SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Blog Pribadi Atma Winata Nawawi

Selasa, 22 Oktober 2013

PERAN PEMBENTUKAN OPINI OLEH MEDIA DALAM PEMILU



Media adalah alat yang paling ampuh bagi publik untuk mengontrol politisi. Sebagai representasi dari kepentingan publik, medialah yang paling berperan sebagai wakil publik dalam mengontrol perilaku para politisi. Publik tidak akan menanggung beban dan akibat dari kebijakanyang dirumuskan, disetujui, dan diputuskan berbagai pejabat publik.” Lewis Powell – Hakim Agung di Amerika Serikat.
Napoleon Bonaparte pernah berujar, “Saya lebih memilih berhadapan dengan ribuan tentara musuh daripada harus berhadapan dengan satu orang wartawan.” Napoleon menyadari bahwa dalam dunia politik, media menjadi alat paling ampuh dalam membentuk opini public. Seribu tentara yang menghunus pedang tak begitu terlihat menakutkan karena serangan dan geraknya dapat terbaca. Akan tetapi wartawan dengan opini yang dibuatnya mampu mempengaruhi jutaan orang dengan arah dan opini yang sulit ditebak. Media jauh lebih menusuk dibandingkan dengan senjata canggih sekalipun.
Kata-kata berenergi diatas seolah menyentak kesadaran public. Media sungguh sangat dashyat. Bagi politisi atau penguasa, media massa adalah pisau bermata dua. Disatu sisi, media merupakan alat paling efektif untuk mengupas pemberitaan positif yang dapat memopulerkan dan meningkatkan pencitraan positif seorang politisi atau penguasa. Sementara di sisi lain, media justru dapat menikam dan menguliti seorang politisi dengan pemberitaan negative. Penguasa bisa dijatuhkan dan mendapatkan citra buruk bertubi-tubi karena kuatnya pemberitaan negatif yang mengarah pada pemerintahannya.
Oleh karena itu, tidak aneh bila setiap rezim otoriter di belahan bumi ini kerap mengontrol media secara ketat. Simaklah pelbagai peristiwa yang terjadi di masa orde baru. Media massa dikekang. Jika ada media yang berani sedikit saja melawan kekuatan rezim maka otomatis akan dibredel. Pembredelan adalah peristiwa biasa yang bisa kita tengok di setiap sudut waktu. Hanya pemberitaan positif terhadap rezim yang diizinkan. Jika tidak ingin ditutup, sikap kritis media mau tidak mau mesti dilontarkan dengan sangat hati-hati.
Situasi mencekam seperti ini tidak berlangsung abadi, seperti lazimnya kehidupan dunia itu sendiri memang tidak kekal. Di akhir masa pemerintahan rezim orde baru, khususnya di era tahun 1998 media semakin berani mengkritik kebijakan pemerintah yang salah. Bahkan, media berhasil memaksa rezim itu masuk kubangan. Media membuncah, suara media seolah suara publik. Media menjelma menjadi kekuatan kritis yang sulit dibendung oleh siapapun, apalagi menjelang dan sesudahnya tumbang rezim orde baru. Pemberitaan media massa sangat berperan dalam menggulirkan nafas reformasi. Setiap kebijakan pemerintah yang dipandang tidak pro-rakyat dikuliti secara terbuka. Independensi media dan kebebasannya mulai memunculkan bentuknya yang asli : bermata dua, bisa memberitakan yang positif dan negative sekaligus.
Masyarakat pun kini sudah lebih dewasa dalam menentukan sikap politiknya. Hal ini disebabkan pendidikan politik yang didapatkannya secara luas melalui berbagai media, masyarakat bisa mengakses informasi melalui pelbagai media secara bebas. Media kini sanggup menyediakan hidangan yang beragam, sementara public menyibaknya sesuai nalar dan perasaannya masing-masing. Tidak seperti di era orde lama atau orde baru yang terkungkung oleh sikap represi rezim berkuasa atau karena miskinnya informasi media yang didapat, masyarakat Indonesia pasca reformasi telah memulai tercerahkan oleh pendidikan politik. Masyarakat mulai kritis dalam mengevaluasi dan menilai kiprah dan sepak terjang elit politik.
Kini, politik tidak hanya monopoli segelintir orang, masyarakat lain pun merasa berhak untuk menentukan sikap politik tanpa rasa takut dengan pilihannya. Rakyat semakin dewasa dan bebas, berkat media yang juga semakin bebas.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi merupakan penyumbang besar dalam pendidikan politik. Apalagi dengan semakin besarnya gelombang demokratisasi di dunia, masyarakat telah memainkan peran yang penting dalam mempengaruhi setiap kebijakan dan keputusan politik pemerintah. Melalui televisi, seseorang dapat menyaksikan kinerja, platform, visi, dan misi partai. Masyarakat dapat menyaksikan kesungguhan dan komitmen seorang konstestan pemilu serta mengevaluasi, membandingkan, dan menentukan pilihan setelah menyaksikan sejumlah berita di media massa dengan bebas.
Melalui internet seseorang dengan sangat mudah, cepat, dan tepat dapat melihat program kerja suatu partai berjalan dengan baik atau sebaliknya. Setiap individu dapat mengakses informasi tanpa terbentur oleh ruang, jarak, dan waktu yang jauh. Ditambah lagi dengan pendidikan formal politik yang juga berperan secara strategis dan menumbuhkan kesadaran public tentang makna demokrasi. Masyarakat semakin menyadari bahwa tindakan berpolitik dan berdemokrasi bisa diekspresikan dalam berbagai ruang gerak dan jenjang serta bentuk suara atau ekspresi yang beragam.
Media massa yang kian terbuka dan kritis semakin member andil dan memainkan peran signifikan dalam memberikan pencerahan politik kepada masyarakat, baik di tingkat local, daerah, nasional, bahkan internasional. Kritik-kritik yang dilontarkan oleh media massa dengan cerdas, tajam, dan konstruktif dapat memudahkan masyarakat untuk memahami kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Dengan intensifnya media massa dalam memberikan pencerahan politik kepada masyarakat, mendorong untuk terciptanya kesadaran masyarakat akan pentingnya transisi politik Negara melalui Pemilihan Umum. Hal ini akan mengarahkan pada terciptanya Pemilu yang berkualitas dan terbentuknya pemerintahan yang efektif dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Namun, semua ini bukanlah tanpa tantangan. Politik Monopoli media yang dikuasai oleh sekelompok orang yang juga memiliki kepentingan politik, membuat independensi media menjadi dipertanyakan. Kini sulit untuk menemukan media yang benar-benar independen tanpa kepentingan politik sang pemiliknya. Kepiawaian dalam mengemas sosok seseorang yang mungkin sebelumnya dicap negatif dapat dirubah melalui iklan dan penampilan di semua lini berita sehingga menjadi positif. Iklan-iklan politik di televisi menjual kandidat Presiden, seperti produsen menjajakan produk kecap dan obat nyamuk.
Pengaruh media massa memang telah menjadi kajian tersendiri dalam ilmu komunikasi politik. Media dianggap mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi opini dan perilaku public. Media diyakini dapat mentransmisi dan menstimulasi permasalahan-permasalahan politik dengan peran yang sangat hebat. Oleh karena itu media massa menjadi alat yang sangat penting dalam kampanye politik. Jaringan media di tengah-tengah masyarakat dianggap sebagai alat yang paling canggih dalam mensosialisasikan program kerja, citra partai, pesan politik, dan kepentingan politik lain. Karena begitu besar peran media, tidak jarang beberapa kalangan menggunakan media sebagai alat untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap kontestan politik yang menjadi kompetitornya.
Jadi, apakah media dapat bermanfaat untuk menaikkan pencitraan atau mendatangkan bencana bagi perilaku yang dianggap negatif? Itu tergantung bagaimana tokoh-tokoh politik memainkan momentum dengan media.
Semoga melalui media yang independen dan actual, kita dapat menemukan pemimpin dan wakil rakyat baru dalam menyongsong Pemilu 2014.

Tidak ada komentar: