SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Blog Pribadi Atma Winata Nawawi

Rabu, 18 Mei 2011

PANGKAS HAK UJI DPR


Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) seolah-olah menjadi tempat berhimpun para pengidap megalomania. Mereka merasa diri serbahebat, tanpa cacat, dan memonopoli kebenaran. 

Meski berbagai kelakuan DPR dikritik bertubi-tubi oleh publik, mereka tidak juga berubah. Mereka bahkan kian bernafsu memperluas kekuasaan meski tidak mampu melaksanakan dengan baik dan benar. 

Salah satu yang dikritik adalah hak DPR melakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). DPR memasukkan hak itu ke sejumlah undang-undang. Paling tidak ada 12 jabatan negara harus melalui uji kelayakan dan kepatutan DPR. 

Seperti tak puas dengan semua itu, kini DPR ingin menambah lagi hak melakukan uji kelayakan dan kepatutan itu. Yang dibidik adalah jabatan jaksa agung. Kewajiban mengikuti fit and proper test bagi calon jaksa agung disisipkan dalam revisi UU No 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. 

Pasal 19 ayat (2) UU No 16 Tahun 2004 menyebutkan jaksa agung diangkat dan diberhentikan presiden. Dalam revisi UU Kejaksaan itu presiden diminta mengusulkan minimal tiga calon jaksa agung untuk diseleksi DPR. 

Kita tidak alergi dengan kewenangan DPR melakukan fit and proper test. Namun, kewenangan itu hanya untuk mengisi jabatan komisi-komisi negara karena komisi-komisi negara bukan aparat presiden dan tidak bertanggung jawab kepada presiden. 

Namun, untuk jabatan seperti Kapolri, Panglima TNI, duta besar, jaksa agung, haruskah prosesnya melalui uji kelayakan dan kepatutan DPR? Tidak. Kewenangan DPR itu dipangkas saja. Presiden harus diberi kepercayaan penuh menggunakan hak prerogatifnya untuk memilih pejabat-pejabat itu tanpa ada intervensi politik DPR. 

Alasan DPR melakukan fit and proper test agar jaksa agung lebih independen dan tidak terlalu dipengaruhi pemerintah adalah alasan yang dikarang-karang. Kita menangkap gelagat tak elok di balik niat itu. DPR ingin menyandera jaksa agung agar tidak mudah menjerat anggota dewan. 

Indonesia Corruption Watch (ICW) bahkan menilai ada konflik kepentingan dalam revisi UU Kejaksaan. Pasalnya, Ketua Panitia Kerja RUU Kejaksaan yang juga Wakil Ketua Badan Legislasi DPR Achmad Dimyati Natakusumah pernah menjadi tersangka dan ditahan Kejaksaan Tinggi Banten. 

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan itu mantan Bupati Pandeglang. Dia menjadi tersangka kasus dugaan suap Rp1,5 miliar untuk anggota DPRD Pandeglang soal pinjaman Kabupaten Pandeglang dari Bank Jabar cabang Banten senilai Rp200 miliar. 

Kita sungguh risau jika DPR dijadikan kuda tunggangan untuk balas dendam pribadi atau kelompok. Jangan menyandera jaksa agung untuk membabat musuh-musuh politik dan menyelamatkan sohib-sohib yang korup. 

Kewenangan melakukan uji kelayakan dan kepatutan itu juga perlu dipangkas karena menjadi sumber transaksi. Contohnya, 25 anggota DPR periode 1999-2004 kini ditahan KPK terkait dengan aliran dana pada fit and proper test Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom. 

DPR harus bertanya kepada diri sendiri, masih patutkah menguji pihak lain? Bukankah justru kelayakan dan kepatutan anggota DPR yang harus diuji?


Sumber : http://www.mediaindonesia.com/read/2011/05/18/226731/70/13/Pangkas-Hak-Uji-DPR

Rabu, 27 April 2011

DINAMIKA KADER LOMPAT KATAK


Oleh : Indra J Piliang

Sejumlah politikus kini memutuskan berpindah partai politik. Kalau semula politikus itu hanya pihak yang diusung dalam pemilihan kepala daerah, tidak terlalu banyak reaksi yang muncul. Gamawan Fauzi, misalnya, disorot karena sikapnya dalam pemilihan presiden 2009 yang menunjukkan dukungan terhadap pasangan SBYBoediono, yang diusung Partai Demokrat dan mitra koalisinya. Sedangkan dalam  pilkada Sumatera Barat 2005, Gamawan diusung oleh PDI Perjuangan dan Partai Bulan Bintang sebagai calon gubernur.

Namun lain halnya kalau politikus itu merupakan tokoh penting di partainya. Ambil contoh Dede Yusuf,Wakil Gubernur Jawa Barat. Kepindahan Dede ke Partai Demokrat dianggap sebagai corengan terhadap loyalitas kader penting Partai Amanat Nasional. Selain itu, kepindahan Dede tersebut ditengarai dalam rangka mengincar posisi sebagai Gubernur Jawa Barat. Gubernur Jambi Hasan Basri Agus, yang turut diusung Partai Golkar, memutuskan menjadi Ketua Partai Demokrat Provinsi Jambi.

Apa yang terjadi sebetulnya? Di tengah penilaian yang semakin kurang bersahabat terhadap eksistensi politikus dan partai-partai politik, secara terang-terangan pola rekrutmen kader semakin instan. Kader yang “diambil”adalah kader yang sudah jadi, alias bukan sosok yang menghadapi manis-pahitnya kehidupan kepartaian. Ciri lain yang penting adalah kader tersebut sedang mengisi jabatan publik, yakni incumbent sebagai kepala atau wakil kepala daerah.

Semakin mudahnya kader berpindah dari satu partai politik ke partai politik lain menunjukkan betapa politikus bukan lagi persoalan ideologis. Lo, kenapa larinya ke sana? Mengingat kader ideologis akan berbicara dan berpikir berdasarkan raison d’ĂȘtre kelahiran dan kehadiran partai-partai politik. Kader ideologis tidak sematamata membaca peluang kekuasaan yang bisa diraih. Politik bukan hanya masalah kekinian, tetapi menghunjam ke masa lalu yang jauh dan menerawang ke masa depanyang tak pasti.

Kelompok mana yang semestinya mengingatkan soal penting ini? Tentu kalangan di luar partai politik. Politik tidak bisa dikendalikan setengah hati atau semata-mata hanya soal kekuasaan. Politik adalah bagian dari perikehidupan yang jauh lebih ideal lagi, yakni bagaimana setiap manusia bisa mendayagunakan akal dan pikirannya berdasar idealisme tertentu. Dalam konteks ini, politikus adalah manusia-manusia yang memikirkan persoalan-persoalan yang jauh lebih besar, dari sekadar kebutuhan primer, sekunder, dan tersier sebagai manusia. Dalam bahasa yang lebih populis, politikus adalah negarawan ketika berpikiran tentang generasi terdahulu dan generasi yang akan datang.

Kalau dibandingkan dengan masa lalu, dari sisi ekonomi, politikus zaman sekarang jauh lebih kaya ketimbang politikus generasi founding fathers and mothers. Haji Agus Salim, misalnya, terkenal dengan adagium leiden is lijden (memimpin adalah menderita). Sampai akhir hayatnya, Agus Salim adalah sosok singa podium tua yang hidup di kamar kontrakan, tempat ia mendidik anakanaknya tanpa menempuh pendidikan formal.Tentu, semakin jarang politikus seperti itu di zaman ini.Tapi kita perlu mengingat terus betapa pernah ada sosok-sosok penting politikus di masa lalu yang kehidupan ekonominya begitu parah namun hadir sebagai negarawan-negarawan ulung.

Wajah politikus zaman ini dikenal glamor, menjadi selebritas, seakan tak kenal penderitaan. Siapa pun yang menjadi politikus pasti tahu betapa publik menganggapnya sebagai lumbung uang yang tak pernah kerontang. Proposal menumpuk, kalau sudah menempati posisi sebagai anggota legislatif atau eksekutif. Bukan hanya para pejabat publik yang terkena stigma sebagai sosok yang kaya, tapi juga orangorang yang dikenal sebagai politikus.

Maka, tidak mengherankan, untuk memenuhi kebutuhan di luar keluarganya, sejumlah politikus menempuh jalan keliru. Salah satunya adalah menjadi koruptor, baik kecilkecilan maupun besar-besaran, sendirian atau berjemaah. Sementara itu, mereka yang tiba-tiba mendapati kenyataan sudah naik kelas pada posisi yang tinggi, menjadi anggota parlemen, misalnya, membius diri dengan tingkah laku bagaikan orang kaya baru: mengisap narkoba dan berbelanja barang-barang mahal. Bukannya semakin dekat dengan kepentingan nurani rakyat, malahan politikus jenis ini mengalami kedangkalan pemaknaan peran di publik.

Karena itu, tidaklah aneh bila terjadi lompatan-lompatan pemikiran untuk tetap berada dalam posisi sebagai elite masyarakat itu. Salah satu cara yang ditempuh adalah menjadi politikus “lompat katak”.

Yang masuk kategori ini adalah politikus yang menendang ke bawah, berpegang ke atas, sembari berharap ada kedudukan yang lebih nyaman. Partai-partai politik yang dikejar adalah yang sedang berada dalam posisi berkuasa. Maka, jarang kita mendengar kader-kader yang memilih masuk ke partai yang lebih kecil seperti yang dilakukan sahabat saya, Dr Yuddy Chrisnandi, yang memutuskan menjadi elite di Partai Hanura.

Tentu kategori lompat katak tidak termasuk dalam kategori kader-kader yang secara kolektif membangun ide-ide baru. Kerja kolektif jauh lebih rumit dari sekadar memperdagangkan posisi politik bagus, lalu pindah-pindah partai. Makanya, saya jauh lebih mengapresiasi kehadiran Partai Nasdem ketimbang melihat politikus yang terus melakukan akrobat ketika berada dalam posisi sebagai pejabat negara. Walaupun memang pergulatan menjadi politikus terasa jauh lebih keras disbanding kalangan yang lain, katakanlah kaum profesional di sebuah perusahaan lokal yang dibajak perusahaan multinasional, tetap saja ada nilai-nilai yang dijaga oleh politikus ketimbang sekadar karier dalam jabatan-jabatan publik.

Justru seorang politikus yang sedang menduduki posisi sebagai pejabat public haruslah terkesan “melepaskan diri”dari partai politik tertentu. Seorang menteri yang saya temui mengatakan: “Jangankan mengurus partai, mengurus pekerjaan sebagai menteri saja waktu saya tidak cukup.”Saya bertemu dengannya di meja kerjanya pada pukul 21.00 lewat. Sambil berbicara, menteri ini sibuk menandatangani sejumlah berkas yang disodorkan sekretarisnya. Dia sama sekali tidak memandang mata saya, sebagaimana dulu sebelum dia menjadi menteri.

Maka, saya menemukan sebuah kesimpulan. Pejabat publik jauh lebih ditakuti ketika tidak  menyandarkan diri kepada partai politik tertentu. Sekalipun memiliki preferensi politik, sebagaimana manusia dewasa umumnya, jauh lebih baik bila sang pejabat publik itu tidak secara terbuka memilih berada di partai politik tertentu. Jadi, alangkah janggalnya bila yang terjadi adalah berpindah partai politik ketika sedang menjabat. Sang pejabat publik itu tidak hanya telah menghilangkan jasa partai yang mengusungnya atau parpol semula, tetapi juga menghancurkan sistem kaderisasi di partai baru yang ia masuki.

Sejumlah pemikiran untuk menghambat kader lompat katak ini dengan mengubah undang-undang juga tidak perlu. Manusia sulit dicarikan pagar, apalagi politikus. Justru akan semakin mengerdilkan posisi politikus apabila persoalan berpindah partai ini saja dibuatkan regulasinya. Dalam proses pendewasaan berpolitik dan berdemokrasi, jauh lebih baik apabila politikusnya sendiri yang membatasi diri dan mengukur sejauh mana area yang hendak dijelajahi.

Dunia politik adalah lautan dalam, jarang yang bisa tetap berada di atas samudra, malah kebanyakan tenggelam.

Senin, 25 April 2011

KORUPSI DAN KELEDAI SUFI



Apa relevansi antara korupsi, keledai, dan kaum sufi? Belum lama ini, situs Kompas.com edisi 7 April 2011 menurunkan tulisan berjudul ”Revisi RUU Tipikor Diotaki 'Keledai'”.
Diberitakan, Amien Sunaryadi, mantan komisioner KPK, menyebut RUU Tipikor yang menimbulkan kontroversi di masyarakat saat ini sebagai draf yang, pertama, sangat mungkin ditunggangi pihak-pihak tertentu yang berkepentingan, dan, kedua, diotaki oleh ”keledai”.
Untuk kemungkinan yang pertama tidak ada yang istimewa dari pernyataan Amien. Sejarah di Indonesia memang secara pekat menunjukkan, modus paling sering dilakukan jaringan mafia pro-korupsi melemahkan orientasi pemberantasan korupsi adalah dengan membuat draf revisi berbagai aturan korupsi, yang materinya diarahkan untuk menelikung arah pemberantasan korupsi dari rel progresif ke jalur konservatif. Setidaknya hal itu pernah teridentifikasi pada revisi UU Tipikor terdahulu. Juga terbaca ketika muncul wacana revisi UU KPK, serta pada saat inisiasi UU Pengadilan Tipikor.
Kacamata kuda
Memori kolektif publik masih kuat mengingat, selain terhadap UU Tipikor, pernah ada momen ketika tiba-tiba saja muncul wacana merevisi UU KPK, yang ujung-ujungnya mengarah pada skenario pelucutan berbagai kewenangan ekstra KPK. Targetnya jelas, KPK digiring menjadi ”lembaga macan ompong” yang tak akan bisa lagi berperan secara signifikan dalam kerja-kerja penegakan hukum korupsi.
Pada momen lain, publik juga masih ingat bagaimana kelompok kepentingan tertentu tersebut ”meraih sukses” dalam memengaruhi materi UU Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tipikor. Pasal 26 Ayat (3) UU Pengadilan Tipikor, terkait otoritas ketua pengadilan menentukan komposisi hakim karier dan hakim ad hoc dalam persidangan, sering disebut oleh aktivis anti-korupsi sebagai loophole yang berpotensi membuat pengadilan terhadap para koruptor akan berakhir antiklimaks. Kepentingan pro-korupsi rupanya tak pernah berhenti bergerilya menyurutkan upaya pemberantasan korupsi dengan penetrasi langsung kepada substansi berbagai hukum materiil dan hukum formil bidang korupsi.
Hal paling unik dari pernyataan Amien Sunaryadi justru terletak dalam analisisnya yang kedua, ketika ia menyebut otak (mastermind) dari draf UU Tipikor berkapasitas intelektual selevel ”keledai”. Bukan saja metodologinya tidak jelas, Amien juga menduga bahwa penyusunnya adalah ahli hukum yang hanya melihat persoalan korupsi tanpa memerhatikan praktik di lapangan. Sayangnya, Amien tidak menginformasikan lebih lanjut, siapa gerangan ahli hukum yang terlibat dalam pembuatan RUU dengan ”pendekatan kacamata kuda” tersebut.
Penggunaan istilah ”diotaki keledai” terhadap penyusun RUU Tipikor tentu maknanya sangat mudah dipahami publik yang sudah mafhum terhadap konotasi negatif ungkapan tersebut. Skandal otak ”keledai” dalam draf RUU Tipikor tidak saja merujuk pada sebuah ketololan, tapi juga disorientasi perancangnya dalam mengarahkan proyeksi pemberantasan korupsi ke depan. Maka, wajar jika kemudian ada yang bertanya secara retoris: dengan RUU yang diotaki ”keledai”, hendak dibawa ke mana sebenarnya muara pemberantasan korupsi di negeri yang masih akut dicengkeram praktik koruptif ini?
Namun, yang tetap tak bisa diduga, sebagaimana berbagai fakta sejarah gerakan korupsi di Indonesia, walaupun otak sekelas ”keledai” yang merancang RUU Tipikor, bukan berarti tidak perlu diwaspadai potensi perealisasiannya menjadi UU. Bukankah sering publik disuguhi tontonan semacam ini. Setelah muncul draf UU yang secara substansi terlihat tolol, kemudian berlanjut dengan berbagai ketololan dalam proses legislasi, akhirnya tetap saja berujung pada lahirnya perubahan UU yang dibangun dari asumsi-asumsi yang sarat dengan berbagai ketololan.
Kisah ”sang keledai”
Dalam konteks inilah kemudian menjadi relevan untuk menyimak sebuah kisah dalam dunia sufi, yaitu cerita mengenai Timur Lenk: keledai dan seorang sufi bernama Nasruddin Hoja.
Alkisah, pada suatu masa, Timur Lenk menghadiahkan seekor keledai kepada Nasruddin Hoja. Pemberian itu disertai permintaan aneh supaya sang sufi mengajari sang keledai membaca. Dua minggu setelah waktu pemberian, Nasruddin diminta mendemonstrasikan kemampuan membaca si keledai.
Nasruddin Hoja tidak menampik permintaan aneh itu, dan membuktikannya dengan membawa keledai tersebut ke hadapan Timur Lenk dua minggu setelahnya. Di depan Timur Lenk, pada saat disodori sebuah buku, keledai tersebut mulai membalik-balik halaman buku dengan lidahnya. Lembar demi lembar halaman buku dihabisinya. Setelah itu Nasruddin berkata, ”Keledaiku sudah bisa membaca.”
Karena penasaran, Timur Lenk bertanya, ”Bagaimana caramu mengajarinya membaca?” Nasruddin bertutur, ”Di rumah aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membuka-buka halaman untuk menikmati biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih melakukan itu semua.”
Mendengar penjelasan Nasruddin Hoja, Timur Lenk memprotes: ”Bukankah keledai itu binatang bodoh yang tidak mengerti apa yang dibacanya?” Dengan dingin, Nasruddin menanggapinya, ”Memang demikianlah cara keledai membaca, hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan?”
Draf RUU Tipikor memang dirancang oleh ahli hukum yang berotak ”keledai”, dan karenanya kerancuan substansinya meng- undang reaksi dari publik. Namun, yang mengejutkan, draf tersebut ternyata adalah RUU versi pemerintah. Lantaran mendapat reaksi luar biasa dari publik, proses pengusulannya pun akhirnya dicabut. Ini menunjukkan satu hal: walaupun secara substansi draf tersebut diotaki ”keledai”, tetapi dalam tipu muslihat proses legislasinya bisa jadi diskenariokan dengan canggih. Buktinya, draf itu sempat ”dinobatkan” sebagai RUU Tipikor versi pemerintah.
Maka, pelajaran moralnya jelas: selain memastikan sikap penolakan yang tegas terhadap draf RUU Tipikor produk otak ”keledai”, publik tetap perlu waspada. Walaupun sudah dicabut, bukan berarti itu akhir dari segalanya. Bisa jadi setelah RUU Tipikor, berikutnya yang akan disisir adalah UU KPK dan UU Pengadilan Tipikor.
Kiranya, ”sindiran” Nasruddin Hoja terasa relevan untuk direnungkan: sekali sebuah ketololan dibiarkan, maka ia akan menjadi rangkaian ketololan yang pada akhirnya akan menggiring kita semua berada pada situasi buruk yang merugikan.
Hasrul Halili Dosen Fakultas Hukum UGM
Sumber : Kompas, 25 April 2011

CITARUM TERCEMAR DARI HULU



Bandung, Kompas - Sungai Citarum, sumber air minum bagi 25 juta warga Jawa Barat dan DKI Jakarta serta pemasok tenaga listrik bagi Pulau Jawa dan Bali, kini tercemar logam berat. Pencemaran disertai pelumpuran dan pendangkalan yang hebat terus berlangsung tanpa ada penanganan serius.
Akibatnya, hampir semua fungsi sungai yang sangat strategis bagi kepentingan nasional itu rusak berat. Percemaran dan sedimentasi terjadi mulai dari hulu sungai di Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang, Bandung selatan, dan mengalir sepanjang 269 kilometer hingga muara sungai di Pantai Muara Merdeka, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jabar.
Sebelum mengalir ke Laut Jawa, sungai terbesar dan terpanjang di Jabar ini digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Waduk Saguling (kapasitas 700-1.400 megawatt), WadukWaduk Cirata (1.008 MW), dan Waduk Jatiluhur (187 MW). Ketiga PLTA itu memasok listrik untuk jaringan interkoneksi Pulau Jawa-Bali yang dihuni hampir separuh dari penduduk negeri ini.
Air Citarum yang tercemar juga digunakan untuk perikanan dan irigasi di 420.000 hektar lahan pertanian di Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, Purwakarta, serta lumbung padi nasional di Kabupaten Karawang, Subang, dan Indramayu.
Tingkat kerusakan
Ekspedisi Sungai Citarum 2011 yang dilakukan Kompas dengan menyusuri sungai dari Situ Cisanti hingga Muara Gembong, pekan lalu, mencatat, perusakan sungai berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan dibiarkan begitu saja melintasi alur sungai. Secara kasatmata, hanya 700 meter dari Situ Cisanti, air Citarum dijadikan tempat pembuangan limbah kotoran sapi.
Padahal, air yang keluar dari tujuh mata air di hulu itu sangat bening. Setelah itu, aliran sungai ini melewati perkampungan padat Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, yang sebagian besar penduduknya merupakan petani sayur dan peternak sapi perah. ”Semua peternak sapi perah di desa ini membuang kotoran sapinya langsung ke sungai,” ujar Agus Darajat, tokoh masyarakat yang juga Ketua Kertasari Bersatu.
Hasil pemantauan kualitas air Perum Jasa Tirta II menyebutkan, air dari Outlet Cisanti sudah mengandung HS (hidrogen sulfida) dan chemical oxygen demand (COD) melebihi ambang baku mutu.
Alih fungsi lahan
Tokoh masyarakat hulu Citarum, Dede Jauhari, menilai kerusakan itu akibat alih fungsi lahan dari seharusnya kawasan hutan konservasi daerah penangkap air menjadi daerah pertanian semusim. Hampir semua pertanian sayur (wortel, kol, kentang, dan daun bawang) di hulu Citarum menggunakan pestisida dan pupuk kimia.
Di sentra industri tekstil Kecamatan Majalaya, 20 km dari Kertasari, limbah industri berwarna pekat dengan bau menyengat serta temperatur dan keasaman tinggi langsung dibuang ke Citarum. Di Kecamatan Dayeuhkolot hingga Soreang, 40-60 km dari hulu, selain limbah industri, sampah domestik yang dibuang dari permukiman padat ke sungai juga memperparah pencemaran. Sampah dari Kota Bandung yang terbawa anak sungai pun turut menjadi bagian dari pencemaran Sungai Citarum.
Di Cekungan Bandung ini, sejumlah anak sungai bermuara ke Citarum, yakni Sungai Cikijing, Citarik, Cikeruh, Cidurian, Cikapundung, Cisangkuy, Citepus, dan Cibeureum, yang dijadikan tempat pembuangan limbah dan sampah oleh semua pihak. Berdasarkan hasil evaluasi pemantauan kualitas air oleh Perum Jasa Tirta II, zat kimia Zn (seng), Fe (logam), NH-N, NO-N (nitrogen), HS, Mn (mangan), biochemical oxygen demand (BOD), COD, dan oksigen terlarut melebihi baku mutu air.
”Sampah dari rumah tangga lebih mudah terurai bila dibandingkan dengan limbah industri yang membahayakan,” ujar Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jabar Iwan Setiawan Wangsaatmadja. Pencemaran dan sedimentasi terus berlangsung ke tengah, sekitar Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur, hingga ke muara di Laut Jawa.
General Manager Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit Saguling Erry Wibowo membenarkan, air Citarum yang masuk ke Waduk Saguling sudah tercemar bahan kimia, terutama HS. Pencemaran berlangsung sejak waduk dioperasikan pada 1985 tanpa ada upaya pengendalian. ”Kami khawatir kasus minamata terjadi di Citarum karena hingga kini belum ada pengendalilan,” ujar Erry.
Hasil penelitian Pusat Lembaga Sumber Daya Alam Lingkungan Universitas Padjadjaran Bandung, Indonesia Power, Pembangkit Jawa-Bali, dan Perum Jasa Tirta menunjukkan, air di ketiga waduk itu tak layak untuk air baku minum, budidaya perikanan, dan peternakan.
Air minum Jakarta
Dari Waduk Jatiluhur, air mengalir ke hilir melalui Bendung Curug yang membagi air ke irigasi Tarum Barat dan Tarum Timur. Tarum Barat mengalirkan air untuk bahan baku air minum 10 juta warga DKI Jakarta. Sebanyak 8.500 liter per detik air baku dikelola PT Aetra Air Jakarta dan 6.000 liter per detik air baku diolah PT Palyja.
Di kawasan Muara Gembong, air Citarum berwarna coklat muda langsung masuk ke Laut Jawa. Menurut laporan Perum Jasa Tirta II, Desember 2010, air Citarum di Muara Gembong mengandung Fe, NO-N, dan HS lebih dari baku mutu. ”Tahun 2009 pernah semua ikan mati dan mengambang di Sungai citarum,” ungkap Suryana (35), Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengaku, di balik perannya yang strategis, Citarum juga sering memicu banjir. Luas Daerah Aliran Sungai Citarum tercatat 6.614 km persegi dan dihuni 15,3 juta penduduk.
Yang mengherankan, belum ada instansi yang menangani perusakan dan pencemaran Citarum. ”Selama Citarum masih berair, walaupun tercemar hebat, itu dianggap biasa,” ujar Guru Besar Lingkungan Institut Teknologi Bandung Mubiar Purwasasmita.
(REK/CHE/ELD/MKN/HEI/DMU/GRE/JAN)
Sumber : Kompas, 25 April 2011

Jumat, 08 April 2011

Masyarakat Mahasiswa Universitas Trisakti

Masyarakat Mahasiswa Universitas Trisakti baru saja selesai menyelenggarakan Pemilihan Umum Raya Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti Periode ke-10. Dan yang dipercaya pada tahun ini adalah Sutan Nalendro (Oil'07) dan Usamah Abdul Aziz (TI'07). Sedangkan untuk Ketua Kongres MM-Usakti dipercaya kepada Hilda Mahening (Lansekap'07).

Ditengah berbagai permasalahan yang dialami kampus tercinta kita, kader-kader baru ini menawarkan berbagai konsep dan solusi untuk kemajuan dunia mahasiswa dan dunia kampus kita. Saya sebagai bagian dari MM-Usakti berharap agar kita semua dapat ikut memperhatikan kondisi kampus kita yang hari ini "Babak Belur" karna permasalahan yang menimpanya.

Konflik Yayasan vs Rektorat yang belum kunjung usai dari tahun 2001 kini memasuki babak baru, dengan keputusan Mahkamah Agung yang memenangkan pihak Yayasan, membuat stabilitas di kampus sedikit banyak menjadi terganggu, belum lagi ditambah turunnya jumlah mahasiswa baru yang masuk di kampus Univ Trisakti, membuat kita harus mengatur strategi baru agar Almamater kita tidak tenggelam ditengah kerasnya persaingan dunia pendidikan dewasa ini. Semoga fungsionaris Ormawa yang ada dapat terus menjaga independensi dan kemurnian perjuangan mahasiswa dalam melihat permasalahan ini.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat kepada adik-adik mahasiswa yang akan bertugas meneruskan amanah Masyarakat Mahasiswa Universitas Trisakti yang dideklarasikan tahun 1999 di Kampus B Universitas Trisakti. Semoga apa yang mereka niatkan dan canangkan dapat menjawab tantangan atas berbagai permasalahan yang ada.

Salam Hormat,
Atma Winata Nawawi
Presiden Mahasiswa MM-Usakti Periode ke-8

Selasa, 22 Maret 2011

RUMAH YANG BERNAMA NEGARA INDONESIA



Negara dan Bangsa Indonesia dibentuk untuk rumah bersama, bukan untuk satu agama, satu suku atau satu kekuatan politik. Rumah Indonesia adalah Rumah yang menaungi semua keyakinan, semua pemikiran dan Negara Indonesia adalah pemerintahan yang ditujukan untuk memakmurkan rakyat bukan dijadikan sebagai alat penindasan. (Sebuah Catatan Harian, 2011)

Ketika saya masih duduk dibanku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ada buku yang selalu saya baca dan sangat menarik walaupun bahasanya kering dan terjemahannya sedikit berantakan. “Negara Modern” karya Mc Iver. Dalam buku ini setidaknya saya belajar bagaimana organ sosial yang bernama negara berkecambah dalam ruang pikiran masyarakat dan melahirkan susunan-susunannya yang landasan dari susunannya adalah kekuasaan. Ada satu tulisan dari ahli filsafat berumur panjang Bertrand Russel, yang bercerita tentang disiplin Sparta dimana kemudian menjadi sebuah model negara dengan dasar-dasar kesederhanaan, patriotis, disiplin dan sama rasa sama rata untuk semua anggota warga negara. Nama negara ini kemudian dikenal sebagai model ‘Spartacus’ dan berabad-abad kemudian di jalan-jalan Bavaria, Jerman Selatan pada permulaan abad 20 muncul sebuah gerakan Spartacus yang beraliran kiri bertarung dengan anak-anak fasis didikan Hitler yang banyak ngumpul di sekitar kedai bir. Gerakan Spartacus ini kemudian luruh bagai musim gugur menyusul ditemukannya mayat Rosa Luxemburg mengambang pada sebuah kali dan kaum komunis hilang sama sekali diberangus Hitler gara-gara eks komunis Belanda Marinus Van Der Lubbe ketiban sial nonton gedung parlemen yang dibakar dan digelandang oleh polisi kemudian dituduh sebagai dalam pembakaran gedung Parlemen yang kemudian memancing Hitler berteriak untuk membunuhi semua pengurus partai komunis Jerman, di titik inilah eksperimen gerakan Komunisme gagal justru di tanah kelahiran Karl Marx. Negara tidak selamanya lahir dalam ketertiban, namun negara selalu memimpikan ketertiban dan bahkan ketertiban masyarakat adalah sebuah cita-cita paling besar dari berdirinya sebuah negara. Tapi betapa beruntungnya negara yang sudah memiliki pemimpin dengan daya jangkau ke depan dan tahu kemana arah negaranya berkembang.

Apa yang dipikirkan oleh Jefferson ketika ia dengan wajah gembira pulang ke Monticello dengan menunggang kuda ditengah hujan salju? Ia berhenti menjadi Presiden!, ia tahu kekuasaan adalah sebuah pekerjaan yang harus diselesaikan bukannya wahyu keprabon yang menunggu gerak lengsernya. Jefferson menolak untuk melanjutkan jabatan Presiden, begitu juga Washington yang tidak mau menjadi Raja Amerika Serikat, sampai-sampai Raja Inggris melonjak dari tempat duduknya dan bertanya “Jenis orang seperti apa Washington itu?, ia menolak menjadi Raja dari sebuah negara yang didirikannya dengan keberanian dan pertaruhan besar”. Mungkin Jefferson dan Washington tahu bahwa pemimpin tidak boleh merubah pribadinya menjadi negara, dan negara bukanlah sebagai mesin kekuasaan tetapi hanyalah pusat dari segala keteraturan dan melindungi kepentingan warga negaranya dengan kata lain, Negara bukanlah kumpulan nafsu-nafsu pemimpinnya. Jefferson hanyalah anak muda yang pandai menulis saat Deklarasi Kemerdekaan dibicarakan di Philadelphia, pikiran-pikirannya seperti Liberty Bell yang retak namun bergema. Ia juga bukan seorang lelaki yang bersih dari gosip, ia menyukai perempuan yang sudah bersuami dan menuliskan segudang rayuan pada perempuan itu. Namun toh sejarah harus mengakui dialah manusia yang mampu menciptakan sebuah eksperimen negara paling berhasil di dunia. Amerika Serikat.

Di malam-malam yang panas di sudut gang Peneleh, Surabaya. Di rumah milik Raja Jawa Tanpa Mahkota, Tjokroaminoto. Ada anak muda yang bermimpi menjadi Jefferson, ada anak muda yang mengagung-agungkan Jefferson. Kelak anak muda inilah yang kemudian di tahun 1945 berpidato di depan sebuah panitia persiapan membentuk negara baru bernama Indonesia dan sejarah mengantarkan pada kita nama anak muda itu adalah Sukarno. Namun Sukarno tahu Indonesia bukanlah tanah Amerika, tanah yang dicari untuk mencari kebebasan, tanah yang di rujuk agar penafsiran menyembah Tuhan bisa dengan bebas tanpa paksaan. Dan di tanah Amerika pula-lah Mayflower mengembangkan layarnya. Indonesia lebih dari Amerika, disinilah surganya agama-agama dunia berkecambah. Indonesia adalah pelataran terindah warisan spiritual Arab, India dan Cina. Di Indonesia pula menara intelektualitas bergaya barat mendapat bangunan suar-nya. Maka Sukarno paham, bahwa di Indonesia bukanlah tanah yang sekedar baru memahami agama, baru memahami Tuhan. Namun Indonesia adalah sesungguhnya negara tua yang jauh berpengalaman dalam dimensi spiritualitasnya. Maka ia menempatkan sebuah idee Negara Baru itu berdasarkan Restu Tuhan. Tuhan-lah alasan utama negara Indonesia lahir ke muka bumi dan menjaga ketertibannya. Kata Sukarno dalam pidatonya yang menggetarkan di muka sebuah panitia yang berniat membikin negara baru “Prinsip Ketuhanan, bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut Isa Al Masih, yang Islam menurut petunjuk Nabi Muhammad saw, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah semuanya kita berTuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan........dengan cara yang berkeadaban.....ialah hormat menghormati satu sama lain....ingatlah prinsip ketiga, permusyawaratan perwakilan, disitulah tempatnya kita mempropagandakan idee kita masing-masing dengan cara toleran, dengan cara berkebudayaan!”

Sukarno yang pada akhirnya memilih tidak menjadi Jefferson, tapi ia menuruti nalurinya menjadi Raja Jawa sesungguhnya. Dan Sultan Agung menjadi pilihannya. Menjadi idola bawah sadarnya, yang seperti Onghokham bilang “Sukarno adalah Raja Jawa, kata-katanya sabda dan mitosnya adalah simbol-simbol revolusi” ya...Sukarno menjadi mesin idee untuk sebuah perubahan maka ia menggelar teater besar dalam tanah Indonesia dan ia menjadi sutradaranya seperti saat ia memimpin toneel Kelimutu di tanah Flores. Akhirnya Sukarno tidak memilih menjadi Jefferson.

Antara Jefferson dan Sultan Agung sesungguhnya hanya dipisahkan serat tipis perbedaan. Serat tipis itu adalah kediktatoran dan persamaan terbesar mereka adalah melindungi. Jefferson menciptakan eksperimen negara yang melindungi kebebasan sementara Sultan Agung menciptakan kekuasaan yang melindungi semua unsur masyarakatnya. Dari sinilah makna negara kemudian terbentuk. Sultan Agung adalah pangkal contoh Raja Jawa sesungguhnya, ia tidak memilih jalan Pangeran Jimbun alias Raden Patah yang ikut dalam gerakan pembantaian Sjekh Siti Djenar. Sekaligus menunjukkan pada sejarah bahwa kekuasaan Raden Patah adalah kekuasaan yang terdikte. Sultan Agung tidak mau didikte, oleh apapun atas nama apapun. Maka ia serang Giri Prapen dimana ceritanya melahirkan serat Centhini. Ia serang Tembayat dan seraya berkata, tidak ada apapun yang menguasai aku atas nama apapun termasuk penafsiran agama atau monopoli kebenaran. Ya Sultan Agung harus berdiri diatas segala, bukan didikte oleh sekelompok kekuatan. Karena ia adalah negara. Dan ia harus melindungi, bukan mengusir dari rumah keyakinannya.


Namun toh, sejarah hari ini tidak melahirkan seorang pemimpin yang bisa berdiri diatas segala, sejarah bangsa kita tidak memberikan negara sebagai pengayom, justru menjadi pengancam. Ahmadiyah, Salamullah, PKI, PSI, Masjumi, Tempo, atau Dewi Perssik menjadi contoh bagaimana kekuatan negara mengancam eksistensi sebuah idee, sebuah wacana bahkan hanya sekedar goyangan pantat. Negara sekali lagi dikembangkan menjadi gurita kekuasaan, bukan wasit yang adil. Untuk itulah kenapa Kekuasaan menjadi begitu memuakkan.

Syahdan, di suatu tempat di abad-abad silam. Nabi Muhammad saw, seorang pemberani yang mencetuskan sebuah cahaya baru, yang melahirkan peradaban baru ditanya seseorang setelah ia berhasil menaklukkan Mekkah. “Ya...Nabi maukah kamu menjadi seorang Raja, menjadi seorang Kaisar?” Sang Nabi hanya tersenyum dan menggeleng kepala. Ia menolak, ia tidak mau dirinya menjadi sebuah pusat kekuasaan yang pada akhirnya rentan diselewengkan. Dan Nabi tetap memilih memeras susu kambing, menjahit pakaian yang robek atau bermain kuda-kudaan dengan cucunya. Ia menolak negara, ia menolak kekuasaan karena mungkin ia tahu, betapa negara bisa menjadi palu godam yang menyakitkan. Dan tragisnya cucunya Hussein sendiri merasakan bagaimana kekuasaan menjadi sedemikian kejam.

.........Dan Nabi-pun menolak kekuasaan.

Dikutip dari Catatan Harian Seorang Sahabat.

Rabu, 16 Maret 2011


WIKILEAKS sedang jadi perbincangan hangat. Situs yang mendedikasikan dirinya sebagai “ember” itu, lagi-lagi, merilis sejumlah dokumen rahasia. Kali ini, wikileaks.org mempublikasikan dokumen-dokumen kawat diplomatik yang bersumber dari 274 kedutaan besar Amerika Serikat di berbagai belahan dunia, termasuk dari Departemen Luar Negeri AS. Jumlah dokumennya ada 251,287 buah dan, hingga hari ini, yang dirilis belum sampai 300 dokumen.Dalam pernyataannya di situsnya, Wikileaks mengaku sengaja mencicil publikasi dokumen itu, agar masing-masing tema mendapat perhatian publik yang memadai. Bila dilepas sekaligus, rahasia negara yang penting bisa terlewatkan dari perhatian.

Sejak Wikileaks merilis kawat-kawat rahasia itu, media sedunia berpesta pora memberitakannya. Berita-berita seksi bertaburan. Misalnya soal Belanda yang menyimpan nuklir titipan Amerika Serikat; Raja Arab Saudi meminta AS menyerang Iran; pendapat dan prediksi negarawan senior Singapura Lee Kwan Yew tentang Korea dan masa depannya; dan lain-lain. Tak kurang Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton kebakaran jenggot (meski tentu ia tak berjenggot), dan mengecam pembocoran dokumen-dokumen itu.

Julian Assange, pendiri Wikileaks, juga mulai diincar. Sebelum ini, dia pernah dicoba dijerat dengan tuduhan asusila. Itu tak membuat Wikileaks goyah. Yang membuat situs itu goyah justru adalah serangan maya ke server mereka. “Serangan DDOS kini melebihi 10 gigabit per detik,” demikian pernyataan Wikileaks di Twitter, Selasa (30/11) malam waktu Jakarta.

Serangan DDOS (distributed denial of service) adalah ketika server Wikileaks dibanjiri trafik dari berbagai arah, yang bertujuan menghabiskan sumber daya server sehingga situs Wikileaks tak bisa diakses. Siapa pelakunya, wah, tak jelas. 

Nah, lalu apakah ada dokumen rahasia terkait Indonesia yang dirilis Wikileaks? Jawabannya: ada. Kawat diplomatik yang berasal dari Kedutaan Besar AS di Jakarta jumlahnya total ada 3059 buah. Dokumen aman alias tak rahasia jumlahnya ada 1510 buah. Sisanya adalah dokumen rahasia, dengan kategori “confidential” 1451 buah, dan kategori “secret” ada 98 buah. 

Sejauh ini, dokumen yang menyebut Indonesia barulah yang “menyerempet” saja. Salah satunya adalah dokumen tentang seorang direktur di Departemen Pertahanan AS yang bertemu dengan asisten Menteri Luar Negeri AS, membicarakan situasi pascakunjungan Hillary Clinton ke Jakarta, 2009 lalu. Clinton sempat mengatakan AS mempertimbangkan menyediakan “payung pertahanan” bagi negara-negara Arab moderat untuk menghadapi nuklir Iran.

Dalam dokumen yang berasal dari Kedutaan Besar AS di Tel Aviv itu, berklasifikasi “secret”, bertanggal 30 Juli 2009, pejabat Dephan AS agaknya sedikit mempermasalahkan pernyataan Hillary Clinton di Jakarta itu. Asisten Clinton lalu meluruskan, bahwa pernyataan bosnya bukan mengindikasikan perubahan kebijakan soal menghadapi Iran. Asisten itu juga menyalahkan para jurnalis peliput yang dianggap melebih-lebihkan pernyataan Clinton.

Sejumlah data rahasia negera-negara hasil dokumentasi Amerika Serikat telah tersebar di dunia maya. WikiLeaks adalah sang penyebar informasi tersebut. Berikut ini adalah rincian jumlah dokumen yang dipastikan sudah menjadi informasi publik.Ada 3.059 dokumen penting rahasia Amerika tentang Indonesia yang disusun Kedubes AS di Jakarta [baca: Ribuan Dokumen AS Tentang Indonesia Dibocorkan WikiLeaks]. Di antaranya ada laporan Congressional Research Service; Report RS21874 tentang hasil Pemilu 2004 Indonesia.

Menurut informasi yang tersebar di laman milist Rabu (1/12) ini, dokumen sangat rahasia milik AS yang berkaitan dengan Prancis mencapai 1.582 banyaknya. Di antaranya mencakup soal Presiden Nicolas Sarkozy, sebanyak 256 dokumen rahasia, dan dokumen resmi biasa mencapai 1.937. Soal Spanyol, WikiLeaks membeberkan 898 dokumen sangat rahasia versi Amerika. Angka itu masih ditambah 103 dokumen rahasia, dan 2.619 dokumen biasa.

Data dan informasi negara Turki menjadi yang terbanyak kedua dibocorkan, setelah Irak. Jumlahnya mencapai 3.298 dokumen sangat rahasia–termasuk mengenai Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan–577 dokumen rahasia, dan 4.043 dokumen resmi biasa.

Sementara soal Irak, dokumen amat rahasia yang dibocorkan mencapai sebanyak 4.127. Tambahannya, ada 1.158 dokumen berkategori rahasia dan 1.392 lainnya untuk dokumen berskala biasa. Periode informasi itu meliputi aktivitas sejak 2002 hingga 2004, soal Yordania dan Kuwait.

Secara keseluruhan, tepatnya ada 97.080 dokumen tergolong sangat rahasia yang tersebar luas oleh WikiLeaks. Jumlah tadi bertambah lagi dengan 75.792 dokumen biasa, 58.095 dokumen hanya untuk internal, 11.322 dokumen rahasia, 4.678 dokumen sangat rahasia yang tak boleh diakses non-AS (Noforn), dan 4.330 dokumen rahasia lainnya.

Merujuk rincian jenis, 145.222 dari data tadi berkaitan dengan hubungan politik eksternal, 122.954 soal internal pemerintah, 49.016 tentang ekonomi, 28.760 mengenai teroris dan terorisme, 23.857 tentang perdagangan luar negeri, dan 23.054 dokumen tentang intelijen.

Apa Itu Wikileaks?
 
WikiLeaks adalah sebuah situs yang khusus memposting dokumen-dokumen rahasia. Situs ini tidak menerima kontribusi dana dari pemerintah manapun, guna manjaga integritasnya. Bermarkas di Swedia dan didirikan pada tahun 2006. “WikiLeaks adalah organisasi nirlaba yang didanai juru kampanye hak asasi manusia, wartawan investigasi, teknologi dan masyarakat umum,” kata WikiLeaks. Wikileaks dioperasikan oleh sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Sunshine Press dan juga mengklaim bahwa mereka didanai oleh aktivis-aktivis HAM, jurnalis-jurnalis investigatif, ahli-ahli teknologi, dan masyarakat umum. Semenjak kemunculannya, Wikileaks telah menghadapi sejumlah tuntutan hukum yang mencoba membuatnya offline (membredel situs itu).

Assange mengatakan Wikileaks menerima bahan-bahan rahasia, yang disensor, atau yang bukan untuk khlayak umum yang bermuatan politik, diplomatik, maupun etik. Sedang yang berupa kabar burung, pendapat, maupun hasil reportase yang sudah diketahui umum tidak akan diterbitkan oleh Wikileaks. "Kami menspesialisasikan untuk memungkinkan bahan-bahan dari pembocor informasi maupun dari wartawan yang disensor bisa diketahui khalayak umum," kata Assange kepada BBC.

Itulah sebabnya Wikileaks cepat menyedot perhatian. Dua tahun setelah mengudara situs ini langsung mendapat penghargaan New Media Award dari majalah Economist pada 2008. Setahun kemudian, laporan berjudul Kenya: The Cry of Blood – Extra Judicial Killings and Disappearances yang dirilis pada 2008, membuat WikiLeaks dan Assange memenangkan UK Media Award dari Amnesty International.

Pada tahun 2008, seorang bankir asal Swiss Julius Baer memenangkan sebuah gugatan untuk memblok situs itu, setelah Wikileaks merilis beberapa ratus dokumen mengenai aktivitas banknya di luar negeri. Meski begitu, sejumlah situs bayangan- -yang dioperasikan dari berbagai server di seluruh dunia masih terus beroperasi. Sepanjang hidupnya Wikileaks mengklaim telah berjuang melawan lebih dari 100 tuntutan hukum akibat materi-materi yang mereka rilis di dunia maya.

Situs ini benar-benar mengguncang dunia pada 2010 ini. Dimulai dengan membocorkan 90 ribu catatan rahasia laporan intelijen Amerika Serikat tentang perang Afganistan. Kemudian disusul dengan penayangan sebuah video tentara Amerika yang terbang dengan helicopter Apache di atas Bagdad pada 12 Juli 2007.

Bukan hanya rahasia kisah perang dan darah saja yang bertaburan di situs Wikileaks, juga menceritakan soal perempuan dan narkoba yang melibatkan tokoh-tokoh penting. Cerita-cerita seperti ini muncul setelah mereka membongkar kawat diplomatik para diplomat Amerika di seluruh dunia. Misalnya dokumen Departemen Luar Negeri AS tentang Pemimpin Lybia, Muammar Gadhafi. Para diplomat di Tripoli melukiskan bagaimana Gaddhafi sangat bergantung kepada Galyna Kolotnytska. Bahkan disebutkan sang pemimpin tak dapat melakukan perjalanan tanpa si "pirang yang menggairahkan" itu. Selain itu, disebutkan juga bahwa Gaddafi yang takut tinggal di lantai atas bangunan bertingkat dan tak mau terbang di atas air.

Lain lagi cerita kawat diplomatik dari diplomat AS di Arab Saudi. Para pejabat Konsulat AS di Jeddah menggambarkan sebuah pesta Halloween bawah tanah yang digelar tahun lalu oleh seorang anggota keluarga kerajaan. Pangeran kaya dari keluarga besar Al-Thunayan disebutkan menggelar pesta dengan menghadirkan pelacur dalam jumlah berlimpah. Tentu ada alkohol juga. "Meski tidak menyaksikan langsung peristiwa tersebut, kokain dan hashishsh (ganja) digunakan secara umum dalam lingkungan sosial semacam itu."Begitu bunyi kawat yang diteken konsul AS di Jeddah, Martin Quinn, yang menambahkan, pesta bawah tanah sedang "berkembang dan berdenyut" di Arab Saudi. Sejumlah dokumen yang dibocorkan itu, ada juga diplomat Amerika yang membandingkan antara Presiden Iran Ahmadinejad dan Adolf Hitler. Adapun Presiden Perancis Nicolas Sarkozy diledek sebagai kaisar tanpa busana. Olok-olok untuk Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin adalah seekor anjing alpha. Sedangkan Presiden Afganistan Hamid Karzai dikatakan sebagai orang yang didorong oleh paranoia.

Kawat diplomatik yang sudah mulai dibocorkan Wikileaks itu baru segelintir. Situs ini memiliki 250 ribu dokumennya, termasuk di antaranya adalah 3000 lebih kawat diplomatic dari Kedubesnya yang ada di Indonesia. Hingga kini belum ada dokumen yang berasal dari Indonesia yang sudah dibocorkan.

Dengan “kemashyurannya” itu,  Wikileaks juga sempat mengalami permasalahan finansial. Pada Februari lalu, situs itu menunda aktivitasnya akibat kekurangan dana operasional. Donasi dari individu-individu dan sejumlah organisasi menyalamatkan situs ini.

Assange mengaku bahwa situs asuhannya itu sedang mengalami pertumbuhan hebat dan telah menerima jumlah materi yang luar biasa. “Jumlahnya melebihi kemampuan kami dalam mempublikasikannya ke publik,” ujar Assange singkat, Februari silam.

Sebagai dampaknya, situs itu harus berevolusi dan berharap dapat mendirikan sejumlah cabang-cabang independen di seluruh dunia. Fungsinya, sebagai penengah antara sumber-sumber berita dan pihak media massa. Sebuah fungsi yang menurut Assange merupakan fungsi terbaik yang mampu dijalankan oleh Wikileaks.

“Wikileaks menyediakan sebuah hubungan alamiah antara seorang jurnalis dan seorang sumber dengan kami bertindak sebagai di tengah melakukan fungsi terbaik yang dapat kami lakukan,” ujar Assange. Sejak pembocoran dokumen itulah masalah mulai mengganggu Wikileaks. Di antaranya adalah pemblokiran yang dilakukan sejumlah lembaga keuangan dunia, seperti Visa dan Mastercard, Paypal juga ikut memblokirnya. Bahkan, alamat WikiLeaks.Org dihapus permanen oleh penyedianya, EveryDNS.net. Assange dan timnya menyewa tiga domain baru di Eropa, yaitu WikiLeaks.de (Jerman), WikiLeaks.fi (Finlandia), dan WikiLeaks.nl (Belanda).

Wikileaks pun di “tendang” dari Amazon.com yang selama ini jadi tempat “nongkrong” DNS nya Wikileaks.org dikarenakan Wikileaks dianggap tidak mematuhi peraturan Amazon.com yaitu menyebarkan konten tapi Wikileaks tidak mempunyai hak atas konten tersebut. Setelah di “tendang” mereka pun berpindah ke server Perancis OVH, yakni provider internet terbesar di Perancis sekaligus terbesar ke dua di wilayah Eropa.

Tak hanya itu saja mereka pun mulai dijauhi oleh perusahaan-perusahaan yang tidak ingin dianggap mendukung Wikileaks, akan tetapi Wikileaks tidak sendirian mereka pun menggalang bantuan.  “WikiLeaks saat ini sedang dalam serangan besar. Untuk membuat mustahil usaha menghapus WikiLeaks sepenuhnya dari internet, kami butuh bantuan Anda, Jika Anda memiliki server berbasis unix yang hosting website di internet dan Anda ingin memberikan WikiLeaks sebagian dari sumber hosting Anda, maka Anda dapat membantu,” Kira-kira begitulah isi himbauan kepada masyarakat dunia maya untuk membantu mereka, dan usaha mereka tidak sia-sia 355 mirror telah siap untuk membentengi WikiLeaks.
 
Dikutip dari berbagai sumber.

Minggu, 20 Februari 2011

HARI RAYA KELAHIRAN KE-26

Tidak terasa, hari ini aku genap berusia 26 tahun, sebuah usia yang sudah tidak lagi bisa dianggap sebelah mata. Saat dimana aku mesti merefleksikan diriku untuk bertanya dengan jujur, apa yang sudah aku lakukan selama 26 tahun ini? Adakah itu manfaat atau mudharat?


Tentu aku menyadari, kalo dalam perjalanan aku tidak boleh terlalu sering melihat kebelakang, seperti mengendarai mobil atau motor, aku tidak boleh terlalu sering melihat kaca spion, karna hanya akan membuat perhatian kita terhadap perjalanan kedepan menjadi terganggu.

Satu hal yang bisa dicatat dalam perjalanan ke-26 ini, bahwa waktu tidak akan bisa kembali, aku sudah melalui banyak hal, sudah merasakan sanjungan, pujian, dihormati, dilayani, oleh banyak orang. Namun disaat yang lain aku pun juga sudah merasakan dihujat, difitnah, dizholimi, dan perlakuan tidak menyenangkan lainnya.

Namun kini, yang bisa aku lakukan hanya bersabar dan terus berusaha melakukan yang terbaik. Semoga Allah SWT selalu bersamaku dalam keadaan gelap dan terang.

Selamat ulang tahun Atma Winata Nawawi

Sabtu, 15 Januari 2011

KISAH KAIN BATIK DAN KAIN KAFAN

"Kisah Kain BATIK dan Kain KAFAN"
harap di baca karena disinih ada yg Lucu, Unik dan Pelajaran buat anda.. Mari kita simak..!!

Sebuah toko kain yg sangat terkenal mendapat pesanan kain BATIK dan kain KAFAN pada hari yg sama.
Kain BATIK telah di pesan oleh seorang Pejabat Negara dan kain KAFAN yg telah di pesan oleh keluarga seorang Alim Ulama yg soleh dan menjadi teladan untuk masyarakat.
Sebelum kain2 tersebut di bawa oleh pemesannya terjadilah percakapan antar kain KAFAN dan kain BATIK.......

BATIK: "Hey... Kain mayit. Selamat tinggal ya?! Sebentar lg kamu mau masuk ke kubur.ha....ha....ha..."

KAFAN: "Ya... Terimakasih saudaraku sudah memberikan selamat untukku."

BATIK: "Kasihan banget ya nasibmu, kain murahan, dipakein buat bangkai manusia pula. Aku dong nih kain mahal, ada coraknya, bisa di banggain sama yg make, apalagi jadi rebutan INDONESIA sama MALAYSIA, Ha...ha....ha...."

KAFAN: "Aku bangga ko biarpun jadi kain KAFAN..."

BATIK: "Apanya yg bisa di banggain??? Sebentar lagi kamu naik kendaraan menuju kubur yang gelap, sedangkan aku akan naik mobil mewah dan menuju hotel berbintang tempat resepsi pernikahan. Aku akan di lihat artis, pejabat2 tinggi dan orang2 yang hebat lainnya...."

KAFAN: "Tidak apa2 aku naik keranda. Aku bahagia karna dalam perjalanan ku orang2 akan melafalkan tasbih, tahmid, tahlil, takbir serta do'a yang akan membuat jenazah yang memakaiku nyaman dalam keranda. Aku juga akan bertemu malaikat penjaga kubur. Aku siap menjadi saksi saat manusia soleh yang mengenakanku di tanya oleh malaikat"

BATIK: "Ha...ha....kamu akan masuk tanah membungkusi bangkai manusia lalu di kerumuni cacing2...."

KAFAN: "Tidak apa2, aku merasa lebih beruntung dari kamu. Aku tidak akan merasakan sakitnya di jahit, tidak akan merasakan betapa tersiksanya di dalam mesin cuci di kucek2, di peres. Tidak sampai di situ penderitaan mu. Kamu akan di panggang di bawah terik matahari, setelah kering kamu akan di haluskan dengan setrika..."

BATIK: (masih ngeyel dan sombong) "Pepatah mengatakan bersakit2 dahulu bersenang2 kemudian. Setelah penderitaan yang kamu sebutkan tadi aku akan jadi busana yang bisa membuat orang terkagum-kagum. Sedangkan kamu akan ditelan BUMI bersama bangkai manusia. Selain itu aku tidak akan pernah masuk kubur. Soalnya belum dengar tuh orang mati pake BATIK..."

KAFAN: "Kamu lupa saudaraku??? Bahwa manusia cepat sekali bosan. Entah 2 Bulan, 6 Bulan atau 1 Tahun. Kamu akan di campakan oleh manusia. Setelah warnamu pudar atau jahitanmu sobek. Kamu hanya akan menjadi sampah yang berada di antara tumpukan sampah yang baunya busuk. Tidak jarang juga manusia menggunakan mu untuk membersihkan kotoran."

BATIK: "Arrrrrrggggghhhh...... Diam jangan bicara lagi!!!!!"

*Janganlah sombong dengan kecantikan fisik dan limpahan materi. Kita tidak berhak merendahkan orang lain. Bahwa Tuhan tidak hanya akan melihat manusia berdasarkan fisik dan kekayaan, tapi amal kebaikan dan manfaat kita untu orang lain. Dan jadilah manusia yang berguna untuk orang lain dan dalam hal kebaikan.

**Allah SWT. Berfirman dalam hadist qudsi: kesombongan adalah selendangKu dan keagungan adalah sarungKu berperilaku dngan salah satu dari keduanya, maka aku akan mencampakkannya ke neraka. (HR. Abu dawwud dari Abu Hurairah ra).

Rabu, 15 Desember 2010

AL HASIB; YANG MAHA PEMBUAT PERHITUNGAN



"Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya dan Dia Mahacepat perhitungan-Nya." (QS Ar-Ra’d: 41)
Apabila kita rajin mengamati benda-benda kosmos di angkasa, kita akan mendapati benda-benda itu bergerak stabil tanpa dipengaruhi faktor-faktor eksternal sejak jutaan tahun yang lampau. Tak bisa tidak, kita akan menyimpulkan bahwa ada sistem perhitungan yang amat komplek atasnya yang begitu alamiah. Perhitungan yang diperlukan untuk menjalankan kosmos besar itu tidak pernah bisa dijangkau oleh “rasio” manusia, siapa pun.
Lalu, siapakah yang menciptakan sistem yang begitu kompleks, rumit, dan perhitungan yang demikian akurat? Dia-lah Allah, yang menjadikan kriteria kosmis tetap untuk melindungi kelangsungan hidup manusia di muka bumi dengan cara yang sempurna, yang dengan itu manusia dapat melaksanakan tugasnya di muka bumi sebagai hamba sekaligus khalifah.
Coba renungkan betapa Allah (Al-Hasib) membuat keseimbangan kimiawi, fisiologis, dan astronomis yang ada di alam semesta secara mengagumkan sehingga tidak kita temukan kesalahan sekecil apa pun di dalamnya. Kesalahan perhitungan sekecil apa pun, bahkan sebesar rambut dibelah lima puluh (bukan sekadar dibelah tujuh), sekalipun pasti akan berakibat fatal. Di sini, tidak ada toleransi terhadap kesalahan sekecil apa pun.
“Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan dengan kadar (kalkulasi dan akurasi) yang ditentukan. Dan perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan bagaikan kejapan mata.” (QS Al-Qamar: 49 dan 50).
Luar biasa! Betapa akuratnya perhitungan Allah dalam penciptaan benda-benda angkasa sehingga keberadaannya dapat dihisab sekaligus dirukyat.
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang berilmu.” (QS Yunus: 5).
“Dialah yang menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.” (QS Al-An’am: 96).
Sungguh, secerdas apa pun pikiran manusia, mereka tak bakal mampu menjangkau angka perhitungan di seluruh jagad raya dari atom terkecil hingga planet terbesar dalam berbagai jenis, orbit, dan lingkungannya. Manusia, bahkan tak bakal mampu menyebut angka perhitungan yang terjadi dalam tubuh mereka sendiri.
Al-Qur’an tidak saja menjelaskan tentang akurasi perhitungan Allah terhadap penciptaan langit dan bumi. Tapi Dia sangat cermat dalam memperhitungkan segala amal perbuatan hamba-Nya dan membalas mereka sesuai dengan keadilan-Nya.
“Sesungguhnya Allah Maha memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An-Nisaa: 86).
"Agar Allah membalas setiap jiwa (seperti) apa yang telah mereka usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat dalam menghisab.” (QS Ibrahim: 51).
Setiap perbuatan manusia, yang baik maupun yang buruk, semua diperhitungkan, tanpa ada yang kelewat. Sekecil apa pun perbuatan manusia, bahkan yang masih disembunyikan dalam hati, diketahui oleh Allah dan diperhitungkan-Nya. Kelak di hari kiamat, manusia akan melihat data, rekaman, dan dokumentasi amalnya.
“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS Al-Zalzalah: 7 dan 8).
Lalu, hikmah apa yang bisa kita ambil dari sifat dan nama Allah Al-Hasib? Hisablah dirimu sendiri sebelum dirimu dihisab. Wallahu a’lam. (Hamim Thohari)
Disalin dari Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) Edisi 03/Tahun IV/Februari 2008