SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Blog Pribadi Atma Winata Nawawi

Senin, 05 Maret 2012

DUNIA BERALIH KE ENERGI TERBARUKAN


Upaya untuk beralih ke energi ramah alam terus menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terungkap dalam laporan Program Lingkungan PBB berjudul Keeping track of our changing environment – From Rio to Rio+20 (1992-2012).

Investasi bahan bakar dan energi terbarukan mencetak rekor baru naik 32% dari US$160 miliar pada 2009 menjadi US$ 211 miliar pada 2010. Nilai ini meningkat lima setengah kali lipat dibanding investasi pada 2004.

Dan untuk pertama kalinya, negara berkembang melampaui negara maju dalam investasi proyek energi terbarukan ini.  
Potensi pertumbuhan energi terbarukan masih sangat besar. Saat ini sumber energi terbarukan termasuk biomassa (biomass) baru menyumbang 13% pasokan energi dunia pada 2008.

Biomassa adalah bahan-bahan yang berasal dari limbah tanaman dan hewan yang digunakan untuk sumber energi seperti daun dan kayu untuk memasak dan memanaskan ruangan. Porsi energi terbarukan ini terus meningkat menjadi 16% pada 2010.

Minyak, batu bara dan gas masih mendominasi produksi energi untuk transportasi, industri, pemanas, kelistrikan dan pembakaran lain.

Sumbangan ketiga sumber energi tersebut mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir, sehingga komposisinya mencapai 80%.

Sementara porsi energi terbarukan masih tertinggal. Biomassa masih menjadi sumber energi terbarukan utama (10%), terutama di negara berkembang yang penduduknya sebagian besar masih menggunakan limbah tanaman dan hewan untuk memasak dan pemanas.

Saat unsur biomassa dikeluarkan dari komposisi energi terbarukan, maka sumbangan energi terbarukan yang lain seperti matahari, air dan angin hanya 3-6% dari total energi dunia.

Namun seiring dengan semakin kompetitifnya harga energi terbarukan, produksi dan instalasi energi terbarukan seperti panel surya terus meningkat.

Produksi biofuel yang terus meningkat dalam dua puluh tahun terakhir juga membawa peluang sekaligus tantangan bagi lingkungan dan kondisi sosial.

Biofuel disebut-sebut sebagai pengganti ideal bahan bakar fossil. Brasil adalah negara yang telah menggunakan biofuel ini secara luas. Konsumsi biofuel di Brasil naik 20% setiap tahun dan mencapai angka 30 juta ton setara minyak pada 2009.

Namun tren penggunaan biofuel menimbulkan kekhawatiran terkait penggunaan dan peralihan lahan untuk memroduksi biofuel.

Alih guna lahan mengancam keberadaan makhluk hidup di sekitarnya dan mengancam ketersediaan air yang pada akhirnya mengancam keamanan pangan penduduk.

Indonesia bersyukur masih diberi sumber daya alam yang melimbah. Sumber energi yang belum tergali masih sangat besar.

Jumlah simpanan gas alam yang relatif lebih bersih dibanding batu bara dan minyak bumi, mampu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri hingga puluhan tahun lamanya.

Belum lagi potensi energi panas bumi, tenaga surya dan potensi pembangkit listrik mikro bertenaga air yang belum diangkat.

Yang diperlukan adalah komitmen bersama untuk beralih ke energi hijau, energi yang ramah lingkungan dengan terlebih dahulu memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada.

Tanpanya Indonesia akan terus bergantung pada impor bahan bakar fosil dari negara lain. Pemerintah harus membangun infrastruktur untuk membantu peralihan ke energi ramah lingkungan.

Dan masyarakat pelan tapi pasti harus diberikan pencerahan atas manfaat energi terbarukan. Dengannya kita bisa mandiri dan beralih ke konsep ekonomi hijau dengan lebih cepat.

Tidak ada komentar: