahun 1998 media semakin berani mengkritik kebijakan pemerintah yang salah. Bahkan, media berhasil memaksa rezim itu masuk kubangan. Media membuncah, suara media seolah suara publik. Media menjelma menjadi kekuatan kritis yang sulit dibendung oleh siapapun, apalagi menjelang dan sesudahnya tumbang rezim orde baru. Pemberitaan media massa sangat berperan dalam menggulirkan nafas reformasi. Setiap kebijakan pemerintah yang dipandang tidak pro-rakyat dikuliti secara terbuka. Independensi media dan kebebasannya mulai memunculkan bentuknya yang asli : bermata dua, bisa memberitakan yang positif dan negative sekaligus.
Masyarakat pun kini sudah lebih dewasa dalam menentukan sikap politiknya. Hal ini disebabkan pendidikan politik yang didapatkannya secara luas melalui berbagai media, masyarakat bisa mengakses informasi melalui pelbagai media secara bebas. Media kini sanggup menyediakan hidangan yang beragam, sementara public menyibaknya sesuai nalar dan perasaannya masing-masing. Tidak seperti di era orde lama atau orde baru yang terkungkung oleh sikap represi rezim berkuasa atau karena miskinnya informasi media yang didapat, masyarakat Indonesia pasca reformasi telah memulai tercerahkan oleh pendidikan politik. Masyarakat mulai kritis dalam mengevaluasi dan menilai kiprah dan sepak terjang elit politik.
Kini, politik tidak hanya monopoli segelintir orang, masyarakat lain pun merasa berhak untuk menentukan sikap politik tanpa rasa takut dengan pilihannya. Rakyat semakin dewasa dan bebas, berkat media yang juga semakin bebas.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi merupakan penyumbang besar dalam pendidikan politik. Apalagi dengan semakin besarnya gelombang demokratisasi di dunia, masyarakat telah memainkan peran yang penting dalam mempengaruhi setiap kebijakan dan keputusan politik pemerintah. Melalui televisi, seseorang dapat menyaksikan kinerja, platform, visi, dan misi partai. Masyarakat dapat menyaksikan kesungguhan dan komitmen seorang konstestan pemilu serta mengevaluasi, membandingkan, dan menentukan pilihan setelah menyaksikan sejumlah berita di media massa dengan bebas.
Melalui internet seseorang dengan sangat mudah, cepat, dan tepat dapat melihat program kerja suatu partai berjalan dengan baik atau sebaliknya. Setiap individu dapat mengakses informasi tanpa terbentur oleh ruang, jarak, dan waktu yang jauh. Ditambah lagi dengan pendidikan formal politik yang juga berperan secara strategis dan menumbuhkan kesadaran public tentang makna demokrasi. Masyarakat semakin menyadari bahwa tindakan berpolitik dan berdemokrasi bisa diekspresikan dalam berbagai ruang gerak dan jenjang serta bentuk suara atau ekspresi yang beragam.
Media massa yang kian terbuka dan kritis semakin member andil dan memainkan peran signifikan dalam memberikan pencerahan politik kepada masyarakat, baik di tingkat local, daerah, nasional, bahkan internasional. Kritik-kritik yang dilontarkan oleh media massa dengan cerdas, tajam, dan konstruktif dapat memudahkan masyarakat untuk memahami kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Dengan intensifnya media massa dalam memberikan pencerahan politik kepada masyarakat, mendorong untuk terciptanya kesadaran masyarakat akan pentingnya transisi politik Negara melalui Pemilihan Umum. Hal ini akan mengarahkan pada terciptanya Pemilu yang berkualitas dan terbentuknya pemerintahan yang efektif dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Namun, semua ini bukanlah tanpa tantangan. Politik Monopoli media yang dikuasai oleh sekelompok orang yang juga memiliki kepentingan politik, membuat independensi media menjadi dipertanyakan. Kini sulit untuk menemukan media yang benar-benar independen tanpa kepentingan politik sang pemiliknya. Kepiawaian dalam mengemas sosok seseorang yang mungkin sebelumnya dicap negatif dapat dirubah melalui iklan dan penampilan di semua lini berita sehingga menjadi positif. Iklan-iklan politik di televisi menjual kandidat Presiden, seperti produsen menjajakan produk kecap dan obat nyamuk.
Pengaruh media massa memang telah menjadi kajian tersendiri dalam ilmu komunikasi politik. Media dianggap mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi opini dan perilaku public. Media diyakini dapat mentransmisi dan menstimulasi permasalahan-permasalahan politik dengan peran yang sangat hebat. Oleh karena itu media massa menjadi alat yang sangat penting dalam kampanye politik. Jaringan media di tengah-tengah masyarakat dianggap sebagai alat yang paling canggih dalam mensosialisasikan program kerja, citra partai, pesan politik, dan kepentingan politik lain. Karena begitu besar peran media, tidak jarang beberapa kalangan menggunakan media sebagai alat untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap kontestan politik yang menjadi kompetitornya.
Jadi, apakah media dapat bermanfaat untuk menaikkan pencitraan atau mendatangkan bencana bagi perilaku yang dianggap negatif? Itu tergantung bagaimana tokoh-tokoh politik memainkan momentum dengan media.
Semoga melalui media yang independen dan actual, kita dapat menemukan pemimpin dan wakil rakyat baru dalam menyongsong Pemilu 2014.

Selasa, 08 Oktober 2013

PRESIDEN SBY BACAKAN TUJUH KESIMPULAN APEC 2013

Pertemuan puncak KTT APEC di Nusa Dua, Bali telah memasuki babak akhir. Pertemuan tingkat tinggi diakhiri dengan pembacaaan kesimpulan oleh Ketua APEC 2013 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Presiden SBY membacakan hasil kesimpulan pertemuan para pemimpin ekonomi APEC di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Selasa (8/10/2013). 
Tujuh kesimpulan yang di hasilkan di KTT APEC 2013 Bali : 
  1. Menggandakan upaya sesuai dengan Bogor Goals. Kami berbagi pandangan, bahwa semua ekonomi di APEC harus terus tumbuh," ujar SBY.
  2. APEC sepakat mendukung perdagangan di dalam kawasan Asia Pasifik atau perdagangan antar kawasan. Ini termasuk fasilitas perdagangan, pembangunan kapasitas, dan pembentukan sistem pertdagangan multilateral. "Kami juga sepakat untuk menyukseskan konferensi WTO di Bali pada Desember 2013," jelas SBY.
  3. Pemimpin ekonomi di Asia Pasifik ini juga sepakat untuk mempercepat pengupayaan pembangunan yang berkaitan dengan konektivitas antar wilayah. "Dengan konektivitas bisa mengurangi biaya," kata SBY.
  4. APEC setuju untuk bersama-sama menjaga suatu pertumbuhan ekonomi global yang berimbang dan berkelanjutan. APEC juga berkomitmen untuk mendukung usaha kecil dan menengah serta pemberdayaan peran perempuan.
  5. Negara-negara yang tergabung dalam APEC sepakat untuk bekerjasama di bidang energi.
  6. Pemimpin ekonomi APEC ini juga mendukung pertemuan-pertemuan multilateral lain seperti KTT ASEAN dan KTT G20.
  7. APEC mendukung perdagangan dan investasi di kawasan APEC," kata SBY.

Usai membacakan kesimpulan ini, SBY lantas turun dari podium dan menyalami para pemimpin ekonomi yang juga berada di atas panggung. Usai salaman, satu per satu para pemimpin yang menjadi tamu dalam pertemuan tingkat leaders ini meninggalkan Hotel Sofitel.


Dikutip dari Release Panitia APEC 2013

Kamis, 03 Oktober 2013

APEC ANTARA KRISIS DAN HARAPAN



Mata dunia kini tertuju pada kawasan Asia Pasifik. Dari berbagai sudut, kawasan ini memainkan peranan penting dalam perdagangan bebas sekarang ini. Sebanyak 44% perdagangan dunia kini hilir mudik di sekitar Asia Pasifik.

Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per kapita 21 anggota APEC, jika digabungkan mencapai hingga US$ 13,247. Jumlah itu setengah dari PDB per kapita sisa belahan dunia lainnya yang sebesar US$ 7,785.

Secara demografis kawasan Asia Pasifik dihuni 40% dari total penduduk dunia saat ini. Paritas daya beli anggota APEC tumbuh 3,5% per tahunnya.

Hingga 2010 paritas daya beli para anggota APEC sebesar US$35,8 Triliun, lebih tinggi jika dibandingkan daya beli anggota Non APEC yakni US$ 31,9 Triliun. Tak salah jika gerak-gerik APEC menjadi perhatian dunia.

Indonesia mengambil kesempatan tersebut dengan kembali menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan KTT APEC yang ke-21, setelah terakhir berlangsung pada 1994 lalu,. Resilient Asia-Pasific, engine of global growth dipilih menjadi tema utama untuk menggambarkan situasi ekonomi dunia saat ini. Perhelatan akbar ini diharapkan mampu merumuskan strategi bisnis yang relevan dan kebijakan relevan bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di kawasan tersebut.

Indonesia diharapkan mampu memainkan peran penting dalam memfasilitasi  dan mengemukakan agenda yang disusun dalam pertemuan KTT APEC 2013, yang diawali dari Concluding Senior Official Meeting (CSOM) pada 1-2 Oktober 2013, kemudian dilanjutkan APEC Ministrial Meeting pada 4-5 Oktober, serta APEC Economic Leaders Meeting (AELM), pada 7-8 Oktober 2013.

Momentum itu sekaligus menjadi ajang unjuk kekuatan Indonesia sebagai ekonomi terbesar ke-16 dunia yang didukung 45 Juta orang dari kelas menengah. Sebanyak 53% populasinya terdapat di kota-kota yang berkontribusi terhadap 74% PDB Nasional.

TIGA AGENDA
Kepemimpinan Indonesia saat ini krusial dalam menentukan keberlanjutan ekonomi kawasan. Di satu sisi, APEC diharapkan melanjutkan perannya sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi di tingkat global dan regional. Di sisi lain APEC juga diharapkan dapat meningkatkan ketahanan ekonomi regional di tengah perlambatan ekonomi dunia dan memberikan hasil yang nyata bagi public.

Terdapat tiga agenda prioritas yang diusung dalam pertemuan tersebut, yakni upaya perwujudan deklarasi bogor, pencapaian pertumbuhan berkelanjutan yang berimbang, dan promosi konektivitas. APEC akan melanjutkan kerja dalam mempertahankan momentum untuk liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan investasi, sebagaimana tercantum dalam komitmen para pemimpin APEC 1994 lalu di Bogor.


Ekonomi masa datang akan terus-menerus mengupayakan kerjasama yang solid dalam mencapai integrasi ekonomi regional di wilayah Asia Pasifik. Untuk pencapaian pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, APEC akan melanjutkan upaya untuk mempertahankan laju pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dengan tingkat kemampuan dan ketahanan para anggota APEC yang beragam dalam menghadapi krisis ekonomi global, upaya penyejajaran akan berfokus pada pemberdayaan ekonomi, pelibatan pemangku kebijakan, dan pemanfaatan potensi yang belum terjamah.

APEC 2013 lebih lanjut akan memfokuskan kerja pada penguatan sektor usaha kecil dan menengah dalam menghadapi persaingan global. Hal itu dilakukan melalui inovasi sekaligus memanfaatkan produktivitas pekerja perempuan dalam ekonomi. Selain itu, APEC akan mengupayakan akses pembiayaan yang lebih luas, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan akses pada layanan kesehatan.

Pada agenda ketiga, Indonesia menaruh perhatian besar terhadap hal itu. Agenda prioritas tersebut akan mewujudkan usaha konkret yang mampu menghubungkan pusat pertumbuhan dan pembangunan pusat pertumbuhan baru di kawasan sehingga mampu meningkatkan hasil dan produktivitas secara keseluruhan.

Pekerjaan terkait dengan konektivitas itu akan berfokus pada konektivitas fisik, konektivitas kelembagaan, dan konektivitas antar manusia. Seluruhnya akan dilakukan melalui pembangunan infrastruktur, fasilitas, dan promosi investasi infrastruktur, termasuk infrastruktur untuk mendukung konektivitas di samudera pasifik sebagai penghubung utama ekonomi di kawasan ini.

Ketika perdagangan dan investasi semakin terbuka, masyarakat semakin berdaya, konektivitas akan semakin memegang peranan penting sebagai pendukung integasi ekonomi regional.

Rabu, 11 September 2013

KASUS PENEMBAKAN POLISI, MENGAPA POLISI PUNYA MUSUH?


Rabu, 11 September 2013. Republik ini geger dengan berita mengejutkan tentang tewas tertembaknya anggota Polisi di Jalan H.R.Rasuna Said Jakarta Selatan. Kejadian yang terjadi pada selasa malam tersebut tentu saja mengagetkan kita semua, mengingat Jalan H.R.Rasuna Said yang berada persis di depan Gedung KPK tersebut merupakan Jalan Protokol, dan berada di wilayah yang banyak terdapat kedutaan asing yang mesti dilindungi.

Korban adalah Bripka. Sukardi, yang sedang menjalankan tugas untuk mengawal pengiriman barang melalui truk barang dari pelabuhan Tanjung Priok menuju komplek perkantoran di kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Anggota Provost ini tewas tertembak tepat di dadanya oleh pelaku yang mengendarai sepeda motor.

Kejadian ini seolah mengingatkan kita dengan penembakan anggota Polisi di Pondok Aren, Tangerang Selatan beberapa waktu yang lalu. Ini seolah lanjutan dari penembakan berantai terhadap anggota Polisi di wilayah ibukota dan sekitarnya. 

Tentu ada alasan kenapa pelaku memilih menembak Polisi aktif yang sedang bertugas, dan kenapa melakukannya di Jalan Raya yang notabene banyak dilalui orang. Pelaku seolah ingin menebarkan ancaman teror kepada institusi Tribarata ini, seolah ada pesan khusus yang ingin disampaikan kepada seluruh keluarga besar Kepolisian Republik Indonesia. Secara umum pesan ini juga ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia, bahwa pelindung dan penegak hukum di masyarakat pun masih mungkin untuk terkena tindak kejahatan, apalagi hanya masyarakat biasa.

Kejadian ini mengagetkan bukan hanya karena korban tewas tersebut merupakan anggota Polisi, tapi juga terjadi di depan Gedung KPK, lembaga yang sedang sibuk-sibuknya menggarap kasus Korupsi para penyelenggara negara, termasuk kasus Korupsi Simulator SIM yang melibatkan salah satu Jenderal Polisi berbintang dua. Entah memang direncanakan atau tidak, pemilihan lokasi penembakan ini memang menimbulkan pemikiran yang seolah mengingatkan kembali akan ketegangan di Gedung KPK antara Polisi dengan KPK saat penyidikan kasus Simulator SIM tersebut.

Tapi di balik ini semua, kita mesti berduka akan korban yang merupakan Polisi arus bawah, yang tentu tidak memahami permainan kotor para petinggi-petingginya. Kita yakin korban juga tidak punya musuh secara pribadi sehingga harus dibunuh seperti ini, namun ini merupakan musuh secara intitusi kepada Kepolisian.

Mengapa Polisi mesti punya musuh? Mari kita berpikir Kepolisian untuk lebih intropeksi diri, agar akar permasalahannya dapat terurai dan kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Tentunya kita tidak ingin negara kita menjadi Republik Koboy yang tiap warganya dapat dengan bebas membawa senjata api dan saling tembak-tembakan di tepi jalan.


Senin, 09 September 2013

DILEMA KEDELAI

Mungkin diantara kita sudah familiar dengan tempe dan tahu. Banyak rakyat kita yang tidak masalah bila meja makannya tidak ada daging, namun akan teriak bila lauk tahu dan tempe menghilang dari meja makannya.

Kini kemungkinan tersebut sangat bisa terjadi dalam waktu tidak lama lagi. Saat ini para pelaku Industri tempe dan tahu sedang menjerit, karena mahalnya bahan baku kedelai di pasaran. Lonjakan harga yang sudah menempuh 100 persen dari harga biasanya membuat industri tahu dan tempe kesulitan. Bahan baku yang terlalu tinggi telah menghentikan produksi, bahkan sudah sampai pada level mogok nasional.

Mengapa kedelai menjadi bahan langka? Apakah petani kita tidak mampu memanen kedelai kembali?

Indonesia saat ini termasuk negara yang terancam krisis pangan. Salah satu indikatornya adalah ketergantungan Indonesia yang besar terhadap impor sejumlah komoditas pangan utama. Tidak hanya beras, ketergantungan pemenuhan kebutuhan pangan nasional utama lainnya terhadap impor cukup besar, seperti kedelai 70 persen, garam 50 persen, daging sapi 23 persen, dan jagung 11 persen.

Problem pangan di Indonesia tentu saja tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat khususnya petani. Padahal potensi pertanian Indonesia ditinjau dari luas dan kesuburan lahan termasuk yang terbaik di dunia. Namun kenyataannya, saat ini Indonesia justru jatuh sebagai pengimpor produk pangan. Beberapa kebijakan pemerintah yang perlu dikritisi, karena berpotensi mengantarkan masyarakat pada keterpurukan ekonomi, adalah sebagai berikut:

Pertama, lemahnya peran pemerintah dalam proses intensifikasi pertanian, sehingga menyebabkan kegiatan pertanian semakin lesu dan pada akhirnya akan menurunkan produksi. Intensifikasi merupakan usaha untuk meningkatkan produktifitas tanah, khususnya terkait penyediaan benih tanaman unggul yang berkualitas dan pemupukan yang tepat dan efisien. Peran pemerintah paling tidak bisa dilihat dari anggaran yang disediakan untuk subsidi benih dan pupuk dalam APBN yang selalu mengalami penurunan terus menerus.

Produksi kedelai pada 2012 bahkan diperkirakan turun drastis ketimbang 2010 dari 907.300 ton menjadi 779.800 ton. Jumlah sebanyak itu terlampau sedikit untuk mencukupi kebutuhan 2,2 juta ton per tahun. Penurunan produksi tersebut disinyalir karena harga benih dan pupuk yang terus meningkat sehingga margin keuntungan yang diterima petani kedelai tidak sepadan dengan biaya yang harus dikeluarkan. Akibatnya banyak petani kedelai yang berhenti menanam kedelai di lahannya.

Kenaikan harga benih dan pupuk sebagai akibat makin berkurangnya subsisdi yang disediakan pemerintah. Sebagai perbandingan, pada APBN-P 2010 subsidi pupuk sebesar Rp 18.4 triliun, kemudian pada APBN 2011 turun menjadi Rp 16.4 triliun. Sementara subsidi benih, pada APBN-P 2010 dianggarkan sebesar Rp 2.3 triliun turun drastis menjadi hanya Rp 120.3 miliar pada APBN 2011. Menurunnya subsidi ini akan menyebabkan kenaikan harga pupuk, sehingga margin keuntungan yang dinikmati petani akan semakin tergerus bahkan bisa negatif.

Kedua, tidak hanya proses intensifikasi, pada proses ekstensifikasi, yaitu perluasan area pertanian, peran pemerintah juga sangat lemah. Bahkan beberapa kebijakan pemerintah justru menyebabkan penciutan area pertanian. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2010), terjadi penyusutan lahan pertanian sebesar 12.6 ribu hektar di pulau Jawa, sedangkan secara nasional lahan pertanian menyusut sebesar 27 ribu hektar. Sementara pada tahun 2009, menurut Badan Ketahanan Pangan Nasional telah terjadi alih fungsi lahan pertanian hingga mencapai 110 ribu hektar.

Alih fungsi yang terjadi adalah perubahan lahan pertanian menjadi penambahan pemukiman (real estate), pembangunan jalan, kawasan industri, dan lain-lain. Ironisnya, alih fungsi lahan tersebut justru terjadi pada area lahan-lahan produktif, sementara pada sisi lain proses tersebut tidak disertai pembukaan lahan pertanian baru, sehingga lahan pertanian produktif mengalami penyusutan dari tahun ke tahun.

Ketiga, kebijakan pemerintah dalam perdagangan produk pangan tidak pro-rakyat tapi pro-pasar. Buktinya, ketika produksi pangan (beras, kedelai, jagung, dsb) menurun pemerintah justru lebih memilih kebijakan impor daripada upaya meningkatkan produksi dalam negeri melalui intensifikasi dan ekstensifikasi seperti yang disebutkan di atas.

Untuk mendukung impor produk pangan tersebut, khususnya beras, pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.241 Tahun 2010 tentang impor beras. Melalui PMK ini pemerintah membebaskan bea masuk impor beras. Hal serupa kini dilakukan terhadap kedelai yaitu menghapus bea masuk impor kedelai. Tentu saja kebijakan ini akan merugikan sekitar 60 juta petani.

Bagai buah simalakama, kini pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit. Tidak meningkatkan impor kedelai, maka industri tempe dan tahu akan benar-benar gulung tikar secara permanen. Tentunya kita tidak menginginkan tempe dan tahu yang telah menjadi ciri khas dan andalan rakyat, juga diimpor. Namun bila impor hanya dijadikan satu-satunya jalan keluar, maka perlahan namun pasti para petani kedelai lokal akan benar-benar beralih kepada produk hortikultura yang lain.

Semoga Menteri Pertanian dan jajarannya segera mengambil jalan terbaik untuk mengatasi masalah ini. Masalah tahu-tempe adalah masalah perut rakyat, bila tidak segera diatasi maka akan melebar ke berbagai permasalahan lain yang dapat lebih merugikan. 

Kamis, 05 September 2013

MEMBUKA KETERISOLASIAN ; KUNCI PEMBANGUNAN EKONOMI BERDAULAT DI PAPUA BARAT

Kiri-Kanan : Bpk Laurens B.D, Atma Winata, & Thomas Warijo
Kamis, 5 September 2013. Saya didampingi Ketua DPW Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (DPW BM PAN) Papua Barat, saudara Thomas Warijo. Menemui Ketua Komisi 5 DPR Republik Indonesia, Bapak Laurens Bahang Dama di ruang kerjanya di kawasan Senayan, Jakarta Selatan.

Kami berdiskusi tentang kondisi infrastruktur di Kawasan Indonesia Timur, khususnya di wilayah Papua Barat. Provinsi yang baru berusia 12 tahun, dengan luas wilayah yang sangat luas terbentang di kepala burung Papua. Sebagai Provinsi pemekaran dari Irian Jaya (sekarang Papua), kondisi Infratruktur di kawasan ini termasuk memprihatinkan. Dibagi dengan luasnya wilayah yang terbentang di 14 Kabupaten/Kota.

Kawasan Papua Barat terkenal dengan hasil alamnya, diantaranya perkebunan, peternakan, kehutanan, dan pertambangannya. Juga tidak terlupa kawasan Pariwisata yang sudah mendunia. Tidak mengherankan apabila memang pengembangan infrastruktur di kawasan ini menjadi hal penting dan mendesak untuk diperhatikan oleh Pemerintah Pusat.

Seringkali masyarakat di Provinsi Papua Barat memperoleh hasil panen yang berlimpah ruah dari perkebunan dan peternakan, namun selalu terkendala dengan distribusi dan penyaluran ke pasar-pasar yang terletak di perkotaan atau pusat distrik. Hal ini yang mengakibatkan banyaknya hasil bumi tersebut menjadi busuk dan terkadang menjadi hama yang harus dibuang ataupun dibakar.

Kondisi ini ditangkap oleh Ketua Komisi 5 sebagai masalah sentral yang harus segera dicarikan solusi dan jalan keluarnya. Beliau mengungkapkan seringkali suara dari Parlemen tidak terlalu digubris oleh eksekutif, dalam hal ini Kementerian yang terkait. Beliau berjanji akan menindaklanjuti aspirasi ini ke Kementerian terkait (Kementerian PU dan Kementerian Perhubungan) untuk segera menganggarkan pembangunan di kawasan-kawasan strategis perkebunan dan peternakan untuk dibuka keterisolasian ke pusat-pusat ekonomi masyarakat.

Kami sangat bersyukur aspirasi ini mendapat respon positif dari DPR. Semoga hal ini benar-benar mendapat dukungan dari masyarakat sehingga pembangunan ekonomi berdaulat di tanah Papua Barat dapat segera terwujud.

Rabu, 21 Agustus 2013

SILATURAHMI DENGAN KOMUNITAS PEDULI BANGSA DI MALANG

Bagi kalangan aktivis di kota Malang, barangkali sudah familiar dengan Komunitas Peduli Bangsa (KPB) yang didirikan oleh Bapak M.Ismail merupakan sekelompok aktivis yang sarat pengalaman dalam dunia sosial kemasyarakatan di Malang bahkan Jawa Timur hingga di kancah Nasional.

Kami mendapatkan kehormatan untuk dapat berkunjung dan diterima di markas KPB di Kota Malang. Terasa hangat sambutan yang diberikan oleh Bang Ismail (demikian beliau biasa disapa), beliau memulai pembicaraan dengan cerita-cerita ringan soal aktivitas keseharian beliau di Komunitas Peduli Bangsa (KPB). Organisasi ini beliau dirikan dengan semangat kepedulian untuk menyalurkan para aktivis untuk dapat menjadi kader yang berguna bagi bangsa dan negara.

Banyak aktivitis yang dibesarkan oleh abang Ismail ini, jam terbang dan pengalaman politiknya yang tinggi membuat ia menjadi referensi serta inspirasi bagi banyak orang, termasuk kami. Inilah yang mendorong kami untuk bersilaturahmi dan berdiskusi tentang kondisi kekinian bangsa hingga konteks lokal di kawasan Malang dan Jawa Timur.

Tidak berselang lama, diskusi kami tambah menarik dengan kedatangan Mas Sutopo, beliau merupakan seorang peneliti politik dan datang dengan data-data yang akurat dan menarik untuk didiskusikan.

Kebetulan istri saya, drg.Richyani Swanghayu Putri, MM (biasa dipanggil dokter Putri) merupakan Calon Anggota Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Partai Amanat Nasional Daerah Pemilihan Jawa Timur 5 (Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Malang). Banyak hal yang diungkapkan dalam pembicaraan kami. Memang terkadang ilmu lahir dari diskusi ringan dan santai seperti ini.

Kesejahteraan adalah sama asasinya dengan demokrasi, demokrasi itu sendiri tentu bukanlah obat mujarab yang dapat dengan cepat menyembuhkan bangsa ini dari krisis ekonomi. Namun, kita bisa belajar dari beberapa negara lain bahwa negara dengan tingkat kesejahteraannya baik adalah negara yang mampu menerapkan demokrasi dengan baik pula. 

Inilah inti dari diskusi kami dengan Komunitas Peduli Bangsa, besar harapan semua bahwa kelak perangkat negara ini dapat mewujudkan Indonesia menjadi negara yang makmur, adil, dan sejahtera sesuai harapan konstitusi.

Senin, 22 Juli 2013

FAEDAH MEMBERI MAKAN ORANG BERBUKA PUASA

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa memberi makan berbuka orang yang berpuasa, maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa dan pahala orang yang berpuasa itu tidak berkurang sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

Betapa keutamaan di bulan Ramadhan itu memang diberikan kepada orang-orang yang berbuat baik di dalamnya. Betapa tidak, barangsiapa yang memberi makan orang yang berbuka puasa maka pahalanya sama dengan orang yang berpuasa tersebut dan ini tidak mengurangi sedikit pun pahala orang yang diberi makan untuk berbuka puasa tersebut.

Semoga hal ini menginspirasi kita untuk senang berbagi di bulan suci ini. Termasuk memberikan makan kepada orang yang sedang berbuka puasa. Bila kita termasuk orang yang belum mempunyai kelebihan rezeki, tentu mari kita berbagi sesuai dengan kemampuan kita. Sekotak atau dua kotak nasi atau bahkan hanya dengan beberapa butir kurma. Namun, bila kita mampu lebih dari itu, tentu sangat dianjurkan.

Demikianlah. Semoga kita semakin senang untuk melakukan banyak kebaikan. Dan, semoga apa yang kita lakukan mendapatkan ridha-Nya.

Jumat, 19 Juli 2013

DOA MUSTAJAB AKIBAT RAJIN SHALAT AWAL WAKTU

- DOA MUSTAJAB AKIBAT RAJIN SHALAT AWAL WAKTU -
oleh Ustadz Yusuf Mansyur.

Suatu hari,ibu saya meminta ayahku membeli ikan dipasar.Kemudian,saya pergi bersama ayah saya.

Setelah ikan dibeli,kami memerlukan seseorang untuk membawanya.Di saat itu,ada seorang pemuda yang sedang berdiri didekat kami.Pemuda itu berkata,Wahai bapak,apakah bapak memerlukan bantuan saya untuk membawa ikan itu?Ya, benar! kata ayah saya. Kemudian,pemuda itu membawa ikan di atas kepalanya dan turut bersama kami ke rumah.

Di tengah perjalanan,kami mendengar suara azan.Pemuda itu berkata, Penyeru Allah telah memanggil. Izinkanlah saya berwudhu, barang ini akan saya bawa setelah shalat nanti. Apabila bapak bersedia, silakan menunggu, jika tidak, silakan bawa sendiri.

Setelah berkata demikian, ia meletakkan ikan-ikan itu dan pergi ke masjid. Ayahku berpikir, pemuda itu mempunyai keyakinan yang begitu kuat kepada Allah SWT, bagaikan seorang waliyullah. Akhirnya ayah meletakkan ikan-ikan itu,kemudian kami pergi ke masjid.

Setelah kembali dari masjid,ternyata ikan-ikan itu masih berada di tempatnya. Lalu, pemuda itu mengangkat kembali ikan-ikan tadi dan bersama menuju rumah.

Setibanya di rumah,ayah menceritakan peristiwa tersebut kepada ibu. Ibu berkata kepada pemuda tadi, Simpanlah ikan-ikan itu, mari makan bersama kami, setelah itu kamu boleh pulang.

Tetapi pemuda itu menjawab, Maaf ibu, saya sedang berpuasa. Ayah berkata, Kalau begitu datanglah kesini nanti petang dan berbukalah di sini.

Pemuda itu berkata, Biasanya,jika saya telah berangkat maka saya tidak akan kembali lagi. Tetapi untuk kali ini, saya akan pergi ke masjid dan petang nanti saya akan kembali kemari.
Sesudah itu, dia pergi dan meminta untuk tinggal si sebuah masjid di dekat rumah. Pada petang harinya setelah Maghrib, pemuda tadi datang dan makan bersama kami. Setelah makan, kami menyiapkan sebuah kamar untuknya agar ia dapat beristirahat tanpa diganggu oleh siapapun.

Di sebelah rumah kami, ada seorang wanita tua yang lumpuh. Kami benar-benar terkejut ketika melihatnya dapat berjalan. Kami bertanya, Bagaimana engkau dapat sembuh? Wanita tua itu menjawab, Saya didoakan oleh tamu Anda agar kaki saya disembuhkan dan Allah mengabulkan doanya.

Ketika kami mencari pemuda itu, ternyata dia telah meninggalkan kamarnya. Pemuda itu pergi tanpa diketahui oleh siapa pun.

Kisah yang terdapat di dalam Kitab Fadhail Amal, karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandhalawi di atas, memberikan pelajaran berharga. Yakni di antara rahasia mendirikan shalat lima waktu diawal waktu dengan berjamaah akan menjadikan doa-doanya cepat diijabah. Itu karena orang yang mendirikan shalat lima waktu diawal waktu dengan berjamaah adalah orang yang bersih dari dosa.

Sesungguhnya shalat lima waktu itu menghilangkan dosa-dosa sebagaimana air menghilangkan kotoran. (HR Muslim).

Selain itu,karena ia mendahulukan panggilan Allah dari panggilan selain-Nya.

( Pelajaran yang bisa dipetik )

Untuk itu ketika azan berkumandang mari kita segera penuhi panggilan Allah untuk melaksanakan shalat pada awal waktu dengan berjamaah. Agar doa-doa kita mustajab dan mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Kemudian merefleksikan hasil shalat tersebut dengan diperkuat ibadah sunnah lainnya seperti puasa agar lahir rasa qonaah, bersedekah bisa dengan tenaga yang ditunjukkan pemuda tersebut, lalu berdakwah mencontohkan kepada orang lain si pemuda bela-belain shalat awal waktu, kemudian banyak istighfar dan berdzikir karena kekhilafan bisa terjadi kapan saja tanpa kita sadari.