SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Blog Pribadi Atma Winata Nawawi

Kamis, 08 Juli 2010

KUPING PANCI

Tak terbayang sulitnya mengangkat panci yang hanya punya satu kuping di sisinya, bukan dua seperti yang biasanya ada. Tidak mustahil, panci dapat terangkat, tetapi hampir dapat dipastikan dilakukan dengan susah payah, kemungkinan panci terangkat miring dan isinya bisa saja tumpah. Kuping panci memang benda sepele, tetapi kehadirannya sangat membantu fungsi panci melakukan tugasnya dengan maksimal. Kuping panci dibuat dua, bukan hanya satu. Dua, untuk tujuan kekuatan bukan penampilan, dua untuk memberikan asistansi maksimal bukan hiasan basa-basi, dan dua untuk menyeimbangkan kedudukan bukan menambah beban panci itu sendiri. Mari belajar tentang kuping panci.
Sama halnya dengan kuping panci yang tidak maksimal melakukan fungsinya ketika sendirian, kepemimpinan spiritual Anda juga tidak akan menghasilkan apa pun jika Anda menjalaninya seorang diri. Anda mungkin berhasil, penuh gagasan, berjiwa besar, dipenuhi spiritualitas dalam pandangan hidup, rajin, dan memiliki keahlian memimpin yang luar biasa, tetapi ketahuilah, Anda tetap membutuhkan orang lain menjadi partner sukses Anda.
Jika Anda merasa, bahwa keberhasilan dapat diperoleh karena kerja keras dan usaha Anda sendiri, saya dapat pastikan, ketika Anda tiba di puncak sukses, Anda akan benar-benar merasa sendirian di sana, dan itu sangat tidak menyenangkan. Sekecil apa pun, harus diakui, kita memerlukan orang lain dalam melengkapi kehidupan kita berjalan mendekati tujuan hidup. Kesadaran ini, membawa pencerahan batin untuk menerima keadaan kita yang tidak sempurna, dan merangkai hubungan dengan orang lain untuk melengkapi ketidaksempurnaan itu untuk mencapai sukses bersama.
Pada prinsipnya, relasi terjalin karena didasari oleh kebutuhan untuk mencapai tujuan yang sama. Karenanya, ketika relasi terbentuk, masing-masing pihak tentu akan melakukan usaha bersama untuk menghasilkan keuntungan dan keberhasilan, sesuai dengan yang diharapkan sejak awal; lazim disebut kerjasama. Bagaimana memastikan bahwa kerjasama ini dapat benar-benar berhasil? Pastikan Anda memiliki partner sukses atas apa pun proyek yang Anda kerjakan dalam hidup Anda, baik dalam berinteraksi bisnis maupun saat Anda melakukan pengembangan diri sendiri. Ingat, siapa pun dapat menjadi partner sukses bagi Anda, cermatlah memerhatikan:
  1. Kuping panci yang copot sebelah, kemudian diganti dengan kuping panci dari jenis lain, meski ”dipaksa” pasang dan difungsikan, pasti terasa janggal, dan pasti kelihatan tak elok. Karena, memang bukan dari jenis yang sama. Besar sebelah, tak pas pada tempatnya, tidak sama kuat menahan beban dan sebagainya. Pastikan partner sukses Anda memiliki visi yang sama dengan Anda, memiliki semangat yang sama dan tujuan yang sama.

    "Share your success with someone who has similar purpose, passion and profit-goal like yours."
    —C.Fald.

    Jangan sembarangan pilih kuping panci, untuk kerjasama yang maksimal. Pastikan mereka adalah orang yang Anda percayai memiliki kesamaan dengan Anda, setidaknya untuk sebuah tujuan. Jika Anda berniat menikah, periksalah apakah calon pasangan Anda memiliki visi berumahtangga yang sama dengan Anda. Jika Anda memimpin usaha, pastikan rekanan bisnis Anda memiliki keinginan mencapai keuntungan dalam tuntunan nilai-nilai moral yang sama dengan Anda. Jika Anda hendak melakukan perubahan dalam kebiasaan hidup, pastikan partner perubahan Anda memberikan dorongan positif ketika Anda memerlukannya. Jika Anda pembuat keputusan, pastikan partner sukses Anda adalah mereka yang memiliki arah yang sama dengan Anda.
  2. Bagi Beban! Ini sebabnya, kuping panci ada dua, agar seimbang menanggung beban. Partner sukses Anda haruslah yang bersedia mengerjakan dengan adil dan konsisten bagian yang menjadi tanggungjawabnya. Pekerjaan dan tujuan tercapai jauh lebih cepat jika dikerjakan bersama, bukan sendirian. Beban yang dipikul, dibagi bersama untuk pencapaian lebih baik. Buat kesepakatan yang jelas dan rinci mengenai semua tugas dan beban yang ada, agar memudahkan Anda dan partner sukses Anda mengurai kegiatan dan tetap pada jalur. Jangan berpindah, meskipun Anda mampu melakukannya. Jika bagian tugas Anda di sebelah kiri, tetaplah di sana, dan biarkan partner sukses Anda mengerjakan di bagian kanan miliknya. Ingat, keseimbangan menjaga harmonisasi, dan menghasilkan kesinambungan. Jangan jadi kuping kanan jika Anda adalah kuping panci sebelah kiri! Kebanyakan kerjasama tidak berakhir dengan keberhasilan, karena salah satu pihak merasa lebih baik dari yang lain dan tidak mengerjakan bagiannya dengan konsisten.
  3. Sejajarkan posisi Anda. Tidak ada dua kuping panci yang dipasang tak sejajar satu dengan yang lain. Keberadaan yang sejajar ini membuat segala sesuatu berjalan sempurna. Meski Anda seorang pemimpin hebat di tempat asal Anda, saat bekerjasama dengan pihak lain, posisikan keberadaan Anda dalam keadaan sejajar dengan partner sukses Anda. Tidak ada supremasi dalam kerjasama. Sikap rendah hati dan kesediaan Anda berbagi dalam porsi yang sejajar sama adalah keunggulan karakter Anda dalam menjalankan tanggungjawab Anda dengan adil. Sikap inilah yang membuka banyak peluang bagi Anda untuk memelajari hal-hal baru dari partner sukses Anda, dan membuat Anda menampung lebih banyak manfaat dari kerjasama tersebut. Jika saat ini, Anda mendapati posisi Anda lebih tinggi dari seharusnya, sejajarkan segera! Tidak ada manfaat apa pun dari kondisi “tinggi sebelah”.
Terapkan ke-3 hal di atas juga pada diri Anda sendiri, kemudian ini yang terpenting: sediakan diri Anda sebagai partner sukses juga bagi orang lain. Perhatikan, ada banyak pihak di sekitar Anda sekarang ini membutuhkan rekanan seperti Anda dalam hidup mereka. Jalinlah kerjasama yang positif bersama untuk manfaat melebihi keuntungan. Karena, selalu ada peluang lebih besar untuk mencapai tujuan jika dikerjakan bersama-sama.
Lakukan sesuatu bagi orang lain, Anda dapat selalu menemukan, bahwa Anda dapat menjadi 'kuping panci’ bagi seseorang. Dan itu, bukan sekadar menguntungkan, tetapi menyenangkan untuk dilakukan. Bersedia?

Kamis, 10 Juni 2010

“Mahal banget, Bang! Kurangin dikit deh harganya. Mau ambil banyak nih, masa nggak bisa kurang dikit harganya?” Tak terdengar asing, kan? Mengapa ketika kita memilih membeli sayur atau buah di penjual keliling atau kios pasar, meski untuk selisih 2000 atau 3000 rupiah, kita cenderung ”memaksa” menawar hingga harga terendah, sementara untuk barang yang sama, yang kita beli di supermarket, meski kita pikir sedikit lebih mahal, kita setuju dengan harganya dan tetap membayar tanpa menawar lebih dulu?

Supermarket dibuat dengan konsep kenyamanan, keteraturan, dan ketertiban yang memudahkan setiap pembeli membelanjakan uang mereka sebanyak-banyaknya, dan datang kembali berkali-kali, meskipun semua barang di sana dipatok harga mati; tidak boleh ditawar! Mengapa kita tidak protes?

Ketika kita memilih antara belanja di supermarket dan kios pasar atau penjaja keliling, hal paling sering yang menjadi pertimbangan adalah kenyamanan, keteraturan, ketertiban, kualitas, kemudahan dan keuntungan program hadiah misalnya, yang tidak kita jumpai di pedagang kecil.

Mari kita simak. Jika untuk barang-barang yang kita perlukan setiap bulan, kita bersedia mengikuti aturan harga mati, mengapa kita tidak memberlakukannya dalam kehidupan kita lainnya setiap hari? Jika kenyamanan, keteraturan, ketertiban dan kualitas hidup lebih baik menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan, bukankah lebih baik jika peraturan dan hukum dibuat harga mati? Tidak ada celah untuk tawar-menawar, apalagi beli-membeli untuk kepentingan sesaat dan segelintir orang. Bayangkan, betapa nyamannya hidup kita saat peraturan tak sudi ditawar itu membantu kita menjalani proses dalam kerangka yang tertib, dan membawa kita kepada kehidupan yang teratur.

Dulu, saya tidak sepenuhnya paham, mengapa ayah begitu marah ketika saya melanggar batas waktu ke luar rumah yang telah ditentukannya. Saat itu, saya tahu ayah khawatir dan bermaksud baik, tetapi ”peraturan-peraturan”-nya terkesan tidak masuk akal dan tak ada pilihan lain kecuali menjalaninya.

Kemudian, saya mengerti maksud beliau, dan ketika saya membaca tulisan Aristoteles, makin jelaslah tujuan kedisiplinan peraturan harga mati kala itu. “Moral Excellence comes about as a result of habit.

Kita terbiasa berlaku adil ketika hanya melakukan tindakan-tindakan adil, menjadi penyabar ketika berlaku panjang sabar, menjadi pemberani ketika membiasakan diri bertindak berani. Kini, saya merasakan manfaat dari peraturan harga mati itu. Tidak ada yang lebih menyenangkan mengarahkan kehidupan yang berlimpah berkah ini, menjadi lebih bermakna dengan mengenakan Moral Excellence sebagai karakter unggul yang mendasari hidup dan perilaku kita.

Berlatih Moral Excellence hanya dapat dimulai, ketika kita melihat manfaat ketaatan dari peraturan dan hukum itu bagi pengembangan dan perluasan kedewasaan moral diri sendiri. Tanpa harus menunggu seseorang melakukannya lebih dulu. Sebaiknya, untuk sebuah tujuan kesempurnaan seperti Moral Excellence, tak perlu ditawar lagi; ini harga mati!

1. Tidak Susah, hanya perlu berlatih

Pemimpin Cerdas Spiritual, hanya dapat diidentifikasi dari bagaimana respon mereka terhadap perkara-perkara yang membutuhkan pengolahan Kecerdasan Spiritual, dan sejauh mana mereka konsisten memeliharanya. Tidak susah untuk memulai mengasahnya, yang Anda perlukan hanya berlatih terus-menerus. Memelihara keadilan, bukan perkara gampang, tapi kita dapat melatihnya menjadi kebiasaan; dari hal-hal sederhana setiap hari. Lihat, bagaimana Anda dapat mulai berlaku adil di rumah, meneruskannya di tempat kerja, dan selanjutnya memromosikannya kepada orang lain lagi. Ingat, periksa dulu diri sendiri sebelum menjatuhkan penghakiman atas orang lain. Uji nilai keadilan Anda setiap hari, dan lakukan perubahan untuk menetapkan standar “harga mati.” Bukankah kualitaslah yang membedakan apakah sesuatu layak ditawar atau tidak? Bagaimana kualitas keadilan Anda?

2. Tidak Mudah, hanya perlu konsistensi

Ketika sudah dipatok harga mati, ini berarti tak ada lagi ruang untuk tawar-menawar dalam keadaan dan kondisi apa pun. Panduan untuk berlaku adil, berarti menjaga peraturan agar berjalan semestinya, lalu menjaganya tetap konsisten. Ini bukan hal mudah, memang. Jadi, tetaplah pada jalur! Kerjakan keadilan meski sulit. Buahnya mungkin tak segera terlihat, tapi tengok keuntungan-keuntungan yang tersimpan di sana, bagi diri sendiri, di kehidupan setelah mati nanti, juga warisan budaya tertib, tertata dan taat bagi generasi selanjutnya. Konsistensi Anda membuahkan hasil berlipat lebih dari yang dapat Anda bayangkan!

3. Tidak Banyak, biasakan

Ketekunan membuahkan hasil yang luar biasa. Tapi ini indahnya, Anda tak perlu menjadi Superman atau Batman dengan kemampuan khusus dan teknologi mutahir menumpas kejahatan dan menjaga keadilan. Anda adalah Super Hero tulen, aktor utama pemberantas ketidakadilan. Yang berani menumpas segala yang tidak adil, tak patut, tak turut peraturan, dan yang tidak taat di dalam diri Anda sendiri lebih dulu. Beranikan diri, membiasakan menang atas ketidakadilan dalam hidup Anda sendiri, meski tidak banyak, Anda telah melakukan sesuatu yang penting untuk diteruskan. Kerjakan terus!

4. Tidak Sama, tidak apa

Ingat Investasi Dua Dunia? Kekayaan yang kita usahakan sebaiknya bukan hanya cukup untuk keperluan di bumi, tetapi yang menyertai kita hingga akhirat nanti. Dengan berpikir seperti ini, tentu kita tak lagi peduli, meski sekeliling berlaku curang, menjual belikan hukum, membayar “kenyamanan” dan “jalan pintas.” Meski tak serupa dengan mereka, tidak apa; tujuan kita tetap mengarah pada keuntungan berganda yang melampaui ukuran uang mana pun. Mencapai kesejahteraan batin dan kekayaan jiwa sepanjang hayat dan seterusnya. Anda tak harus serupa dengan semua orang, karena tugas Anda adalah membuat perubahan dan memulai pembaharuan agar orang lain dapat mengikutinya.

Berhenti melakukan “Korupsi Emosi” di setiap tindakan Anda. Ingatlah, keadilan adalah Harga Mati; tidak untuk ditawar atau dieksploitasi demi keuntungan sendiri.

Sabtu, 01 Mei 2010

SPIRITUAL LEADERSHIP - MENGERTI LEBIH DAHULU

Tidak mudah memang, menemukan orang-orang di sekitar kita yang bisa memahami keadaan, keinginan dan jalan pikiran kita tanpa perlu repot menjelaskan, mengarahkan dan mengemukakannya. Tetapi, sesungguhnya kita memang benar-benar butuh dimengerti, dipahami dan diterima oleh orang lain. Semua upaya yang telah dikerahkan untuk melakukan itu, serasa berlari menabrak tembok: melelahkan dan tanpa hasil jelas.

Kebutuhan emosional untuk berada pada penerimaan publik selalu ada, tidak akan pernah berubah sebagai makhluk sosial. Egosentris kita membawa keadaan diri kita pada keadaan yang tidak pernah cukup untuk mendapatkan lebih banyak dari orang lain.

Jadi, tidak salah mengharapkan orang lain mengerti tentang diri Anda. Juga tidak salah menaruh harapan kepada orang terdekat agar ia mampu memahami apa yang Anda inginkan. Tetapi, sama seperti Anda, orang lain juga mengharapkan hal yang sama. Dan keadaan menjadi sangat tidak terkendali, ketika masing-masing menuntut untuk diutamakan dari yang lain, dan melahirkan berbagai ketidakpahaman, konflik, ketidakadilan, egoisme, kekerasan, dan berbagai tindakan egois lainnya. Ditambah lagi, pada keadaan krisis global seperti sekarang ini, semakin banyak orang berpikir tentang penyelamatan diri sendiri ketimbang memikirkan orang lain.

Mari membuat perbedaan

Kepedulian kita pada diri sendiri, seharusnya sama dengan kepedulian kita pada orang lain. Karena, mereka sesama (sama dengan kita) dan kebutuhan emosional mereka untuk dipahami, juga sama dengan kita. Toleransi adalah kemampuan tertinggi yang kita miliki, yang membedakan kita dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Bayangkan jika semua manusia di dunia ini berdiri berdampingan mengitari bumi dalam satu garis dan memindahkan sebuah kotak dari satu tangan ke tangan berikutnya. Kotak yang sama yang telah diberikan ke orang berikutnya, cepat atau lambat, akan kembali lagi ketangan kita.

Jadi, apa saja yang kita lakukan pada orang lain di sekitar kita, maka, cepat atau lambat tindakan serupa akan kita terima juga dari mereka. Jika lebih banyak perbuatan baik yang bertajuk kepedulian itu kita tujukan ke lebih banyak orang, kemungkinan kepedulian yang sama itu kembali kepada kita jauh lebih besar. Lakukanlah dulu kepada orang lain apa yang kita inginkan orang lain kerjakan bagi kita. Anda akan tercengang, betapa dahsyat kemampuan energi positif seperti ini berdampak pada kehidupan kita. Sebelum meminta oranglain memahami Anda, cobalah untuk mengerti lebih dulu tentang mereka. Ini sebuah langkah sederhana mengembangkan keahlian toleransi Anda untuk keuntungan berganda nanti.

Sewaktu beranjak dewasa, ayah tidak memperkenankan saya mengendarai mobil meski telah memiliki surat izin mengemudi. Beliau menyatakan 1 syarat kepada kami anak-anak sebelum mengendarai mobil (karena mobil itu milik beliau, kami tidak punya banyak pilihan kecuali taat saja). Kami, diharuskan mengerti lebih dulu tentang cara kerja mesin mobil dan semua bagian penting mobil yang perlu kami ketahui sebelum kami mengendarainya.
Di akhir pekan, adalah waktu untuk ayah menguji kemampuan dan pemahaman kami tentang seluk-beluk mobilnya. Sampai beliau benar-benar yakin, kami telah menguasai semua bagian penting, barulah kami diizinkan menggunakannya. Percayalah, ketika hari seperti itu terjadi, itu merupakan momen bersejarah bagi kami anak-anaknya, melebihi ketika kami memperoleh SIM!

Sekarang, saya memetik buah dari pengajaran beliau yang kala itu kami anggap “keterlaluan.” Kini, saya tak hanya cekatan mengganti ban, saya pun lebih paham dari teman lain untuk tahu membedakan suara mesin yang bermasalah. Bagi ayah, mengetahui proses kerja mesin di mobil jauh lebih menguntungkan ketimbang sekadar mahir mengendarai. Karena, dengan demikian, kita memahami bahwa ketika proses berlangsung, kita berada pada jalur yang aman, yang sebenarnya kita butuhkan lebih dari sekadar mencapai tujuan.

Mengerti lebih dulu, mengantar kita menemukan apa yang kita butuhkan, bahkan menerima lebih dari yang kita pikirkan.

1. Lebarkan Sayap Anda
Toleransi yang Anda miliki sekarang, baik atas keadaan sendiri maupun atas orang lain, dapat lebih melebar jika saja Anda mulai mengembangkan sayap Anda. Temukan hal-hal dalam hidup di mana hal-hal kecil dapat Anda lebarkan lebih luas sedikit; bersabar lebih panjang. Tingkatkan kadar senyum Anda. Jika sebelumnya hanya tersenyum pada orang dikenal, coba tersenyum pada penjaga toko, petugas parkir, satpam dan orang asing yang Anda temui. Sedikit demi sedikit berlatihlah merasa nyaman dalam membuat keadaan Anda menyenangkan untuk orang lain. Ini cara awal memulai mengerti lebih dulu.
2. Tebarkan

Anda tak harus jadi dermawan, jika harta Anda terbatas. Tapi menjadi dermawan tak harus selalu berarti berbagi harta. Percayalah, Anda kaya! Anda dapat membaginya dengan orang lain. Kekayaan hati Anda akan menuntun Anda melakukan hal-hal yang mulia dan nilainya jauh lebih besar dari segala harta dunia yang ada di tangan Anda sekarang. Mulailah memberikan diri untuk mendengarkan orang lain, memberikan semangat, mendorong motivasi sahabat, meluangkan waktu memberikan pengharapan positif dalam keadaan yang negative. Berikanlah pujian kepada teman saat perbuatan baik terjadi. Ajarkan anak-anak tentang kasih sayang sosial. Rentangkan kebiasaan memaafkan. Mulailah mengerjakan bantuan-bantuan kecil sederhana yang dapat membuat hari orang lain di sekitar Anda lebih bersinar dari biasanya. Ini membawa Anda menjadi pribadi yang peduli dengan keadaan orang lain.
3. Terbang Makin Tinggi

Perubahan tidak terjadi dalam sekali tindakan. Seperti air dapat membuat lobang di batu, reaksi terjadi bukan setelah butir air pertama yang jatuh, tetapi ketika telah berjuta-juta butir air terus-menerus jatuh di tempat yang sama. Jangan berhenti peduli. Ini jauh lebih menyenangkan dilakukan ketimbang menuntut orang lain melakukannya bagi Anda. Jadilah seseorang yang mengerti lebih dulu.
- Christine Fald, Motivator & Sr. Coach Personal Development

Kamis, 01 April 2010

SAMA SAJA

Suatu pagi seorang polisi yang berjaga di jalur 3 in 1 menghentikan sebuah mobil yang dicurigai berpenumpang kurang dari 3 orang dan tidak menggunakan sabuk pengaman.

“Selamat pagi, pak!  Bapak memasuki kawasan 3 in 1 dan saat ini waktu masih menunjukkan pukul 08:45 menit, sedang dalam kendaraan bapak seorang diri tanpa sabuk pengaman pula.  Saya harus menilang bapak”, tabik pak polisi.

“Anda tahu siapa saya?“ tanya si pengemudi dengan muka garang sambil menurunkan kaca jendela mobil.

“Saya ini Ketua Komisi Dewan Pamong Praja. Saya terlambat menghadiri rapat komisi yang sangat penting, tahu? Jangan halangi jalan saya, rapat komisi tidak dapat dimulai tanpa kehadiran saya.  Mengerti kamu?! “ hardik si pengemudi.

“Saya mengerti masalah Bapak,“ jawab petugas patroli tenang cekatan.

“Karena itu saya menulis surat tilang ini secepat mungkin. Bapak ingin denda 1 juta atau seratus ribu?“

Wuahaaahahaaa... emang enak? Pinter pak polisi.

Selasa, 16 Maret 2010

KEDATANGAN OBAMA : INDONESIA TERSERET POWER POLITICS?


Pengantar

Indonesia bakal kedatangan seorang tamu. Tak tanggung-tanggung, Presiden AS Barrack Obama, yang dielu-elukan oleh publik Indonesia sebagai seorang public figure dengan memajang patungnya ini, dijadwalkan melakukan serangkaian kunjungan ke Indonesia, di antaranya Jakarta dan Bali. Dikabarkan, turut serta dalam kunjungan ini isteri Obama, Michelle Obama beserta staf kepresidenan AS.

Tak pelak, rencana kunjungan ini memicu pro-kontra di publik Muslim Indonesia. Sebagian kalangan menolak kedatangan Obama sebagai aksi protes terhadap aktivitas Amerika Serikat di Indonesia dan negara-negara dunia ketiga lain. Sebagian lain mendukung dengan alasan "menghormati tamu".

Terlepas dari pro-kontra tersebut, kedatangan Barrack Obama memiliki dimensi tersendiri jika kita pandang dari kacamata politik internasional. Banyak pihak yang skeptis dengan sikap Obama pasca-kedatangannya , karena "power politics" masih menggelayut dalam konstelasi politik internasional. Karena, kedatangan Obama diyakini memiliki muatan-muatan politis, layaknya kunjungan kepala negara lain. Sudut pandang realisme memandang, tanpa adanya penekanan pada kepentingan nasional, hukum internasional, serta balance of power, hegemoni dan dominasi dari suatu negara ke negara lain akan tetap ada.

Atas basis sikap inilah muncul argumen bahwa kedatangan Obama memiliki dimensi "power". Persoalannya, Amerika Serikat tidak lagi menggunakan militer (hard power) untuk menekan negara lain. Bagaimana bentuk kontrol (power) Amerika Serikat kepada negara lain? Apakah kedatangan Obama juga sarat dengan bentuk kontrol tersebut?

Kerangka Konseptual: "Power" dan "Realisme Politik"

Ada dua konsep yang perlu kita jelaskan sebelum membahas masalah ini: Kekuasaan dan Realisme Politik. Hans J. Morgenthau, seorang analis politik internasional yang cukup terkenal dalam mazhab realisme, mendefinisikan "power" sebagai "a control of mind and action of other men". Atas basis definisi ini, power dalam konteks politik internasional bersifat sangat abstrak, tidak formal, dan mewujud dalam perilaku pergaulan antarbangsa.

Bagaimana menjaga agar "power" tersebut tidak berubah menjadi chaos internasional? Morgenthau merumuskan enam prinsip dasar (Morgenthau, 1948: 3).

Pertama, politik berada di bawah kendali hukum internasional. Artinya, dalam konteks ini ada hukum yang mengatur pergaulan antarbangsa, dan kekuatan-kekuatan yang ada (great powers) harus menghormati eksistensi hukum internasional ini untuk membatasi kekuasaan yang mereka miliki.

Kedua, kepentingan dalam politik internasional identik dengan kekuasaan ("the concept of interest defined in the term of power"). Secara lebih luas, Morgenthau menjelaskan bahwa setiap pengambil keputuan mendasarkan kepentingan yang ia ambil pada power yang ia miliki. Semakin besar power, bargaining positionnya akan semakin besar pula. Oleh karena itu, untuk mengetahui haluan politik luar negeri atau kebijakan yang diambil oleh seorang pemutus kebijakan bagi negaranya, lihatlah power yang ia miliki. Ini kembali lagi pada konsep power yang telah didefinisikan di atas.

Ketiga, kepentingan yang didefinisikan dalam konteks "power" di atas bersifat dinamis; dalam artian, kepentingan suatu negara tidak berlaku untuk selamanya. Prinsip ini menandaskan bahwa power sebuah negara bisa saja berkurang atau meningkat, dan ini tergantung pada kemampuan sebuah negara-bangsa memanagenya.

Keempat, tindakan politik memiliki signifikansi moral. Artinya, biarpun sebuah negara memiliki hak untuk memperluas "power" dan melindungi kepentingan nasionalnya, mereka tetap harus menghargai prinsip-prinsip moral yang dikenal secara umum dalam pergaulan antarbangsa. Maksudnya, penindasan antarbangsa "haram" dilakukan dalam realisme politik dan "balance of power" tidak boleh memarjinalkan negara lain.

Kelima, Hukum-hukum moral yang diatur dalam pergaulan antarbangsa berlaku untuk semua, dan diberikan atas persetujuan semua pihak. Prinsip realisme politik menolak untuk memberikan persetujuan atas standard moral sebuah negara-bangsa untuk dijadikan landasan hukum internasional, biarpun negara tersebut adalah jajaran "great powers". Sehingga, tidak ada pemaksaan hukum atas sebuah negara kepada negara lain atas dasar powers. Di sisi lain, moral tidak berlaku untuk semua pihak dalam satu seting waktu atau lingkungan. Relasi antara moral dan kepentingan yang terkait tidak boleh menjadi dasar bahwa moral tersebut diuniversalkan dan akhirnya menindas kekuatan lain.

Keenam, politik internasional adalah entitas yang independen, kendati akan sangat terkait dengan aspek-aspek lain semisal ekonomi, hukum, moral, atau pengetahuan. Politik bisa saja dihubungkan dengan ekonomi, tetapi persoalan kekuasaan dan kepentingan harus dijauhkan agar tidak tumpang tindih dengan aspek-aspek lain. Ketika memandang politik internasional, kita hanya akan bicara soal politik, tidak dihubungkan kepada aspek lain secara total.

Dari keenam prinsip ini, menjadi nyata bagi kita bahwa prinsip-prinsip ini telah dilanggar oleh kekuatan-kekuatan besar. Kita dapat melihat, misalnya, Konflik Israel-Palestina, di mana Amerika Serikat terlibat sebagai salah satu pemain yang kerap menguntungkan dan menjadi patron Israel, telah membuat hukum internasional tidak berfungsi. Atau, pergulatan kepentingan di PBB yang menyebabkan hak veto terpolitisasi, menjadikan standard hukum internasional tidak lagi dipertimbangkan secara konsekuen. Pun dalam soal moral internasional, standard moral telah menjadi universal atas kepentingan sang polisi dunia yang unipolar, melalui McWorldisasi (Barber, 1995).

Lantas, ketika prinsip ini dilanggar, dan unipolarisme pasca-perang dingin telah membawa kita pada sebuah kondisi di mana telah terjadi hegemonisasi dalam politik Internasional, konstelasi politik kini bergantung pada perubahan politik di sebuah negeri bernama Amerika Serikat: siapa yang menjadi presiden, ia yang akan memimpin dunia.

Dengan kondisi seperti ini, menjadi relevan bagi dunia untuk mencari penyeimbang baru sebagai "balance of power". Atau, seperti kata Joseph Nye, Guru Besar di Harvard University, Amerika Serikat perlu mendorong penggunaan soft power untuk mencegah chaos di dunia akibat unipolaritas (Nye, 2002). Tetapi, siapa sanggup menyaingi Amerika Serikat? Cina dan India, yang digadang-gadangkan akan menjadi kekuatan baru (Huntington, 1997), masih belum terlihat kompak dalam menekan Amerika Serikat secara hard power. Dunia Islam pun demikian, masih terkooptasi oleh sekat konflik identitas dan politik domestik. Lantas, melengganglah Amerika Serikat sebagai hegemoni dunia.

Konteks Obama

Akan tetapi, pada tahun 2009, konteks politik dunia mulai berubah. Barrack Obama dari Partai Demokrat muncul sebagai pemenang Pemilu. Konstelasi politik internasional mulai berubah. Karakter Obama yang dicitrakan bersahabat, memiliki kedekatan dengan dunia Islam, serta antiperang menjadikan dirinya sedikit diterima di berbagai belahan dunia. Konsep Smart Power yang ia ciptakan menarik minat dunia yang telah putus asa melihat kebengisan Amerika Serikat era Bush. Kita pun bertanya-tanya, inikah awal perubahan dari sang Polisi Dunia?

Jawabnya, belum tentu. Kita bisa menganalisis Amerika Serikat era Obama dalam tiga tingkat analisa yang dikenal dalam studi Hubungan Internasional: Individu, Negara, dan Sistem Internasional.

Pada level analisa individu, Obama memang memiliki karakter khas Partai Demokrat yang "friendly" dan lebih mengedepankan soft power. Di awal-awal pemilu, Obama menggunakan isu antiperang dan antiterorisme sebagai political capital, antara lain dengan melempar isu penutupan penjara di Guantanamo Bay. Atas karakteristik ini, publik Amerika Serikat tertarik dan akhirnya memenangkan Obama sebagai Presiden AS.

Akan tetapi, apakah haluan politik luar negeri AS akan terpengaruh hanya oleh rational actor? Kembali jawabannya belum tentu. Iya, rational actor (Obama) memang akan mempengaruhi pengambilan keputusan. Tetapi perlu diingat, masih ada bureaucratic- polity (Kegley, 2002). Jika mindset politik luar negeri AS masih berorientasi pada how to intervene the world as a "world cop", kita patut skeptis dengan pendekatan yang Obama tawarkan. Mengapa? Karena pada dasarnya, soft power yang ditawarkan oleh Obama bukan persoalan apakah power yang digunakan untuk kebaikan atau tidak, tetapi lebih pada persoalan "how to control another state". Ini mengacu pada definisi Morgenthau di atas. Dominasi dan Hegemoni AS, apapun jenis power-nya, akan tetap ada (Nye, 2002).

Kendati demikian, ada satu hal lagi yang perlu kita lihat: Amerika Serikat cenderung mengedepankan multilateralisme sebagai soft power-nya. Artinya, sistem internasional yang bersifat unipolar dimanfaatkan oleh Amerika Serikat era Obama untuk merekonstruksi politik luar negerinya. Untuk itulah model smart power digunakan, terutama kepada Iran, Venezuela, atau negara-negara yang selama ini kritis terhadap AS. Di satu sisi, multilateralisme yang dibangun tersebut telah membuat sistem Internasional berubah arah: Amerika Serikat mulai membangun citra diri positif yang diikuti oleh mengendurnya penggunaan koersi dan militer. Akan tetapi, di sisi lain, unipolaritas tetap unipolar dan Hegemoni tetaplah hegemoni. Sistem internasional tetap menjadikan Amerika Serikat sebagai "polisi dunia" yang akan tetap setia mengontrol world government (PBB). Pertanyaan yang perlu kita ajukan, apa yang akan terjadi jika kemudian Obama kalah pada Pemilu 2012 dan Amerika Serikat, atau lobi-lobi AIPAC kian kuat dan mendominasi? Ini yang harus dijadikan catatan.

Oleh karena itu, menjadi logis jika kemudian kita merasa skeptis dengan Amerika Serikat era Obama. Tawaran kerjasama yang diberikan di mana-mana terasa sebagai "topeng" untuk melarikan Amerika Serikat dari tanggung jawabnya menyelesaikan pelbagai konflik yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri. Di Iraq, misalnya, berapa jumlah pasukan yang pada saat ini ditarik oleh Obama? Atau, bagaimana politik luar negeri AS dalam konteks Afghanistan- Taliban? Bagaimana kuatnya lobi AIPAC menghalangi dan two-state solution yang ditawarkan sebagai resolusi konflk Israel-Palestina, karena posisi Amerika Serikat berat ke Israel? Ini perlu kita jawab untuk melihat wajah lain Obama dalam politik internasional.

Bagaimana Menyambut Kedatangan Obama?


Ketika tahun lalu Hillary Clinton datang ke Indonesia, ada satu hal yang menjadi fokus pidato Hillary: Indonesia perlu menjadi mitra strategis AS, terutama dalam konteks investasi dan perdagangan. Atase Kebudayaan AS di Indonesia, Anne Grimmes ketika berbicara di Fisipol UGM tahun lalu menyatakan, kedatangan Hillary ke Indonesia sebagai negara tujuan kedua dalam kunjungannya dapat bernilai cukup signifikan bagi pola hubungan AS-Indonesia ke depan.

Jika kita lihat dalam konteks sekarang, kita dapat pula melihat fenomena lain: Mesranya hubungan Indonesia-Cina. Tentu saja, pascakrisis finansial global, muncul kekuatan baru dalam ekonomi dunia, yaitu Cina. Ditandatanganinya ACFTA yang menjadi awal baru hubungan romantis CINA-ASEAN diharapkan diperluas kerjasamanya secara efektif dalam kerang ASEAN+3. Amerika Serikat tentu perlu mewaspadai hal ini, karena sudah jamak diketahui bahwa Perebutan pengaruh AS dan Cina terjadi di beberapa regional, salah satunya Asia Tenggara dan Afrika.

Sehingga, kita tak dapat pula melepaskan konteks kedatangan Obama ke Indonesia dari perisitiwa-peristiw a Internasional kontemporer. Peristiwa lain adalah persoalan Tibet yang memicu sedikit ketegangan antara AS dan Cina, menyusul kunjungan AS ke Dalai Lama yang tidak direstui Cina. Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara dinilai perlu dikendalikan kembali oleh soft power Amerika Serikat.

Oleh karena itu, menjadi jelas bahwa ada tendensi politik Obama datang ke Indonesia, yang dibalut oleh kenangan "masa kecil" dan lain sebagainya. bagaimana sikap Indonesia idealnya menghadapi datangnya Obama ini? Ada beberapa alternatif yang dapat ditawarkan.

Pertama, meredefinisi kepentingan nasional Indonesia. Jika kita konsisten dengan paradigma realis, kebijakan luar negeri RI harus mengacu pada kepentingan nasional. Hal ini ditegaskan pula oleh H.E. Retno LP. Marsudi, Direktur Jenderal Amerika Serikat dan Eropa Departemen Luar Negeri RI di Fisipol UGM, beberapa waktu yang lalu.

Kedua, menjadikan kedaulatan (souvereignty) sebagai tolak ukur posisi RI. Bagaimana meredefinisi kepentingan nasional RI? Jelas, dalam konteks hubungan Indonesia-AS, ada beberapa hal seperti kedaulatan Indonesia yang perlu jadi kepentingan nasional. NAMRU, misalnya, perlu direnegosiasi agar kedaulatan Indonesia di bidang kesehatan tidak lagi terkotori oleh politik dan kekuasaan Amerika Serikat (Supari, 2008). Dalam konteks pengelolaan sumber daya alam, kita perlu meredesain format pengelolaan sumber daya alam yang tidak menguntungkan investor asing secara luar biasa. Hal-hal seperti ini yang perlu kita redefinisi untuk menyambut Obama.

Ketiga, meningkatkan strength diplomasi Indonesia. Penguatan kapasitas diplomasi bukan berarti peningkatan skill diplomat, karena pada dasarnya diplomat Indonesia telah memiliki kapasitas yang sangat baik dalam menunaikan tugas negara. Hal yang perlu kita perhatikan adalah resources diplomasi dan kapitalisasi isu agar bisa menjadi bargaining position kita dalam forum-forum internasional. Diakui oleh Retno LP. Marsudi, kegagalan kita dalam mempertahankan standing position dalam suatu isu banyak disebabkan oleh bargaining position yang lemah oleh sebab kondisi sosial politik di masa lalu. NAMRU, misalnya, menjadi kelemahan kita karena di masa lalu, klausul kerjasama kesehatan Indonesia-AS justru diminta oleh Indonesia, sehingga dapat dikapitalisasi oleh AS untuk menekan Indonesia. Di sinilah pentingnya sinergisasi antara konstituen diplomasi dengan pengambil keputusan, dan penegasan adanya diplomasi total yang mengerahkan segenap sumber daya dan konstituen diplomasi untuk terlibat menentukan sikap RI dalam diplomasi.

Keempat, menegaskan asas dan identitas politik luar negeri RI, yaitu "bebas-aktif" . Bebas aktif bukan berarti netral. Dalam pidatonya, Hatta telah menegaskan bahwa bebas adalah bebas dari tarikan kepentingan great powers (Hatta, 1949). Atau, lebih kita kenal dalam politik internasional sebagai "power politics". Bebas-aktif tidak seperti yang dituduhkan oleh sebagian pihak sebagai "politik luar negeri banci". Justru, di sinilah kapital Indonesia dalam politik luar negerinya, yang tidak terpengaruh oleh tarikan kepentingan dan power dari mereka yang ingin meneguhkan hegemoninya. Oleh karena itulah, Hatta menambahkan unsur "aktif" dalam haluan politik luar negeri RI yang tetap konsisten "menjaga perdamaian dunia" sebagai tujuan nasional RI. Hal ini pun juga dijelaskan oleh Pembukaan UUD 1945. Dengan demikian, asas politik luar negeri RI ini perlu dijadikan landasan sentral dalam menghadapi kedatangan Presiden AS Barrack Obama.

Dengan keempat tawaran ini, kita perlu merancang sikap dalam menghadapi kedatangan Obama. Realisme politik adalah persoalan power. Dalam dunia unipolar sekarang, perlu kehati-hatian agar tidak terjebak dalam power politics. Untuk itulah kedatangan Obama perlu kita sikapi secara lebih tajam. Awas, jangan terperangkap politik kekuatan dunia!

Bagaimana menurut anda?

Referensi

Barber, Benjamin. Jihad vs McWorld: How Globalism and Tribalism are Reshaping the World penterjemah Hermes Dione (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2001).

Emmerson, Donald K. "Garuda and Eagle: Do Birds of A (Democratic) Feather Fly Together?" The Indonesian Quarterly, Vol. 34 No. 1, First Quarter, 2006.

Hatta, Mohammad. "Mendayung di Antara Dua Karang". Speech presented in front of the Executive Board of Indonesia National Committee (BP-KNIP), September 2, 1948,

Huntington, Samuel P. The Clash of Civilization and Remaking of World Order penterjemah M. Sadat Ismail (Yogyakarta: Qalam, 2007).

Kegley, Charles W. and Eugene R. Wittkopf. World Politics: Trends and Transformation (Belmont: Thomson-Wadsworth, 2006).

Morgenthau, Hans J. Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace (New York, N.Y: Alfred A. Knopf, 1956, second edition, revised).

Nye Jr, Joseph S. "The Paradox of American Power". Speech presented in Robertson Hall, Princeton University, May 8, 2002.

Supari, Siti Fadillah. It is Time for the World to Change: The Divine Hand Behind Avian Influenza (Jakarta: Sulaksana Watinsa Indonesia, 2008).

Sabtu, 20 Februari 2010

MILAD PERAK

Ya Allah,
Kau ciptakan kami dari tiada, menjadi ada
Kemudian Kau kembalikan kami kepada-Mu
Kehidupan kami bejalan dan berputar
sesuai dengan kehendak-Mu

Ya Allah,
Hari ini tiba juga aku di usia ini
Hari di mana aku harus menjadi lebih bijaksana
Hari di mana aku harus menjadi lebih dekat dengan-Mu
Hari di mana aku harus bisa menjadi teladan bagi orang lain

Ya Allah,
Panjangkanlah usiaku agar hidupku menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih memandang hidup
dengan penuh makna dalam kebesaran-Mu
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat membimbing keluargaku
untuk dapat tunduk dan berbakti kepada-Mu
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih bersyukur
atas nikmat dan rizqi yang Engkau anugerahkan kepadaku

Ya Allah,
Jadikanlah aku menjadi hamba-Mu yang khusyu’ dan tawadhu’
dalam menerimah hikmah dan berkah-Mu
Bertambah usia dalam hitunganku
berkurang pula usiaku dalam hitungan-Mu

Ya Allah,
Terima kasih Engkau telah mengangkatku
menjadi makhluk dengan derajat yang tinggi
Terima kasih engkau telah memberikan cahaya keimanan kepadaku
sehingga aku dapat lebih mengenal-Mu,

Ya Allah,
Aku percaya bahwa Engkau akan selalu berikan yang terbaik
untuk diriku, keluargaku, orang tuaku dan
semua sahabat sejatiku, yang selalu peduli padaku
Hanya pada-Mu lah aku senantiasa mengabdi dan
Hanya pada-Mu lah aku memohon pertolongan
Kabulkanlah do’a hamba-Mu ini Ya Allah..
Amin..amin..amin..

Yaa Robbal ‘Alamin.

Selasa, 12 Januari 2010

Pola Pengelolaan Hubungan Partai Politik dengan Konstituen

Pada dasarnya mekanisme hubungan partai politik dengan masyarakat sederhana: partai politik membutuhkan suara pemilih dalam pemilu umum. Maka dari itu, partai politik terpaksa harus memperhatikan keinginan para pemilih sebelum mengambil keputusan mengenai program dan kebijakan partai. Artinya, politisi harus mencari informasi tentang kesulitan dan masalah yang sedang dihadapi masyarakat serta kepentingan dan preferensi pemilih. Kemudian partai dapat menawarkan suatu program politik yang membicarakan persoalan-persoalan yang aktual. Dalam kompetisi multi-partai, yang dibutuhkan partai politik adalah responsiveness; kemampuan untuk mendengar dan menjawab. Tanpa mekanisme pengelolaan hubungan dengan masyarakat yang responsif partai politik tidak dapat memaksimalkan hasil di dalam pemilu.

Pengelolaan hubungan dengan masyarakat juga penting bagi keberlangsungan dan survival partai politik sebagai organisasi sosial. Seluruh organisasi berusaha untuk menstabilkan dan mengontrol lingkungannya. Lingkungan yang sangat sentral bagi partai politik adalah konstituennya. Hubungan dan komunikasi dengan masyarakat yang konsisten dan dua arah dapat merupakan stabilisator bagi partai, sebab pemilih merasa lebih akrab dan terikat pada partai dan akan memberikan kontribusi kepadanya. Maka dari itu, partai politik harus berusaha membangun hubungan dengan konstituen yang stabil dan berjangka panjang. Agar hubungan dengan konstituen dapat didirikan dan dikelola dengan baik partai harus mengembangkan pemahaman ideologi dan nilai-nilai dasar partai dan membangun (infra-) struktur partai dulu.




Ideologi dan nilai-nilai merupakan pondasi hubungan partai politik dengan konstituen. Lebih lanjut ada tiga pilar, yaitu sumber daya manusia, prosedur dan mekanisme internal partai, dan sumber daya finansial. Partai harus membangun ideologi sebagai landasan pemikiran dan program partai. Kalau ada ideologi dan nilai-nilai yang jelas, partai dapat mengidentifikasi kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki kurang lebih satu kesamaan dengan ideologi yang mau dikembangkan partai tersebut: Baru setelah itu dilakukan pengorganisasian. Kemudian pengembangan program dapat dijalankan. Ideologi dan nilai-nilai dihadapkan pada semua masalah untuk mengembangkan tawaran solusi atas masalah-masalah, baik masalah ekonomi, sosial, antar agama, dll. Ini yang akan membuat ideologi secara terus menerus applied atau hidup. Ini menjadi siklus, sehingga ini menjadi gerak spiral ke atas.




·         Lemahnya pemahaman ideologi dan sistem nilai partai, sehingga  ketika timbul suatu persoalan, tidak terlihat adanya perbedaan yang substansial antara partai satu dengan yang lainnya dalam menyelesaikan masalah tsb. Padahal ketika  ideologi menjadi suatu sistem nilai, ini seharusnya berdampak pada cara berpikir dan menyelesaikan persoalan. Efek dari lemahnya ideologi ini membuat partai menjadi pragmatis. Tidak mengherankan bahwa akhirnya konstituen menjadi lebih pragmatis juga dan punya kecenderungan memilih figur, kedekatan, atau yang banyak uangnya dan sumbangannya.

·         Hubungan partai dengan konstituen sudah terjebak pada pola hubungan jual-beli/transaksional antara buyer dan seller. Untuk mendapatkan suara dalam pemilu, parpol membeli konstituen lewat uang, sembako, kaos, pembangunan mesjid, pembangunan jalan dll.
Hal ini dilestarikan oleh hubungan anggota dewan dengan konstituennya, yang terhanyut dalam pola politik sejenis pasca Pemilu. Alih-alih membuat desain keputusan politik yang merupakan terjemahan dari aspirasi dan kepentingan konstituen, anggota dewan terjebak untuk  memberikan bantuan dan sumbangan yang bersifat karitatif dan berbiaya tinggi.

·         Belum terbangunnya suatu komunitas politik dan infrastrukturnya yang solid, dimana parpol menjadi ujung tombak penyaluran aspirasi dan agregasi kepentintingan komunitas tersebut. Tidak mengherankan ketika pada Pemilu partai A mendapat, katakan-lah 1 juta suara, mereka tidak tahu suara itu berasal dari mana, karena infrastrukturnya belum terbangun.
Suara dalam Pemilu sendiri seyogyanya merupakan konsekuensi logis dari suatu kesepakatan atau komitmen yang dibangun bersama dalam komunitas, dimana parpol menjadi ujung tombaknya.

·         Belum adanya peraturan partai yang mengatur, meng-elaborasi dan mendesain pola mengenai bagaimana membangun hubungan dengan konstituen. Hubungan dengan konstituen menjadi bersifat individu dan tidak sistemik. Seharusnya merupakan kewajiban partai untuk merancang, membangun tradisi dan melembagakan pola hubungan dengan konstituen dalam suatu peraturan partai yang komprehensif.

·         Parpol menggunakan konstituen untuk kepentingan jangka pendek, dimana parpol memakai konstituen sebagai pendulang suara dalam Pemilu, alat legitimasi, alat mobilisasi, tatkala instrument partai membutuhkan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Konstituen diposisikan sebagai sub-ordinat untuk memenuhi keinginan dan kepentingan politik partai.

·         Komunikasi dan hubungan parpol dengan konstituen pada umumnya masih satu arah, yaitu dari parpol kepada konstituen. Desain program parpol tidak mencerminkan harapan dan kebutuhan konstituen yang diwakilinya.

Minggu, 29 November 2009

HARI MENANAM JANGAN HANYA MENJADI SLOGAN







Sebagai sebuah Negara, Indonesia adalah Negara yang subur, dengan berbagai potensi dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, ini menjadikan Indonesia sebagai Negara yang diperhitungkan di dunia. Kekayaan yang membentang antara ujung Pulau Sumatera dengan ujung Pulau Papua menyimpan banyak harapan dari masyarakat akan kehidupan yang makmur dan sejahtera. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan kondisi yang ada di tengah masyarakat, begitu banyak masyarakat usia produktif kesulitan menemukan pekerjaan yang layak bagi kehidupannya. Sementara usia harapan hidup masih jauh tertinggal dengan Negara-negara tetangga seperti Brunei Darussalam dan Singapura. Akan tetapi, semua ini tidak menghilangkan fakta bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang amat kaya.

            Tanggal 28 November 2008 menjadi hari penting bagi bangsa Indonesia dalam upaya menciptakan lingkungan hijau. Untuk pertama kali, tanggal ini ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia. Dan, bulan Desember juga ditetapkan sebagai Bulan Menanam Nasional. Mengawali pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia, secara serentak di seluruh tanah air ditanam (100.000.000) Seratus juta bibit pohon, sebuah angka yang fantastis yang ditandai dengan pencanangan oleh orang nomor satu di Republik ini di lokasi lingkungan Pusat Penelitian Limologi LIPI, Cibinong, Jawa Barat.

            Kita pantas mengelus dada, karena tepat setahun kemudian, masyarakat dapat melihat bahwa hari yang telah dicanangkan dengan menghabiskan anggaran Negara itu hanya menjadi seremoni bagi segelintir kelompok masyarakat, tidak ada tindakan yang lebih nyata dalam menciptakan lingkungan yang hijau dan asri terutama untuk mengawasi dan melindungi pohon-pohon yang telah ditanam tersebut.

            Pohon-pohon yang ditanam tersebut hanyalah menjadi simbol dalam suatu rangkaian acara, yang pada tahun berikutnya lahan yang sama akan dipakai untuk acara seremonial yang serupa, dengan bentuk dan konsep yang sedikit dimodifikasi. Yang penting program kerja terealisasi, dan penggunaan anggarannya dapat dipertanggungjawabkan. Media cetak dan elektronik akan beramai-ramai menayangkan seremonial yang menunjukkan seolah-olah sang Pemimpin tersebut dan pembantu-pembantunya adalah orang yang sangat peduli dengan keberlangsungan daerah hijau di Indonesia. Tidaklah menjadi terlalu penting apakah program tersebut dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.

            Program-program tersebut dalam sepanjang tahun akan dilanjutkan dengan pemasangan iklan baliho raksasa di sepanjang jalan-jalan protocol ibukota, diberikan gambar sang pemimpin sedang menyiram pohon bersama dengan istri atau menterinya atau kepala daerahnya. Gambar yang seolah menuntun masyarakat untuk mau menanam dan merawat tanaman dengan baik, sebuah tuntunan yang baik tentunya apabila masyarakat kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

            Namun ternyata pertanyaan yang paling mendasar pun muncul dari berbagai kalangan masyarakat luas, apakah anggaran untuk beriklan yang dikeluarkan dari kas Negara itu sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan untuk memastikan bahwa jutaan tanaman atau pohon yang ditanam tersebut telah tumbuh dengan baik. Sebelum kita mendapatkan jawabannya, kita hanya akan melihat seremonial tersebut akan berulang kembali yang diadakan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Dapat diasumsikan bahwa penokohan dalam beriklan dirasa lebih penting dari sekedar merawat pohon untuk dapat tumbuh besar hingga bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Ironi memang.

            Sudah saatnya kita tidak lagi menjadikan hari menanam hanya sebagai slogan semata, akan tetapi yang jauh lebih penting dari hal ini adalah penanaman nilai-nilai kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kualitas lingkungan  demi masa depan yang lebih baik. Pemerintah sebagai regulator sangat berkepentingan dalam menentukan kebijakan serta menyusun program-program yang dapat dirasakan secara langsung ataupun tidak langsung oleh masyarakat.


Selasa, 17 November 2009

DOKTER DARI DESA



Dokter masuk desa, itu biasa. Kalau dokter dari desa ??? Ini yang luar biasa.


Mohon maaf sebelumnya kepada para kakanda dan rekan yang berprofesi dokter, tulisan ini semata – mata demi kepentingan rakyat pedesaan yang jauh dari pelayanan kesehatan yang mencukupi.


Siapakah seorang dokter sekarang ??? Dilihat dari pembiayaannya untuk menempuh pendidikan kedokteran maka tidak menungkinkan bagi orang tidak mampu untuk menempuh pendidikan kedokteran, hampir bisa dipastikan merupakan merupakan dari kalangan yang berkecukupan. Dan biasanya kalangan yang berkecukupan pasti berasal dari daerah perkotaan, minimal dari ibukota kabupaten. Nah, dengan asal muasal yang demikian, apakah mungkin seorang dokter secara sukarela mengabdi di daerah pedesaan apalagi desa terpencil seperti pedalaman Papua ???


Memang ada program dokter PTT (pegawai tidak tetap) yang gajinya perbulan melebihi gaji seorang Kepala Dinas Kesehatan. Dan mereka ditugaskan di puskesmas pedesaan. Tapi apakah akan seterusnya rakyat pedesaan hanya bisa menikmati pengobatan dari dokter PTT perkecamatan ??? Atau hanya menikmati pengobatan dari seorang bidan desa ???


Program dokter masuk desa hanya akan sampai pada kondisi keterpaksaan saja. Harus ada terobosan agar masyarakat pedesaan bisa menikmati pengobatan yang layak dari seorang dokter yang bisa menetap lama dan betah dalam menjalankan tugas medisnya. Dan ini hanya akan bisa dicapai bila dokternya adalah berasal dari masyarakat setempat, atau dengan kata lain : Dokter Dari Desa.


Ya, dokter dari desa, maksudnya, harus diciptakan sistem yang memberi peluang bagi seorang siswa terbaik dari desa dan dari kalangan yang hidupnya pas-pasan bisa menempuh pendidikan kedokteran dengan biaya negara dengan konsekuensi setelah lulus jadi dokter harus bertugas jadi PNS dan menjadi dokter di desanya berasal secara ikatan dinas minimal 10 tahun dengan gaji standar PNS disertai bonus tunjangan fungsional. Setelah selesai ikatan dinas 10 tahun maka diberi kesempatan lagi untuk menempuh pendidikan spesialis atas biaya negara dan setelah lulus harus mengabdi di rumah sakit umum daerahnya berasal dengan masa ikatan dinas 10 tahun lagi. Setelah selesai ikatan dinasnya terserah mau pindah kemana bukan masalah lagi.


Saya rasa masalah anggaran bukan masalah karena kalau ditimbang-timbang anggaran negara banyak tersedot untuk menggaji dokter PTT dengan gaji di atas rata-rata. Juga untuk menarik seorang dokter spesialis ke rumah sakit umum daerah juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, malah gajinya melebihi gaji seortang Direktur Rumah Sakit Umum Daerah.

KEMANDIRIAN


Pada hakekatnya makhluk hidup di muka bumi ini tidak terlepas dari adanya ketergantungan dan keterkaitan antara satu dengan yang lainnya dan juga dengan lingkungannya. Namun, diatas ketergantungan dan keterkaitan itu, Allah menciptkan keteraturan, dimana pada posisi ini akan tercapai suatu keseimbangan, sehingga setiap unsur atau makhluk hidup dalam kondisi hidup yang seimbang dengan lingkungan yang dihuninya. Proses keteraturan itu analog dengan proses terciptanya kemandirian bagi manusia, dan biasanya kemandirian ini diperoleh setelah dewasa. Pada usia dewasa inilah manusia bisa mandiri dalam banyak hal termasuk dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Sudah barang tentu proses menuju kemandirian cepat atau lambat, sangat ditentukan oleh cepat atau lambat  berkurangnya tingkat ketergantungan dan keterkaitan, sehingga pada gilirannya terwujudlah kemandirian.

Membangun kemandirian bangsa berarti memahami poses kemandirian sebagai suatu usaha membangun bangsa yang mampu menyelesaikan setiap masalah dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berkeadilan, sejahtera dan bermartabat. Dengan umur bangsa yang sebentar lagi berulang tahun ke 63, sudahkan bangsa ini mandiri? Sudahkah Bangsa ini mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera? Dan sudahkan bangsa ini memiliki martabat yang sehingga tidak lagi ada bangsa lain yang melecehkan? Maka sangat penting kiranya membangun bangsa yang mandiri ditengah pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di berbagai belahan dunia dan di era globalisasi yang sangat berpengaruh ini. Dari sisi usia sejak negeri ini merdeka, seharusnya sudah mampu menjadi negara yang tidak terlalu tergantung pada belas kasihan negara lain, tidak terlalu terpengaruh kondisi gejolak financial di negara lain dalam roda perekonomian dan seharusnya juga memiliki kebanggaan atas produk yang dihasilkan sendiri sebagai pembuktian atas kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sabtu, 07 November 2009

SELAMATKAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT

 
VS

Oleh : Shinta Ardjahrie

Pemberantasan korupsi erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat yang berefek pada tingkat kejahatan/kriminaltas di tengah masyarakat. Bahwa ketika korupsi meningkat, angka kejahatan yang terjadi meningkat pula ( Global Corruption Report, 2005). Sebaliknya ketika korupsi berhasil dikurangi, kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum bertambah. Kepercataan yang membaik dan dukungan masyarakat membuat penegakan hukum menjadi efektif. Penegakan hukum yang efektif dapat mengurangi jumlah kejahatan yang terjadi.
Apa yang sedang terjadi sekarang, adalah kepercayaan masyarakat kini sedang terombang-ambing.Dalam proses perjalanan KPK sebagai salah satu institusi hukum dalam pemberantasan tindak pidana korupsi, berbenturan dengan sesama penegak hukum, yaitu kepolisian Republik Indonesia (POLRI). Adegan ini seolah menjadi fragmen sensasional di hadapan ratusan juta masyarakat Indonesia. Saling berargumen, mempertahankan kebenaran posisi lembaga masing-masing.
Lepas dari masalah kontroversi penahanan dua pimpinan KPK, kemelut yang sedang terjadi sebenarnya merupakan perwujudan dari semangat setiap unsur penegak hukum dalam menjalankan tugasnya dan tekad untuk memberantas korupsi. Polisi sebagai aparat mencoba melakukan tanggung jawabnya dengan optimal dan KPK pun sebagai komisi khusus juga bersikeras memertahankan sebuah idealisme dalam menjalankan tugas-tugas mulianya.
Sebenarnya semangat ini adalah sebuah aset positif dalam misi bersama kita untuk memberantas korupsi. Penanganan korupsi butuh semangat yang besar seperti ini karena memang korupsi adalah kasus kriminal yang luar biasa. Penanganan korupsi tidak cukup hanya melalui mekanisme hukum konvensional. Korupsi adalah kejahatan dengan kategori yang tidak biasa. Seperti diputuskan dalam kongres PBB tahun 1980 mengenai The Prevertion of crime and The Treatment of Offenders, dunia mengecam dan memasukan korupsi dalam kategori extraordibnary crims (kejahatan luar biasa) yang menyangkut kejahatan terhadap kesejahteraan sosial (crime againts social welfare) , kejahatan terhadap pembangunan crime againts development), dan kejahatan terhadap kualitas lingkungan hidup (crime againts the quality of life). Di dalamnya korupsi diakui dan diidentifikasi sebagai tindak pidana yang sulit dijangkau hukum offences beyond the reach the law) .
Tingkat stadium penyakit korupsi yang tinggi ini menuntut sebuah konsekuensi adanya keseriusan dan strategi pemberantasan korupsi yang tepat. Hal ini juga menjadi reminder bahwa dalam melakukan pemberantasan tipikor, perlu ada kerjasama dan pengorganisasian gerakan yang baik. Seperti dikatakan oleh Sayyidina Ali ra bahwa “Kejahatan yang terorganisir dapat megalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.” Terjadinya kemelut ini merupakan akibat kurang terorganisirnya misi dalam pemberantasan korupsi di negara ini. Hal yang menjadi kekhawatiran adalah perlu diingat bahwa kemelut yang terjadi diantara penegak hukum memiliki efek yang sangat luas, Selain berakibat terganggunya sistematika pemberantasan korupsi, kemelut ini telah berpengaruh pada kepercayaan masyarakat. Hal ini diperkuat lagi oleh aktor media yang dalam fungsinya untuk menyuguhkan realita kepada masyarakat.
Apapun yang menjadi akar masalah kemelut ini, baik itu politik, hukum, ekonomi, atau yang lainnya, harapannya masyarakat jangan sampai hancur kepercayaannya pada aparat. Sungguh miris melihat masyarakat terbentuk kelompok-kelompok, ada yang membenci POLRI atau sebaliknya. Masyarakat jangan menjadi korban untuk diarahkan dalam membentuk koloni-koloni yang hanya akan menimbulkan perpecahan. Penyelesaian kemelut KPK-POLRI secara bijak harus segera diwujudkan untuk menyelematkan kepercayaan masyarakat.

Rabu, 04 November 2009

OSTEOPOROSIS POHON KOTA KU....!!!




Oleh : John F. Papilaya


Crap.Crap.Crap…….BruK….!!!!ngeng…ngn…ng….ng……ng..brak….!!!!!
Satu daun yang terpotong adalah 10 rupiah begitulah kira-kira yang menjadi pikiran penebang pohon di Jakarta.
Keberadaan jasa penebangan pohon ini di tandai dengan keberadaan iklan jasa penebang pohon sering terlihat di setiap sudut-sudut kota, iklan yang berisikan kalimat penebang pohon dengan di sertai nomor telpon yang dapat di hubungi ini tertempel pada tiang listrik, pada dinding-dinding bangunan pasar dan kadang sungguh ironisnya iklan jasa penebang pohon ini terpaku pada pohon-pohon pelindung di jalanan.
Keberadaan iklan-iklan jasa penebang pohon seakan ikut menantang keberadaan iklan program pemerintah ‘ One Man One Tree’ yang terpancang megah di setiap sudut kota dan sering muncul di Media TV-TV swasta.Iklan jasa penebang pohon seakan tidak mau kalah populer dengan para artis selibritis yang mau berpanas ria membagikan bibit pohon kepada setiap pengendara mobil yang lewat di sekitar bundaran HI.
Keberadaan jasa penebang pohon akan dapat di maklumi jika melihat sangat kristisnya kesehatan pohon-pohon besar pelindung di Jakarta, memang sebagian besar pohon pelindung di jalanan Jakarta bisa dikatakan menderita penyakit osteoporis yaitu suatu penyakit tulang pada manusia yang ditandai dengan massa tulang yang rendah dan kerusakan pada mikro arsitektur tulang,sehingga meningkatkan risiko fraktur atau patah tulang.oleh sebab itu maka tidak salah jika Pohon-pohon besar pelindung tersebut dikatakan Pohon berpenyakit osteoporosis dan siap untuk di amputasi atau di tebang.
Ini merupakan hal yang lucu,kenapa? Karena seharusnya semakin besar pohon pelindung tersebut maka semakin optimalah fungsi dari pohon tersebut sebagai peneduh jalan dan juga sebagai pabrik oksigen atau istilah kerennya ’paru-paru kota’ akan tetapi semakin besar pohon pelindung tersebut maka semakin besar pulah bahaya yang mengancam yang siap menimpa siapa saja yang berada atau melintas di bawah pohon tersebut.
Bukan berita baru jika sudah terjadi puluhan kali pohon besar pelindung tersebut memakan korban jika tumbang pada saat hujan dan kadang pada saat cuaca cerahpun pohon di jakarta seakan siap menerkam siapa saja yang melintas .