" Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan .....karya"
Kata pepatah yang sudah tak asing bagi kita dari dulu. Kematian dan kehidupan adalah sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan, ketika memang sudah saatnya, maka tinggal dibalik saja kepingan kehidupan itu. Kematian sebenarnya begitu dekat saat kita memaknai kehidupan. Satu kabar yang cukup menyentakan malam tadi, salah satu penyair besar , WS Rendra, atau biasa dipanggil bang willy telah terbang menghadapnya. Pengabdiannya di muka bumi kiranya dirasa cukup. Kini sayap burung meraknya telah kuat untuk menerbangkannya ke nirwana.
WS Rendra dijuluki sebagai penyair burung merak. Sang Burung Merak ini melejit karena puisi-puisi yang ditulisnya. Ia juga menulis naskah drama yang dilakoninya sendiri. Penyair yang sempat heboh karena pernikahannya dan masuk Islam, karena sebelumnya ia adalah pemeluk Katolik. Beberapa karyanya antara lain, drama orang-orang di tikungan jalan (1954), Mastodon dan Burung Kondor, Sajak / puisi Jangan Takut Ibu, Balada Orang-Orang Tercinta, dll. Tayangan di TV One tadi pagi, cukup menarik juga ketika cerita tentang perjalanan haji bang willy. Sebuah kejujuran, itu yang berulang kali disampaikan sebaga sebuah testimoni untuk sang burung merak.
Bagi saya pribadi, WS Rendra adalah salah satu inspirator dalam berpuisi. Mungkin kalau melihat beliau secara langsung baru satu kali di TIM dan itu hanya melihat dari jarak agak jauh. Tapi Rendra sebagai inspirator itu cukup terkadang bagi saya. Kira-kira empat tahun yang lalu, saat itu perlombaan baca puisi tngkat pelajar se-Jateng di UNNES, saya menjadi salah satu peserta. Modal nekat dan pengen jalan-jalan. Satu hari sebelum lomba, kepanikan melanda, karena memang tanpa persiapan apapun. "Pripun iki??? Aq bukan anak sanggar, aq cuma ketua tetater yang nggak jelas". Salah satu seniorku tiba-tiba bilang " Cari gaya-mu, coba tonton Rendra".
Yeah...tanpa latihan sedikitpun, hanya mencoba melihat gaya-gaya berpuisi Rendra. Walaupun sebenarnya masih banyak referensi lain selain rendra, dan mungkin karena waktunya sempit jadi hanya sempat melihat2 gaya Rendra. Waktu hari H memang akhirnya saya mencoba membaca puisi dengan "mencoba meniru" gaya santai Rendra membawakan puisi. Ketika Rendra baca puisi, bagi saya seperti bercerita, bukan deklamasi. Gaya santai, tenang, tapi tetap semangat! Ah, pokonya pas lomba waktu itu yang ada dalam benak saya adalah "gaya rendra". Ternyata kenekatan itu membuahkan hasil, jadi runner up. Sejak saat itulah saya benar-benar "ngefans" sama Rendra. Sangat sedih sekali ketika event "Piala Rendra" di UPI Bandung dua tahun lalu saya sakit dan tak bisa hadir.
Mungkin cerita ini self centered, tapi inilah kemudian Rendra dimata saya... Rendra Orang besar yang bersahaja, menjadi salah satu inspirator dalam berkarya.
Karya-karya WS Rendra adalah bagian penting dari INDONESIA.
Sekalipun beliau pergi..kita tak pernah merasa dia hilang...karena sajak-sajaknya tetap hidup menjadi sebuah riak semangat bagi kita semua.
Selamat jalan WS Rendra..terbanglah engkau dengan kepakan sayap Merak dan Nyanyian Angsa-mu... Terimakasih atas balada-balada yang kau tinggalkan.. .semua akan menjadi pemantik untuk para WS Rendra muda......
Berikut Sebuah sajak dari WS Rendra yang cukup menyentuh mengenai "arti kehilangan" dan kepemilikan. ..mengajarkan tentang arti ikhlas :
MAKNA SEBUAH TITIPAN
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa
itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku".
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah...
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
WS Rendra
Grogol, 7 Agustus 2009, 17:00
Sebuah Postingan dari sahabat di Purwokerto
SELAMAT DATANG
Selamat Datang di Blog Pribadi Atma Winata Nawawi
Sabtu, 08 Agustus 2009
" Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan .....karya"
Kata pepatah yang sudah tak asing bagi kita dari dulu. Kematian dan kehidupan adalah sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan, ketika memang sudah saatnya, maka tinggal dibalik saja kepingan kehidupan itu. Kematian sebenarnya begitu dekat saat kita memaknai kehidupan. Satu kabar yang cukup menyentakan malam tadi, salah satu penyair besar , WS Rendra, atau biasa dipanggil bang willy telah terbang menghadapnya. Pengabdiannya di muka bumi kiranya dirasa cukup. Kini sayap burung meraknya telah kuat untuk menerbangkannya ke nirwana.
WS Rendra dijuluki sebagai penyair burung merak. Sang Burung Merak ini melejit karena puisi-puisi yang ditulisnya. Ia juga menulis naskah drama yang dilakoninya sendiri. Penyair yang sempat heboh karena pernikahannya dan masuk Islam, karena sebelumnya ia adalah pemeluk Katolik. Beberapa karyanya antara lain, drama orang-orang di tikungan jalan (1954), Mastodon dan Burung Kondor, Sajak / puisi Jangan Takut Ibu, Balada Orang-Orang Tercinta, dll. Tayangan di TV One tadi pagi, cukup menarik juga ketika cerita tentang perjalanan haji bang willy. Sebuah kejujuran, itu yang berulang kali disampaikan sebaga sebuah testimoni untuk sang burung merak.
Bagi saya pribadi, WS Rendra adalah salah satu inspirator dalam berpuisi. Mungkin kalau melihat beliau secara langsung baru satu kali di TIM dan itu hanya melihat dari jarak agak jauh. Tapi Rendra sebagai inspirator itu cukup terkadang bagi saya. Kira-kira empat tahun yang lalu, saat itu perlombaan baca puisi tngkat pelajar se-Jateng di UNNES, saya menjadi salah satu peserta. Modal nekat dan pengen jalan-jalan. Satu hari sebelum lomba, kepanikan melanda, karena memang tanpa persiapan apapun. "Pripun iki??? Aq bukan anak sanggar, aq cuma ketua tetater yang nggak jelas". Salah satu seniorku tiba-tiba bilang " Cari gaya-mu, coba tonton Rendra".
Yeah...tanpa latihan sedikitpun, hanya mencoba melihat gaya-gaya berpuisi Rendra. Walaupun sebenarnya masih banyak referensi lain selain rendra, dan mungkin karena waktunya sempit jadi hanya sempat melihat2 gaya Rendra. Waktu hari H memang akhirnya saya mencoba membaca puisi dengan "mencoba meniru" gaya santai Rendra membawakan puisi. Ketika Rendra baca puisi, bagi saya seperti bercerita, bukan deklamasi. Gaya santai, tenang, tapi tetap semangat! Ah, pokonya pas lomba waktu itu yang ada dalam benak saya adalah "gaya rendra". Ternyata kenekatan itu membuahkan hasil, jadi runner up. Sejak saat itulah saya benar-benar "ngefans" sama Rendra. Sangat sedih sekali ketika event "Piala Rendra" di UPI Bandung dua tahun lalu saya sakit dan tak bisa hadir.
Mungkin cerita ini self centered, tapi inilah kemudian Rendra dimata saya... Rendra Orang besar yang bersahaja, menjadi salah satu inspirator dalam berkarya.
Karya-karya WS Rendra adalah bagian penting dari INDONESIA.
Sekalipun beliau pergi..kita tak pernah merasa dia hilang...karena sajak-sajaknya tetap hidup menjadi sebuah riak semangat bagi kita semua.
Selamat jalan WS Rendra..terbanglah engkau dengan kepakan sayap Merak dan Nyanyian Angsa-mu... Terimakasih atas balada-balada yang kau tinggalkan.. .semua akan menjadi pemantik untuk para WS Rendra muda......
Berikut Sebuah sajak dari WS Rendra yang cukup menyentuh mengenai "arti kehilangan" dan kepemilikan. ..mengajarkan tentang arti ikhlas :
MAKNA SEBUAH TITIPAN
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa
itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku".
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah...
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
WS Rendra
Grogol, 7 Agustus 2009, 17:00
Sebuah Postingan dari sahabat di Purwokerto
Selasa, 19 Mei 2009
BERSAMA KITA BISA (?)
Tiba-tiba dengan
kejutan yang luar biasa, bahkan bagi kalangan wartawan investigasi sekalipun, Presiden mengumumkan rencananya yang sudah memiliki tingkat kepastian politik, di mana Prof.Boediono, mantan Menkeu di jaman Ibu Megawati Sukarnoputeri, yang juga kolega Presiden SBY saat-saat di kabinet Mega, masuk kembali ke jajaran kabinet SBY-Kalla.
Ini kejutan yang bukan main, karena nama Budiono sejak awal ditolak habis-habisan oleh Jusuf Kalla, bahkan sejak pembentukan kabinet rezim SBY-Kalla, setahun lalu (2004). SBY sekali lagi telah mulai menggeliat dari tangan kuat Kalla, sekaligus pelan-pelan menyingkirkan peran Kalla, walaupun yang
dikorbankan mungkin saja Jusuf Anwar, orang netral dalam kabinet SBY-Kalla, tetapi memiliki kecenderungan untuk memihak SBY. SBY mengorbankan orang pilihannya (Jusuf Anwar) demi langkah
selanjutnya yang lebih prinsipil menghilangkan secara penuh warna Kalla-Bakrie dalam tim ekonomi dan memulihkan kendali politik ke tangan SBY dari kendali Kalla yang sudah mengusik perannya sebagai Presiden.
Untuk menelisik lebih jauh apa dan mengapa SBY memasukkan Budiono serta rencana-rencana selanjutnya bagi SBY untuk memulihkan kendali politik dan ekonomi ke tangannya, maka bisa kita susuri satu persatu peristiwa, kinerja tim ekonomi dan tarik menarik politik antara berbagai kekuatan yang mengerubungi Istana dan cerita-cerita emosional di balik kenaikan Budiono.
Perseteruan kubu pro-IMF, Golkar dan Anti-IMF
Ada segitiga kekuatan yang sekarang berada dilingkaran inti ke kuasaan ekonomi di Indonesia.
Mereka adalah kubu ; Pro IMF, yang sering disebut-sebut sebagai kaum kanan, Golkar dengan sebutan
tengah-kanan. Dan Anti-IMF yang sering disebut oleh lawan politiknya sebagai orang-orang kiri. Pada
saat kekuasaan Suharto mengalami krisis hebat, di mana intervensi IMF sudah masuk secara lugas ke dalam kebijakan ekonomi Indonesia akibat krisis moneter 1997, IMF membangun jaringan kekuasaannya dengan memasukkan orang-orang yang berpaham benar-benar 'western' dalam landasan pemikiran
ekonominya. Orang-orang ini menganut paham kebijakan yang pro-Amerika, bersikap moneteris Milton Friedman, dan tidak menyukai gagasan-gagasan campur tangan negara yang kuat bahkan untuk berpikir secara neo keynesian saja mereka mengharamkan. Kelompok ini berpusat pada orang-orang yang pernah direkrut IMF sebagai karyawannya dan ditempatkan di seluruh penjuru dunia, sebagai karyawan duta. Tokoh utama dalam kelompok ini berpusat pada Sri Mulyani Inderawati, seorang ahli ekonomi lulusan UI dan melanjutkan studinya di Amerika Serikat. Sri Mulyani (-yang pada saat itu di luar kabinet-) membangun kelompoknya yang sangat pro-IMF di lingkaran kekuasaan Megawati pada saat itu. Orang-orang yang berada satu jalur dengan Sri Mulyani dan memiliki akses kepada kekuasaan di kabinet Megawati adalah : Laksamana Sukardi, Rini Soewandi dan beberapa dirjen di lingkungan departemen (keuangan, industri dan perdagangan) , termasuk Bank Indonesia yang dikuasai kelompok Miranda Gultom.
Jaringan Sri Mulyani telah melaju kuat dan sempat menekan kelompok Dorodjatun Kuntjorodjakti
yang didukung Menkeu Budiono. Awalnya Dorodjatun bersikap konservatif terhadap agresivitas kelompok Sri Mulyani dalam hal tuntutan kenaikan BBM, namun akhirnya sikapnya melunak. Penghapusan subisidi BBM yang menjadi pokok utama tuntutan IMF dalam memulihkan kondisi keuangan negara, mendapatkan tantangan yang kuat dari orang-orang yang boleh disebut berpaham sosialis. Orang-orang 'kiri' ini awalnya menumpukan kekuatan pada DR. Rizal Ramli (bekas tahanan politik Malari dan rekan aktivis Dorodjatun periode perlawanan politik mahasiswa dan intelektual, 1974). Tetapi
kesalahan yang utama bagi Rizal Ramli adalah berharap banyak dari dukungan politik Gus Dur. Aksi politik Gus Dur yang menggusur berbagai kelompok yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya dan menempatkan orang-orang yang kurang kredibel dalam posisi-posisi strategis, membuat kubu
Megawati pda saat itu didekati oleh kekuatan-kekuatan politik yang menghendaki ditumbangkannya Gus Dur dari posisi jabatan Presiden.
Kubu Megawati yang pada awalnya enggan menyambut gandengan politik lawan-lawan politiknya yang dulu mengganjal posisi dia di Senayan tahun 1999, perlahan mulai membuka diri. Puncaknya adalah terowongan politik yang dibangun oleh suaminya, Taufik Kiemas ke kelompok penentang Gus Dur. Taufik
Kiemas membangun aliansi kepada Amin Rais dengan komitmen menaikkan Megawati sebagai Presiden dan mengamankan posisinya sampai tahun 2004, menugaskan Amin Rais menyatukan sikap di kalangan umat Islam untuk berada di bawah kekuasaan Megawati dan tidak mengusik apapun yang diperbuat Megawati termasuk pembentukan Kabinet.
Megawati yang leluasa membentuk kabinet akhirnya memasukkan dua orang ke dalam posisi paling strategis dalam kabinetnya, yaitu : Dorodjatun, sebagai Menko Perekonomian, dan Boediono sebagai Menteri Keuangan. Keputusan Megawati ini banyak diwarnai oleh nasihat mantan menteri senior di Era Suharto, Prof. Widjojo Nitisastro. Awalnya naiknya Dorodjatun disambut gembira kelompok kiri walaupun Rizal Ramli telah tersingkir. Kelompok kiri saat itu menggeser gantungan harapannya kepada : Kwik Kian Gie, seorang akademisi cemerlang lulusan Rotterdam yang pikirannya bergaya sosialis, bahkan disebut-sebut sebagai sosialis garis keras. Namun kegembiraan kelompok kiri ini tidak berlangsung lama, karena orang separtai Kwik di PDI-P, Laksamana Sukardi menjadi penantang setiap kebijakan yang condong ke kiri. Bahkan Laksamana melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat tercela di mata orang-orang kiri, yaitu ; melakukan penjualan BUMN, layaknya seperti sopir angkot yang mengejar setoran. Kwik kerap berseteru dengan Laksamana, terutama masalah ikut campurnya IMF dalam
kebijakan-kebijakan ekonomi di Indonesia. Bahkan suatu saat Kwik nyaris mengucapkan "Go To Hell, IMF".
Kwik yang menampik IMF jelas-jelas memposisikan dirinya pada situasi yang sulit. Karena pada saat itu
anggaran keuangan negara membutuhkan dana segar, kelompok-kelompok negara kreditur yang biasanya kerap menggelontorkan dana bersikap hati-hati memberikan pinjaman ke Indonesia, perhatian
mereka lebih kepada negara-negara berkembang yang sehat seperti : Vietnam, Meksiko dan pemulihan kondisi moneter di Argentina. Keuangan global yang diposkan ke negara-negara berkembang tidak jatuh ke Indonesia. Dan inilah yang membuat posisi IMF semakin kuat, karena berkat lobby IMF ke sindikasi
keuangan internasional dan kesediaan IMF memberikan dananya ke Indonesia dalam beberapa tahap juga janji penyelesaian urusan khusus IMF yang dimulai tahun 1997 dan akan berakhir 2003, mau tak mau membuat orang-orang Sri Mulyani mendapat angin.
Menguatnya kubu Mulyani pelan-pelan mengikis habis orang-orang kiri di kabinet Megawati, ditambah
kelompok tengah-kanan (Golkar) yang setelah jatuhnya Suharto melakukan politik defensif, mulai mendapatkan jalan untuk memperkuat negosiasi. Golkar memiliki dua kubu pada era Megawati.
Kubu Akbar Tanjung, dengan komandan strategi Mahadi Sinambela dan kubu Iramasuka (Indonesia Timur) yang dikomandoi Jusuf Kalla, Marwah Daud Ibrahim dan belakangan Agung Laksono membelot ke kubu Iramasuka. Kasus bulog II, yang menimpa Akbar merupakan 'handycap' utama bagi kubu Akbar dalam melakukan manuver politiknya, entah kenapa Akbar seakan-akan menggadaikan kubunya ke Megawati dengan dua pinjaman politik, memuluskan Megawati mempertahankan jabatan Presiden, lalu
kedua, Megawati berjanji mendukung upaya-upaya lolosnya Akbar dari jeratan hukum. Kasus Bulog II, juga membuat Akbar melakukan blunder terbesar yang berakibat tersingkirnya Akbar dari ketua umum Golkar, blunder itu adalah mekanisme pencalonan Presiden oleh Golkar lewat proses konvensi. Dalam konvensi itu Akbar benar-benar dipermalukan oleh Wiranto, seorang Jenderal yang sepanjang karir militernya berada di luar garis Beringin (tidak seperti, Sudharmono, Hartono ataupun Prabowo).
Akbar memang pernah mencoba menghubungi SBY sesaat sebelum ide konvensi berlangsung, namun keinginan Akbar itu kandas karena gadai politik terhadap Megawati. Megawati tidak akan suka sekutunya membangun aliansi dengan lawan politik yang paling dibencinya, bahkan kebencian
terhadap SBY sudah masuk ke wilayah pribadi Megawati. Singkat cerita Akbar tersingkir, karena
ketidakpercayaan cabang terhadap dirinya karena dipecundangi Wiranto, dan Golkar yang memiliki prinsip politik paling jelas, yaitu : 'Siapa yang berkuasa, dia yang kita bela' menjadi semakin berwarna Iramasuka ketika Kalla berhasil menduduki kursi wapres. Dengan mudahnya setelah setelah serangan kilat empat bulan, Kalla berhasil duduk menjadi ketua umum Golkar. Kalla dengan cepat pula menendang
Akbar Tanjung yang sudah bersiap-siap memecat Kalla karena memihak kepada pihak lain tanpa seijin DPP. Kalla menang dan menguasai jalannya kekuasaan di tubuh Golkar.
Menguatnya kelompok Kalla.
Jusuf Kalla yang memiliki latar belakang pengusaha nasional dari Indonesia Timur dan kurang tercebur pada proses politik Suhartorian di era Orde Baru, memiliki kejeniusan politik yang luar biasa dalam membangun strategi politiknya. Proses-proses negosiasi dagang di mana dia memiliki pengalaman selama 30 tahun sebagai penguasaha membuat ia terbiasa berjalan di tengah konflik lalu mengambil keuntungan, dan meng-akumulirnya. Kalla tidak terbiasa dengan politik harmoni, ataupun politik yang
memiliki unggah-ungguh (etika) Jawa, di mana mayoritas politisi Indonesia di luar Gus Dur, sangat mematuhi etika itu. Jaringan utama Kalla adalah pedagang praktis, dia bukan industrialis yang terbiasa dengan pola piker strategis jangka panjang, otak Kalla yang pedagang sangat bernafsu bila melihat keuntungan-keuntung an jangka pendek. Strategi Kalla adalah strategi jangka pendek yang kemudian,
keuntungan-keuntung annya diakumulir dan menyebar kedalam pukulan-pukulan politik yang
mematikan. Akbar Tanjung sudah merasakan hebatnya pukulan Kalla. Dan cara dagang politik Kalla membuat benturan-benturan politik yang kadang menggoyang harmoni, cara Kalla mengingatkan kita pada gaya Wakil Presiden Adam Malik (1978-1983).
Jaringan Kalla yang pedagang praktis mendekatkan Kalla kepada kelompok-kelompok dagang pribumi, yang selama ini kurang mendapat perhatian politik di era Presiden Suharto. Pedagang-pedagang pribumi
dengan segala macam asosiasinya mendapat perhatian Kalla dan dijadikan Kalla sebagai benteng terkuat untuk melakukan tawar menawar politik, bila Amien Rais menggunakan Muhammadiyah sebagai kuda tunggangan, Gus Dur Nadhlatul Ulama, Megawati Nasionalis-Sukarnoi s, Wiranto Nasionalis-Sekular- Orde Baru, Hamzah Haz, Islam-Luar Jawa, maka Kalla menggunakan Kadin, Hipmi, dan jaringan dagang Indonesia Timur sebagai kendaraan politiknya. Awalnya bila dilihat kendaraan politik Kalla
paling lemah diantara semua pemain politik yang berperang pada pemilu Presiden (kecuali Gus Dur yang diganjal KPU). Tetapi nasib baik berpihak pada Kalla, tiba-tiba mencuat kharisma politik yang luar biasa dari Susilo Bambang Yudhoyono, koleganya paling dekat pada kabinet Megawati. Diusir dan didiamkannya SBY oleh Megawati, membuat opini masyarakat yang selama ini kecewa dengan
perilaku politik Mega, memberikan dukungan penuh kepada SBY.
Rebutan pinangan ke SBY dilakukan oleh lawan-lawan politik Megawati, tapi SBY selalu menolak, sedari awal ia menginginkan Kalla sebagai pasangan politiknya. Kalla yang menjaga perasaan Megawati -orang yang berjasa membersihkan namanya dari segala tuduhan Gus Dur- mengulur waktu untuk menerima tawaran SBY. Namun ketika Kalla mendengar SBY sudah akan bergandengan dengan pesaing politiknya, ia segera menghubungi SBY dan langsung mengajak kerjasama. Kerjasama politik antara SBY dan Kalla menyiratkan kemenangan bagi kelompok kanan yang pro IMF. Karena pada saat itu Golkar lebih menyenangi kelompok kanan ketimbang musti bersekutu dengan orang-orang kiri.
Kalla bersekutu dengan Aburizal Bakrie
Aburizal Bakrie, pengusaha nasional Indonesia yang sering mengklaim dirinya sebagai front terdepan pengusaha pribumi Indonesia, besar dalam lingkungan usaha. Ayahnya Abdullah Bakrie adalah pendiri NV. Bakrie, sebuah perusahaan kontrak minyak dengan investor asing yang laris dalam menekuni bisnis subkontraknya. Dan ditangan Aburizal perusahaan Hadji Bakri berkembang sedemikian rupa, pesat perkembangannya. Tapi perkembangannya itu didukung oleh kemampuan Aburizal bermain di ruang-ruang kekuasaan lewat asosiasi-asosiasinya seperti Hipmi atau Kadin.
Di sinilah Kalla mengenal Bakrie, lewat asosiasi pedagang yang sedikit banyak mengobarkan semangat anti Cina dan menebalkan perasaan pribumi (hal yang sudah dilakukan dalam lebih satu abad sejak bangkitnya Sarekat Dagang Islam/SDI) dalam melakukan kampanye-kampanye bisnisnya. Dan ini tidak
disukai oleh golongan konglomerat- konglomerat Cina besar seperti Bian Koen dan Bian Kie, yang menyerang Aburizal dan terang-terangan mendukung Megawati.
Kalla melihat Aburizal Bakrie sebagai sebuah kekuatan potensial untuk menumbuhkan basis politik dengan dasar kekuatan pasar. Kalla yang sudah lama tidak menyukai dominasi pengusaha-pengusaha Cina secara sadar menempatkan gerbong Aburizal Bakrie sebagai kekuatan besar yang diharapkan menandingi kekuatan kelompok Cina dan kompradornya. Dan sikap kaku Kalla ini jauh lebih tidak bersahabat daripada sikap Megawati yang sudah terbiasa menghadapi kelompok pengusaha Cina karena pengaruh bapaknya, Sukarno yang tidak pernah menempatkan politik rasis sebagai barang dagangan.
Dengan demikian persekutuan politik antara Kalla-Bakrie lebih kepada penandingan terhadap
kelompok Cina tapi kenyataan politik berjalan lain, persekutuan ini musti berhadapan dengan musuh yang tak diduganya : kelompok pro-IMF, di mana sedari awal mereka menganggap pro-IMF ini adalah teman yang jauh dari pikiran menggangu tapi apa daya idealisme SBY telah menjebak persekutuan mereka menjadi berhadap-hadapan dengan kaum kanan. Dan tanpa sadar menggiring mereka membuka front terbuka terhadap SBY.
Kini pemegang kekuasaan setelah pemilu 2004 semakin jelas, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang
didukung tentara Angkatan Darat dan Laut, partai-partai kecil (termasuk Demokrat) yang berhaluan Nasionalis, Partai-Partai Islam moderat (PKS, PBB, PPP dan PBR) dan Partai Amanah Nasional (PAN) yang baru pada detik-detik terakhir memberikan dukungannya.
Jusuf Kalla telah menguasai seluruh gerbong Golkar dan menyingkirkan unsur Akbar Tanjung dalam DPP, hanya sebagian kecil lasykar Akbar tersisa di DPC-DPC (sebagian Jawa dan Sumatera). Gabungan antara SBY dan Kalla telah cukup untuk menyetir parlemen dan membungkam lawan politik utama SBY-Kalla, PDI-P pimpinan Megawati yang kadang-kadang dibantu PKB versi Gus Dur.
Kemenangan SBY dan Kalla yang sangat telak, malah bukan menciptakan sinergi dalam kubu
pemerintahan baru tapi yang terjadi adalah meruncingnya persaingan, dan persaingan ini mulai dibuka menjadi genderang perang. Dan perang itu bermula pada saat penyusunan kabinet. Front pertempuran
dibuka pada saat-saat formasi kabinet tim ekonomi. SBY yang sedari awal sudah tenang karena menganggap dirinya mahir dalam menciptakan strategi ekonomi jangka pendek, menengah dan panjang
dengan visinya ternyata dikejutkan dengan sikap Kalla. SBY tidak menyangka Kalla memiliki pandangan politiknya yang begitu bertentangan dengan apa yang dimaui SBY. Perang mulut terjadi ketika membahas siapa yang layak menjabat posisi Menteri Koordinator Ekonomi dan Menteri Keuangan, SBY mengantungi nama Sri Mulyani, Dorodjatun, Marie J. Pangestu, Kwik Kian Gie (akhirnya dicabut karena penolakan Megawati yang tidak mau Kwik membantu SBY). Sementara Jusuf Kalla menyodorkan Aburizal Bakrie, Rahmat Gobel dan sederet nama pengusaha yang tidak berlatar belakang akademis yang kuat
sebagai inti dalam tim ekonomi.
Kelompok Islam yang dikomandoi kubu PKS malah memperkeruh suasana, orang-orang dari partai Islam tidak suka jika Sri Mulyani dan Marie J. Pangestu yang sudah mendapat stigma IMF-girls, masuk sebagai menteri utama Kabinet SBY.
Detik-detik terbentuknya tim ekonomi SBY-Kalla
Layaknya sebuah pernikahan, pertarungan kuasa siapa yang pegang kendali rumah tangga isteri atau
suami biasanya terjadi di bulan-bulan pertama pernikahan, berbagai macam strategi dilancarkan baik dari
pihak suami ataupun isteri. Begitu pula pada penguasa-penguasa Indonesia setelah era Sukarno-Suharto, semuanya penuh hitung-hitungan. Memang bila dipikirkan tidak mungkin SBY yang meraih kemenangan besar musti tunduk pada pendampingnya yang kekuasaannya jauh lebih kecil. Tapi Kalla bisa bersikap sebagai kancil, Ia berpendapat bisa saja SBY menang dalam Pemilu, tapi ia bisa saja
dijatuhkan jikalau tidak dilingkari partai politik yang kuat, seperti kasus Gus Dur. Di mana pada awalnya Gus Dur meraih dukungan karena popularitas di parlemen juga karena akal-akalan Amien Rais namun
ternyata, Gus Dur dijegal di tengah jalan sekaligus setengah dipermalukan. Kesalahan Gus Dur hanya satu.. tidak punya partai yang kuat. Dan kini Kalla memilikinya, lalu SBY musti membayar semua itu.
Ada kisah menarik dalam drama pertarungan politik G-30-S, empat puluh tahun lalu, tanggal 1 Oktober 1965, yaitu dalam satu hari kekuasaan Republik Indonesia, tiga kali berpindah tangan. Jam enam pagi, di tangan Dewan Revolusi pimpinan Letkol (TNI/Inf) Untung Bin Sjamsuri yang melakukan gerakan sepihak dengan membunuhi enam Jenderal dari Staff Umum Angkatan Darat. Jam sepuluh pagi kekuasaan berpindah kembali ke tangan Sukarno yang menghendaki perubahan di struktur kabinet dan pembenahan jalannya revolusi, serta kebingungan akibat terbunuhnya enam Jenderal dan sikap konyol gerakan Untung, kekuasaan Sukarno hanya sampai jam lima sore, karena jam itu. Major Djenderal Suharto mengumumkan di radio RRI bahwa dialah pemegang kekuasaan di Angkatan Darat sekaligus bersumpah mengejar pembunuh para Jenderal dan mengecap gerakan Untung adalah kudeta. Dan sejak jam itu kekuasaan Sukarno tak pernah pulih dan Gerakan Untung mendapat nasib sialnya.
Begitu juga yang terjadi pada detik-detik formasi kabinet di tahun 2004, terutama jabatan-jabatan strategis di bidang keuangan. Pada hari Rabu (12/10/04) pagi jam delapan SBY masih memegang kendali kekuasaannya, Ia memutuskan bahwa Menko Ekonomi Budiono atau Purnomo Yusgiantoro, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua Bapenas Marie J. Pangestu. SBY secara bulat menegaskan inilah formasi ideal, pertama-tama suara mendesis muncul dari partai-partai Islam yang tidak menyukai kehadiran Marie, yang dianggap representatif dari CSIS, sebuah organisasi yang sempat memiliki reputasi buruk
di mata kaum politisi Islam. SBY tidak mempedulikan suara dari partai-partai Islam yang kecil ini. Tapi ancaman hebat terjadi jam sepuluh saat itu Kalla secara mengejutkan membawa nama Aburizal (Ical) Bakri sebagai tokoh utama koordinasi ekonomi, sinyalemen naiknya Ical langsung membuat goncang jaringan konglomerasi Cina, dengan segera mereka mendesak agar jangan sampai Ical menguasai otoritas ekonomi di Indonesia, apalagi Ical akan membawa gerbong pengusaha pribumi yang dikenal pesaing keras terhadap kelompok Jaringan Konglomerasi Cina, semacam Rahmat Gobel atau pun Fadel Muhammad. Usaha kelompok konglomerasi ini berhasil menggagalkan gerbong Ical tapi untuk Ical, Kalla sudah terlanjur kepala batu. Bencana itu datang ketika Marie J. Pangestu dan Sri Mulyani serentak mengundurkan diri bila bukan kelompoknya yang naik, Sri Mulyani lebih menghendaki Budiono atau Purnomo Yusgiantoro atau Dorodjatun Kuntjorojakti sebagai kepala tim ekonomi. SBY yang sempat dilanda kebingungan, akhirnya musti memutuskan jalan tengah yang pahit, yaitu tetap mengangkat Bakri tapi juga mengangkat Jusuf Anwar, seorang birokrat yang kurang menonjol prestasinya dan sudah menjelang pensiun, Jusuf Anwar dijadikan SBY sebagai benteng dan pengacau koordinasi, sekaligus informan bagi SBY terhadap kerja Bakri. Loyalitas Jusuf Anwar hanya satu, yaitu pada SBY, lain tidak. Inilah kenapa banyak orang mengendus Jusuf Anwar kurang mampu mengembangkan irama
koordinasi, sementara Ical terlihat limbung melihat permasalahan ekonomi yang jauh lebih kompleks ketimbang hanya mengurus perusahaan go public atau pun mencairkan hutang trilyunan di bank. (Kelak
dikemudian hari tugas Jusuf Anwar mengacaukan koordinasi tim ekonomi berhasil diselesaikan dengan baik dan membuka jalan naiknya Sri Mulyani dan Budiono. Mundurnya Jusuf Anwar bukan kegagalan
tapi justru keberhasilan strategi SBY untuk mendepak Aburizal Bakrie.)
SBY membiarkan Kalla menjalankan apa maunya, tapi ia tetap akan mengangkat Sri Mulyani sebagai menteri keuangan bila saatnya tepat (dikemudian hari) dan mendorong untuk lebih memperkuat jaringan kerjasama internasional terutama pembicaraan baru terhadap IMF sebagai institusi pendonor dana pembangunan.
Keesokan harinya, SBY dilihat orang sebagai pihak yang kalah dengan mengangkat Aburizal Bakrie dan Jusuf Anwar ke dalam tim ekonomi, tetapi ia masih mengulur waktu.
Dan waktu itu datang.
Masih ingat ketika Gus Dur memberhentikan Wiranto, bukan di Jakarta tetapi di sebuah negara yang jauh dari Indonesia. Gus Dur tahu Wiranto masih sangat kuat tetapi ia harus memotong jalur Wiranto agar tidak terjadi persaingan yang sedemikian keras di tubuh Angkatan Bersenjata akibat rivalitas Wiranto dengan jenderal yang sudah dipecatnya, Prabowo, dan juga Gus Dur ingin memuaskan tuntutan kaum reformis agar Wiranto dipecat. Begitu juga SBY merombak kabinet dengan langkah
utama menyingkirkan Aburizal dalam tim ekonomi, tetapi pengumumannya di Medan jauh dari pusat kekuasaan.
Hari Jumat (2/12/04) setahun setelah berjalannya mesin Ical, SBY melakukan gerakan politik yang cukup mematikan terhadap kelompok Kalla. Setelah diisukan berbulan-bulan bahwa SBY kini di bawah kendali Kalla, dan tidak menjalankan tugas sebagai Presiden yang sejati, kini SBY sudah melakukan serangan
politik ke Kalla. Pertama kali serangan itu dilakukan di Medan.
SBY melakukan ini karena ia ingin tahu basis dukungannya di wilayah Sumatera, apakah siap bila ia akan bertarung frontal dengan Kalla. Golkar di Sumatera lebih bersimpati pada Akbar Tanjung ketimbang pada Jusuf Kalla, sekaligus SBY memastikan kekuatan di luar Golkar yang akan berpihak padanya seperti PAN di Sumatera Barat bahkan PDI-P di Sumatera Utara yang terkenal radikal. SBY mulai melancarkan politik koridor, ia membangun simpati lawan-lawan politiknya terutama Megawati dan Gus Dur, karena hanya dua orang inilah yang bisa melakukan persaingan sengit dengan Golkar. Akbar Tanjung yang tadinya akan ditarik ke tubuh Partai Demokrat, ternyata masih jadi kartu bagus untuk melawan Kalla, maka Akbar tetap dipertahankan di Golkar.
Pihak Kalla jelas kaget dengan sikap SBY yang bulan-bulan belakangan memberi harapan bahwa Aburizal
tidak akan diganti, hanya Jusuf Anwar saja, sesuai dengan permintaan Kalla.
Lantas dengan cepat Kalla mengkonsolidasikan kekuatannya untuk berhadapan dengan SBY di Jakarta, perang mulut terjadi di antara mereka dari jam 7.00 malam sampai jam 2.00 pagi, kemudian dilanjutkan pada Minggu hampir seharian. SBY ngotot Sri Mulyani musti naik, dan Kalla jelas merasa dipermalukan
oleh SBY karena selama ini ia sudah di atas angin dan SBY tidak memperdulikan orang-orangnya di Golkar.
Agung Laksono ketua DPR melakukan pendekatan kepada pihak SBY tapi SBY tetap menolak, bahkan keputusannya dianggap final. Bahkan tawaran netral Sugiharto (menneg BUMN) untuk dijadikan menteri keuangan ditolak mentah-mentah oleh SBY.
Kalla yang mulai tinggi amarah politiknya justru bersiap menjawab tantangan SBY dengan melakukan sebuah perlawanan di kabinet dengan membuat garis yang lebih tegas lagi bahwa ada wilayah-wilayahnya yang tidak bisa disentuh SBY, Kalla tidak mau dipermalukan dengan disingkirkannya Aburizal karena dengan demikian kendali politik di bidang ekonomi terlepas dari tangannya, Ia sangat tidak menyukai Budiono dan Sri Mulyani yang dianggap sebagai karyawan IMF, dalam hal ini Kalla menjadi berhaluan sosialis-kiri dan sikap kanan Kalla tidak nampak terlihat. Tapi SBY sudah bersiap menghadapi amarah Kalla ia pun membangun formasi perlawanan tapi ia sadar amunisi politiknya sudah 'old crack' maka ia dengan cerdik mengeluarkan senjata lama tetapi cukup mematikan.
Dan senjata pamungkas pun dikeluarkan SBY...Kekuatan Jawa...
Seakan-akan mengikuti jejak Bung Karno dalam mengumumkan perang antara RI dengan Kerajaan Belanda dalam klaim terhadap Irian Barat dan mencanangkan operasi militer Trikora, SBY mengumumkan genderang perang dengan Kalla di Yogyakarta. Ada anekdot-anekdot lucu di balikmYogyakarta dipilih oleh Bung Karno sebagai tempat memutuskan perang dengan Kerajaan Belanda yang bisa saja memancing Amerika Serikat dan Inggris karena Sukarno menggunakan amunisi Uni Soviet dalam mempersenjatai militer Indonesia. Kata orang Sukarno berkonsultasi dengan Ratu Kidul penguasa pantai selatan, dan diijinkan membawa bala tentara Ratu Kidul tapi setelah operasi Trikora selesai Bung Karno lupa pamit pada Ratu Kidul sehingga banyak anak buah Ratu Kidul tersasar ke mana-mana, dan bentuknya adalah mewabahnya tikus-tikus sawah dan kekeringan, ini barus diselesaikan ketika ada acara ruwatan lewat pertunjukan wayang barulah bencana usai.
Tapi jelas SBY bukan meminta bantuan Ratu Kidul tapi kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X, simbolisasi
budaya Jawa. SBY tahu bahwa Kalla kini bukanlah teman sepaham tapi justru menjadi musuh dalam selimut, dan SBY jelas jauh ketinggalan di mana-mana dalam posisi politik dengan Kalla, hanya satu dia menang. SBY orang Jawa. Dan Kalla menyadari itu dari awal bahwa dia tidak akan bisa menang bila
sentimen kedaerahan dimunculkan sebagai senjata pertarungan, karena penduduk Yogyakarta plus Jawa tengah saja lebih banyak jumlahnya dari penduduk seluruh Sulawesi.
Kalla berkali-kali mengucapkan dia tidak mungkin jadi Presiden karena dia orang bukan Jawa. Tapi kenyataan politik menjawab lain Kalla terus menerus membangun armada politiknya untuk bersiap menghadapi Pemilu, bahkan dalam jangka pendek menyaingi SBY, suatu hal yang dapat membuat lawan-lawan politik terkesiap, termasuk Megawati dan Amien Rais.
Di Yogyakartalah SBY menembak Kalla, membangun jarak dan ruang tembak agar tepat untuk merobohkan kekuatannya tetapi tidak mematikan, karena bagaimana pun tujuan SBY terbatas hanya untuk mengendalikan Kalla. Tapi beda dengan lawan-lawan politik Kalla, Megawati, Amin Rais, Gus Dur,
beberapa golongan Nasionalis kecil, Islam politik, Golkar Jawa-Sumatera pro-Akbar Tanjung dan kelompok sosialis kiri bersiap menghadapi Kalla sekaligus menghadapi Kalla.
Bagaimanapun bintang terang Kalla membahayakan posisi mereka menjelang Pemilu 2009. Persekutuan
politik terselubung untuk menggusur Kalla kini sudah terbentuk dan SBY masuk ke dalam zona persekutuan itu mau tidak mau justru dialah yang seakan menjadi pemimpin dan nampak dipermukaan untuk menantang Kalla secara terang-terangan, SBY berdiri di depan. Sementara para jago politik masih menyimpan senjata politik dan energi mereka, Megawati membenahi parlemen, Gus Dur menghantam
kelompok Alwi Shihab yang mencoba mengkudeta wibawa Gus Dur dan SBY sudah deal untuk menyenangkan Gus Dur menendang Alwi Shihab, Amien Rais sibuk membangun citra politik
partainya sebagai partai berhaluan nasionalis-pluralis sementara kaum politisi Islam berjalan di tempat
menunggu arah angin politik, kelompok sosialis kiri bersiap memasuki kandang-kandang politik favorit mereka yang saat ini masih terdapat pada PDI-P dan PKB. Sementara militer jelas bulat di belakang SBY.
Jusuf Kalla yang sepanjang tahun 2005 terlihat jumawa, dimulai ketika ia menjadi komandan pengendalian Tsunami yang keputusan wapres-nya membuat kejutan banyak pihak, Konsep perdamaian GAM yang seakan-akan mengambil perjudian politik sebagai bayaran perdamaian sampai konseptor naiknya harga BBM yang tidak masuk akal (80%-200%), membangun armada politiknya sebagai kekuatan partai terbesar dan tidak mungkin dikalahkan kini menghadapi lawan serius, KONSOLIDASI JAWA......dan sepanjang sejarah Indonesia, Jawa tak bisa dikalahkan.. . PRRI/PERMESTA di Sumatera, Kahar Muzzakar di Sulawesi, DR. Soumokil di Ambon, Gerombolan DII/TII di pedalaman Jawa Barat dan berbagai daerah di Aceh dan Sulawesi, PSI dan Masyumi yang merongrong Sukarno pada kehendak demokrasi terpimpin sampai dengan bangkitnya militer Angkatan Darat yang dikomandoi beberapa perwira tinggi Diponegoro menghancurkan segitiga besi: PKI, Sukarno dan Angkatan Darat pro-Jakarta, sampai percobaan separatis GAM-Aceh telah membuktikan sejarahnya bahwa konsolidasi Jawa bukan hal yang bisa dianggap remeh. Dan SBY tahu itu.....
Dari milis tetangga untuk didiskusikan dan dicermati.
Demi Indonesia yang bermartabat
Sabtu, 11 April 2009
MAKNA MENJADI PEMENANG
MAKNA MENJADI PEMENANG
Dalam setiap pertandingan kita mau menang, lalu siapa yang mau kalah? Prajurit berperang untuk menang, pengusaha berbisnis untuk menang, atlit bertanding untuk menang, dan tentu saja politikus berkampanye juga untuk menang. Tidak ada yang berusaha untuk kalah karena kekalahan bukanlah hal yang menyenangkan bagi semua orang.
Kemenangan adalah sesuatu yang penting bagi kebanyakan orang. Begitu pentingnya, sampai-sampai banyak yang bersedia melanggar batas-batas norma, etika, dan hukum bila perlu. Yang menarik adalah, setelah sebuah kemenangan diraih ternyata bukan kemenangan itulah yang dicari. Dalam kisah yang difilmkan tentang usaha Nixon untuk menjadi Presiden Amerika Serikat, sang ibu diwawancarai. Salah seorang pewawancara bertanya, mengapa seorang politikus mau mengahabiskan seumur hidupnya untuk memperjuangkan sebuah jabatan yang hanya berlangsung 4 tahun? Lalu sang ibu menjawab secara mengejutkan, “Karena masa selama 4 tahun itu sama seperti seumur hidup lamanya.” Benarkah?
Empat tahun adalah empat tahun, empat kali 365 hari atau 1461 hari (termasuk tahun kabisat). Empat tahun tidak menjadi lebih lama atau lebih singkat hanya karena seseorang menjadi Presiden atau Pengemis. Tentu saja yang berbeda adalah nilai dari empat tahun tersebut. Empat tahun menjadi sangat mahal ketika empat tahun itu harus ditukarkan dengan seumur hidup untuk mencapai tujuannya. Tapi yang lebih menyedihkan lagi adalah apa yang akan terjadi setelah empat tahun yang berharga itu akhirnya berakhir. Hari-hari terakhir menjelang selesainya masa empat tahun terakhir menjadi hari-hari yang terasa berat. Detik demi detik menjadi demikian mahal dan menyayat. Setelah itu, semuanya menjadi kenangan. Kenangan yang baik apabila seseorang melaluinya dengan baik, dan kenangan yang menyedihkan bila seseorang melaluinya dengan buruk. Padahal, kemenangan yang baik tersebut bias saja diraih tanpa kemenangan yang diperebutkan sebelumnya. Sebut saja, Al Gore, kekalahannya dalam Pemilu presiden Amerika Serikat tahun 2000 tidak menjadikannya dikenang buruk oleh masyarakat Amerika Serikat dan dunia. Sebaliknya, Al Gore akan dikenang sebagai salah satu tokoh penting yang berkontribusi besar terhadap Amerika Serikat dan dunia. Sementara, lawannya George W. Bush justru akan dikenang sebagai pecundang tidak hanya di negaranya, tapi diseluruh dunia, ia menutup masa jabatannya dengan Krisis Keuangan yang hebat di Amerika Serikat yang kini menjadi Pe-Er utama bagi Presiden selanjutnya, Barrack Obama.
Jika demikian, mengapa banyak orang mempertaruhkan segala sesuatu yang dimilikinya (bahkan yang tidak dimilikinya) untuk sebuah kemenangan. Manusia seringkali terkena efek halo, yaitu sebuah pandangan yang membiaskan pandangan kita terhadap sesuatu yang sesungguhnya. Persis seperti serangan laron yang menghampiri lampu di waktu senja. Dari jauh, ribuan hewan ini datang untuk mengahmpiri keindahan cahaya. Namun tragis, setibanya disana mereka hanya mengantar nyawa. Karena itu untuk menghindari upaya yang sia-sia seperti ini, kita perlu memaknai dan menyikapi kemenangan secara benar.
Apakah makna sesungguhnya dari kemenangan? Banyak orang mengatakan bahwa kemenangan adalah hasil terbaik yang diraih, tapi menurut penulis, kemenangan adalah proses atau cara. Masih ingat kasus Ben Johnson dalam Olimpiade di Seoul tahun 1988? Ia dinyatakan sebagai peraih mendali emas dan sekaligus pemecah rekor dunia untuk kategori lari paling bergengsi yaitu sprint 100 meter. Sebelum perhelatan olahraga empat tahun itu berakhir, Ben Johnson harus kehilangan mendalinya karena ia terbukti menggunakan doping. Apakah ia seorang pemenang? Pesaingnya Carl Lewis, memang tidak pernah menjadi yang tercepat di ajang tersebut. Ia juga tidak pernah naik podium sebagai nomor satu. Yang menarik ia segera menyalami Ben Johnson begitu melihat catatan waktu Ben Johnson adalah yang terbaik dan bahkan memecahkan rekor. Bahkan, bila Carl Lewis tidak dinyatakan sebagai peraih mendali emas manggatikan Ben Johnson, ia tetap layak disebut sebagai pemenang. Dalam kejuaraan Piala Asia 2007 yang lalu di Jakarta, Tim Nasional Indonesia berhasil mengalahkan Oman pada pertandingan pertama dengan skor 2-1. Banyak orang yang kemudian memuji penampilan Tim Indonesia dan bergembira karena tim nasional kita memenangkan pertandingan tersebut. Salah satu pembaca tabloid olahraga kemudian berkomentar, ia akan tetap bergembira meskipun Timnas Indonesia kalah dalam pertandingan tersebut karena Timnas Indonesia telah memberikan perlawanan yang gigih dan membanggakan. Baginya, kemenangan bukanlah masalah hasil tapi cara. Sebuah pemikiran yang sangat bijak, karena pada dua pertandingan berikutnya melawan Saudi Arabia, yang kemudian menjadi juara, dan Korea Selatan Timnas kita menderita kekalahan. Tapi tentu saja tidak mengurangi kebanggan kita terhadap mereka bukan?
Kemenangan sesungguhnnya hanyalah masalah memilih perspektif atau sudut pandang yang benar. Dalam lomba lari marathon yang diadakan di New York tahun 1986, Gianni Poli menyelesaikan jarak sejauh 42 KM tersebut dengan catatan waktu dua jam sebelas menit enam detik. Sementara itu, Bob Willen, mencapai garis finish dengan catatan waktu lebih dari empat hari. Siapakah dari kedua pelari tersebut yang layak disebut sebagai pemenang? Jika ukurannya siapa yang tercepat mencapai garis finish, maka Gianni Polli layak dijadikan pemenang dan ia memang dinobatkan sebagai juara. Akan tetapi, Bob Willen juga layak disebut sebagai pemenang karena ia adalah seorang veteran perang yang kehilangan sepasang kakinya. Bob Willen kemudian dinobatkan sebagai satu-satunya orang cacat yang bisa menyelesaikan lomba lari Marathon dalam Guiness Book of Record . kemenangan hanyalah masalah perspektif. Perspektif yang berbeda akan menghasilkan pemenang yang berbeda. Sayangnya, kita seringkali tidak bisa menerima lebih dari satu pemenang karena kita tidak biasa menggunakan lebih dari satu perspektif. Kita juga terjebak dalam kebiasaan mengkultuskan individu, yaitu mengagungkan satu yang dianggap sebagai pemenang meskipun bukan pemenang yang sesungguhnya.
Selain perlu memaknai kemenangan secara benar, kita juga perlu menyikapi kemenangan dengan benar. Banyak pemenang yang larut dalam kemenangannya dan setelah itu, ia tidak pernah kembali menjadi pemenang. Mengapa? Karena ia merasa bahwa dirinya sudah menang padahal ia baru memenangkan satu kali atau sebagian. Setelah itu, ia kehilangan motivasi untuk meraih kemenangan selanjutnya atau kemenangan berikutnya. Perayaan kemenangan yang berlebihan juga membangkitkan semangat yang lebih kuat dalam diri pesaing untuk berbuat lebih baik pada pertarungan berikutnya. Akibatnya, ia menjadi lawan yang lebih tangguh sementara sang pemenang tidak melakukan persiapan sebaik pada waktu ia menang sebelumnya. Karena itu, tidak mengherankan bila di dunia ini lebih sedikit orang yang bisa bertahan sebagai pemenang daripada orang yang berhasil merebut sebuah kemenangan.
Menyikapi kemenangan secara bijak juga akan menurunkan beban kita untuk meraih kemenangan selanjutnya dan sekaligus mengurangi motivasi lawan kita untuk berusaha lebih keras. Karena itu, pada saat kemenangan sudah diraih, sangatlah penting untuk bersikap low profile. Penulis sangat jarang menemukan pemenang yang mau mengucapkan selamat kepada lawannya. Setelah ia dinyatakan sebagai pemenang, ia segera merayakan kemenangan dengan berbagai cara. Sang lawan bahkan dianggap tidak pernah ada. Hal ini tentu saja menyakitkan bagi sang lawan terlebih lagi sangat berbahaya bagi pemenang itu sendiri. Ia akan menjadi takabur dan kehilangan respek terhadap lawannya yang tentu saja akan membuat ia lengah dalam pertarungan selanjutnya. Sesungguhnya pemenang seperti ini telah mengawali kekalahannya tepat setelah ia dinyatakan sebagai pemenang.
Petinju Chris John barangkali adalah satu dari sedikit contoh yang selalu menghormati lawannya baik sebelum maupun setelah pertandingan. Karena itu, tidak mengherankan bila ia bisa mempertahankan gelarnya sampai sembilan kali secara beruntun. Chris John selalu menghentikan sejenak perayaan kemenangannya untuk kemudian mengucapkan selamat kepada lawannya. Apapun hasil yang diraih oleh pihak yang kalah, ia tetap layak diberi penghargaan. Dengan cara itulah kita meraih rasa hormat dari lawan kita. Sehingga pada pertarungan selanjutnya, lawan kita akan berada pada start mental yang lebih rendah dari yang seharusnya. Percaya diri tentu saja tetapi menganggap remeh lawan sebelum dan sesudah kemenangan diraih adalah hal yang sangat buruk dan membahayakan.
Semoga kebesaran jiwa seperti ini bisa kita temukan dalam Pemilu Legislatif 2009 ini, kita mengharapkan agar Calon Legislatif yang terpilih mengucapkan selamat kepada kandidat lainnya yang belum terpilih, “Selamat, anda telah menjadi lawan yang membuat saya berusaha lebih baik.” Lalu kemudian sang lawan membalas, “Selamat juga, anda memang layak tampil sebagai pemenang. Semoga amanah ini bisa anda pertahankan sampai berakhirnya masa jabatan anda.”
Kemenangan memang sesuatu yang baik dan berharga. Kita harus memperjuangkannya sekuat tenaga tentu saja, tetapi lebih penting lagi menemukan alasan yang tepat kenapa kita harus menang. Dan jauh lebih penting lagi menemukan alas an yang tepat kenapa kita harus menang. Dan jauh lebih penting lagi, memaknai kemenangan yang telah kita raih. Penulis yakin, bila setiap kita menemukan alasan yang tepat untuk menang dan memaknai serta menyikapi sebuah kemenangan secara baik, maka kemajuan bangsa dan Negara yang kita cita-citakan akan lebih cepat terwujud. Semoga.
Yakin Usaha Sampai.
Minggu, 05 April 2009
Tragedi Situ Gintung yang Gantung
Miris rasanya bila kita melihat lokasi jebolnya tanggul di Situ Gintung. Bagaikan kuah bakso yang tumpah dari mangkoknya, air bah datang menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Tidak terkecuali perkampungan padat penduduk yang ada di belakang kampus Univ. Muhamadiyah Jakarta hingga ke pemukiman di sekitarnya.
Tragedi Jumat, 27 Maret 2009 ini terjadi pada pukul 14.15 WIB disaat penduduk bersiap untuk sholat subuh. Namun malang tak dapat di tolak air bah sudah terlanjur datang dan menghancurkan semuanya.
Malam sebelum kejadian, tanggul Situ Gintung sudah mengalami perembesan air yang mengakibatkan banjir setinggi 20-50 cm di daerah pemukiman, namun pihak yang bertanggungjawab dalam pengelolaan Situ tidak segera mengambil tindakan untuk memperingati warga. Amat disayangkan....!!!!
Hingga kini, permasalahan ini terus diselidiki oleh pihak-pihak yang berwajib. Sementara itu, masyarakat hingga pihak kampus UMJ merasa perhatian dari Pemerintah untuk mereka masih jauh dari mencukupi. Bantuan yang selama ini mengalir adalah bantuan yang berasal dari swasta, masyarakat, partai politik, LSM, BEM-BEM Perguruan Tinggi, hingga anak-anak sekolah.
Di tempat yang berbeda Pemerintah Eksekutif dan Legislatif terus saling tuding salah bersalah, bahkan terjadi lempar-lemparan tanggungjawab antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, ada apa ini...???
Kenapa ketika ada keberhasilan, semuanya mengklaim ini karena perannya. Tapi, ketika ada kesalahan malah justru saling lempar-lemparan tanggungjawab antara yang satu dan lainnya.
Masyarakat tidak membutuhkan opini siapa yang benar dan salah, yang dibutuhkan hari ini adalah pertanggungjawaban institusi negara dalam keberlanjutan kehidupan mereka.
Kita semua menunggu kelanjutan dari kejadian ini, alam terkembang menjadi guru, sudah sepatutnya manusia mengambil pelajaran dari tragedi ini. Semoga kita bukanlah termasuk orang yang merugi karna hari ini lebih buruk dari kemarin, tapi jadilah orang yang beruntung.
Wallahualam Bissyawab...
Kamis, 19 Maret 2009
Sang Singa Padang Pasir pun Dapat Menangis
Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis?
Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun
kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan
pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan,
maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari
kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah
menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai
menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.
Mengapa "singa padang pasir" ini sampai menangis?
Umar pernah meminta izin menemui rasulullah. Ia mendapatkan beliau
sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau
berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras.
Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup
menahan tangisku.
Rasul yang mulia bertanya, "mengapa engkau menangis ya Umar?" Umar
menjawab, "bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan
bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya.
Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan
kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera".
Nabi berkata, "mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga;
sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang
menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku
dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia
berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan
meninggalkannya. "
Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini.
Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat
berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang
sesungguhnya.
Ketika anda pergi ke Belanda, biasanya pesawat akan transit di
Singapura. Atau anda pulang dari Saudi Arabia, biasanya pesawat anda
mampir sejenak di Abu Dhabi. Anggap saja tempat transit itu, Singapura
dan Abu Dhabi, merupakan dunia ini. Apakah ketika transit anda akan
habiskan segala perbekalan anda? Apakah anda akan selamanya tinggal di
tempat transit itu?
Ketika anda sibuk shopping ternyata pesawat telah memanggil anda untuk
segera meneruskan perjalanan anda. Ketika anda sedang terlena dan sibuk
dengan dunia ini, tiba-tiba Allah memanggil anda pulang kembali ke
sisi-Nya. Perbekalan anda sudah habis, tangan anda penuh dengan
bungkusan dosa anda, lalu apa yang akan anda bawa nanti di padang
Mahsyar.
Sisakan kesenangan anda di dunia ini untuk bekal anda di akherat. Dalam
tujuh hari seminggu, mengapa tak anda tahan segala nafsu, rasa lapar
dan rasa haus paling tidak dua hari dalam seminggu. Lakukan ibadah
puasa senin-kamis. Dalam dua puluh empat jam sehari, mengapa tak anda
sisakan waktu barang satu-dua jam untuk sholat dan membaca al-Qur'an.
Delapan jam waktu tidur kita....mengapa tak kita buang 15 menit saja
untuk sholat tahajud.
"Celupkan tanganmu ke dalam lautan," saran Nabi ketika ada sahabat yang
bertanya tentang perbedaan dunia dan akherat, "air yang ada di jarimu
itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akherat"
Bersiaplah, untuk menyelam di "lautan akherat". Siapa tahu Allah
sebentar lagi akan memanggil kita,dan bila saat panggilan itu tiba,
jangankan untuk beribadah, menangis pun kita tak akan punya waktu lagi.
Rabu, 25 Februari 2009
Pemimpin Muda
Rabu, 04 Februari 2009
KABINET AKRAB DILANTIK
Jumat, 30 Januari 2009
Pidato Barrack Obama
My fellow citizens:
I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and cooperation he has shown throughout this transition.
Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms. At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because We the People have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding documents.
So it has been. So it must be with this generation of Americans.
That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.
These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land - a nagging fear that America's decline is inevitable, and that the next generation must lower its sights.
Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many. They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America - they will be met.
On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.
On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn out dogmas, that for far too long have strangled our politics.
We remain a young nation, but in the words of Scripture, the time has come to set aside childish things.
The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.
In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of short-cuts or settling for less. It has not been the path for the faint-hearted - for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things - some celebrated but more often men and women obscure in their labor, who have carried us up the long, rugged path towards prosperity and freedom.
For us, they packed up their few worldly possessions and traveled across oceans in search of a new life. For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and plowed the hard earth.
For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg; Normandy and Khe Sahn. Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked till their hands were raw so that we might live a better life. They saw America as bigger than the sum of our individual ambitions; greater than all the differences of birth or wealth or faction.
This is the journey we continue today. We remain the most prosperous, powerful nation on Earth. Our workers are no less productive than when this crisis began. Our minds are no less inventive, our goods and services no less needed than they were last week or last month or last year. Our capacity remains undiminished. But our time of standing pat, of protecting narrow interests and putting off unpleasant decisions - that time has surely passed. Starting today, we must pick ourselves up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America.
For everywhere we look, there is work to be done. The state of the economy calls for action, bold and swift, and we will act - not only to create new jobs, but to lay a new foundation for growth. We will build the roads and bridges, the electric grids and digital lines that feed our commerce and bind us together. We will restore science to its rightful place, and wield technology's wonders to raise health care's quality and lower its cost. We will harness the sun and the winds and the soil to fuel our cars and run our factories. And we will transform our schools and colleges and universities to meet the demands of a new age. All this we can do. And all this we will do.
Now, there are some who question the scale of our ambitions - who suggest that our system cannot tolerate too many big plans. Their memories are short. For they have forgotten what this country has already done; what free men and women can achieve when imagination is joined to common purpose, and necessity to courage.
What the cynics fail to understand is that the ground has shifted beneath them - that the stale political arguments that have consumed us for so long no longer apply. The question we ask today is not whether our government is too big or too small, but whether it works - whether it helps families find jobs at a decent wage, care they can afford, a retirement that is dignified. Where the answer is yes, we intend to move forward. Where the answer is no, programs will end. And those of us who manage the public's dollars will be held to account - to spend wisely, reform bad habits, and do our business in the light of day - because only then can we restore the vital trust between a people and their government.
Nor is the question before us whether the market is a force for good or ill. Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched, but this crisis has reminded us that without a watchful eye, the market can spin out of control - and that a nation cannot prosper long when it favors only the prosperous.
The success of our economy has always depended not just on the size of our Gross Domestic Product, but on the reach of our prosperity; on our ability to extend opportunity to every willing heart - not out of charity, but because it is the surest route to our common good.
As for our common defense, we reject as false the choice between our safety and our ideals. Our Founding Fathers, faced with perils we can scarcely imagine, drafted a charter to assure the rule of law and the rights of man, a charter expanded by the blood of generations. Those ideals still light the world, and we will not give them up for expedience's sake.
And so to all other peoples and governments who are watching today, from the grandest capitals to the small village where my father was born: know that America is a friend of each nation and every man, woman, and child who seeks a future of peace and dignity, and that we are ready to lead once more. Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with sturdy alliances and enduring convictions. They understood that our power alone cannot protect us, nor does it entitle us to do as we please. Instead, they knew that our power grows through its prudent use; our security emanates from the justness of our cause, the force of our example, the tempering qualities of humility and restraint.
We are the keepers of this legacy. Guided by these principles once more, we can meet those new threats that demand even greater effort - even greater cooperation and understanding between nations. We will begin to responsibly leave Iraq to its people, and forge a hard-earned peace in Afghanistan. With old friends and former foes, we will work tirelessly to lessen the nuclear threat, and roll back the specter of a warming planet. We will not apologize for our way of life, nor will we waver in its defense, and for those who seek to advance their aims by inducing terror and slaughtering innocents, we say to you now that our spirit is stronger and cannot be broken; you cannot outlast us, and we will defeat you.
For we know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians and Muslims, Jews and Hindus - and non-believers. We are shaped by every language and culture, drawn from every end of this Earth; and because we have tasted the bitter swill of civil war and segregation, and emerged from that dark chapter stronger and more united, we cannot help but believe that the old hatreds shall someday pass; that the lines of tribe shall soon dissolve; that as the world grows smaller, our common humanity shall reveal itself; and that America must play its role in ushering in a new era of peace.
To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society's ills on the West - know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.
To the people of poor nations, we pledge to work alongside you to make your farms flourish and let clean waters flow; to nourish starved bodies and feed hungry minds. And to those nations like ours that enjoy relative plenty, we say we can no longer afford indifference to suffering outside our borders; nor can we consume the world's resources without regard to effect. For the world has changed, and we must change with it.
As we consider the road that unfolds before us, we remember with humble gratitude those brave Americans who, at this very hour, patrol far-off deserts and distant mountains. They have something to tell us today, just as the fallen heroes who lie in Arlington whisper through the ages. We honor them not only because they are guardians of our liberty, but because they embody the spirit of service; a willingness to find meaning in something greater than themselves. And yet, at this moment - a moment that will define a generation - it is precisely this spirit that must inhabit us all.
For as much as government can do and must do, it is ultimately the faith and determination of the American people upon which this nation relies. It is the kindness to take in a stranger when the levees break, the selflessness of workers who would rather cut their hours than see a friend lose their job which sees us through our darkest hours. It is the firefighter' s courage to storm a stairway filled with smoke, but also a parent's willingness to nurture a child, that finally decides our fate.
Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends - hard work and honesty, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism - these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history. What is demanded then is a return to these truths. What is required of us now is a new era of responsibility - a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation, and the world, duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, firm in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so defining of our character, than giving our all to a difficult task.
This is the price and the promise of citizenship.
This is the source of our confidence - the knowledge that God calls on us to shape an uncertain destiny.
This is the meaning of our liberty and our creed - why men and women and children of every race and every faith can join in celebration across this magnificent mall, and why a man whose father less than sixty years ago might not have been served at a local restaurant can now stand before you to take a most sacred oath.
So let us mark this day with remembrance, of who we are and how far we have traveled. In the year of America's birth, in the coldest of months, a small band of patriots huddled by dying campfires on the shores of an icy river. The capital was abandoned. The enemy was advancing. The snow was stained with blood. At a moment when the outcome of our revolution was most in doubt, the father of our nation ordered these words be read to the people:
"Let it be told to the future world...that in the depth of winter, when nothing but hope and virtue could survive...that the city and the country, alarmed at one common danger, came forth to meet [it]."
America. In the face of our common dangers, in this winter of our hardship, let us remember these timeless words. With hope and virtue, let us brave once more the icy currents, and endure what storms may come. Let it be said by our children's children that when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God's grace upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to future generations.
Thank you. God bless you, and God bless the United States of America.
Kamis, 29 Januari 2009
FILSAFAT
"Filsafat adalah Logika dan Akidah adalah Keyakinan" kata-kata itu yang tertangkap di benakku.
Filsafat adalah mencintai kebijaksanaan, konsep Plato memberi istilah dialektika yang berarti seni berdiskusi, konsep Cicero menyebutnya sebagai ibu dari semua seni, konsep Al Farabi adalah menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada, konsep Rene Descartes menyatakan kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
Dalam logika matematika dapat di tentukan antara "true" atau "false" dari sebuah pernyataan ataupun persamaan matematika. Dan dari persamaan itu sebuah sistem komputer dapat dihidupkan. Tetapi, 1+1=2 adalah suatu kepastian dan tentunya keyakinan kita bahwa 1+1=2, karena tidak ada yang dapat mengubah ketetapan tersebut. Tentunya jika diubah akan berpengaruh terhadap berbagai hal, contohnya dala perhitungan matematika.
Demikian juga dengan agama ada beberapa hal yang dapat dilogikakan tapi ada juga yang hanya dapat diterima berdasarkan keyakinan/aqidah kita. Contohnya masalah surga, neraka, kehidupan sesudah mati dan hal yang lainnya.
Konstalasi Sarat Ambisi
Sejumlah tokoh diberitakan melakukan pertemuan dengan Megawati, seperti Prabowo Subianto (Ketua Dewan Pembina Gerindra), Sri Sultan Hamengku Bowono X dan Akbar Tandjung, keduanya dari Partai Golkar, dan Sutiyoso (mantan Gubernur DKI Jakarta). Bahkan, ketiganya hadir dalam Rakernas PDIP di Solo kemarin. Dari ketiganya, peluang Sultan jauh lebih besar menampingi Ibu Mega dalam Pilpres 8 Juli mendatang.
Tidak sulit ditebak kalau pertemuan tersebut sarat dengan kepentingan politik, khususnya menghadapi Pemilu legislatif 9 April dan Pilpres. Kelihatannya, Megawati jauh lebih siap dan lebih agresif mempersiapkan dirinya menuju pentas Pilpres. Dialah Capres pertama yang berani memproklamirkan dirinya sejak tahun lalu, sedangkan tokoh-tokoh lainnya masih malu-malu kucing. Menyusul kemudian ’’incumbent’’ Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Sutiyoso, Rizal Ramli dll.
Manuver Megawati melakukan pertemuan dengan Sri Sultan dan Akbar Tandjung mengharapkan dukungan dari keduanya yang memiliki banyak pendukung fanatik. Bagi Sri Sultan yang sudah menyatakan diri maju dalam Pilpres besar kemungkinan akan ditarik Ibu Mega sebagai Cawapres.
Walaupun Sri Sultan memproklamirkan dirinya sebagai Capres, namun ia harus rasional, siapa pendukung partainya? Oleh karena itu, besar kemungkinan Sri Sultan mau menjadi Cawapresnya Megawati.
Pasangan Mega – Sri Sultan sangat menjanjikan, meskipun Sri Sultan dipastikan akan dipecat partainya (Golkar). Namun akibat pemecatan itu –kalau terjadi– membuat masyarakat merasa simpati padanya. Sebagai Raja Jawa tidak sulit bagi Sri Sultan memperoleh dukungan di P. Jawa.
Desakan memecat Sultan semakin deras, di antaranya datang dari tokoh Golkar Muladi. Menurut mantan Menteri Hukum dan Mensesneg itu Sultan telah melanggar etika dan aturan partai. Sama halnya dengan Akbar Tandjung, sudah barang tentu Ibu Mega sangat mengharapkan dukungan dari mantan ketua umum DPP Golkar yang dalam empat tahun belakangan ini dipinggirkan Jusuf Kalla. Ibu Mega mengharapkan dukungan masyarakat pemilih dari luar P. Jawa dengan merangkul Akbar Tandjung walaupun posisi yang ditawarkan padanya belum jelas.
Justru itu, manuver Ibu Mega bertemu dengan sejumlah tokoh Golkar maupun yang sudah ke luar dari Golkar, seperti Prabowo, secara tidak langsung dapat menggembosi suara Golkar dalam Pemilu mendatang. Apalagi, tokoh Golkar lainnya (Wiranto) juga sudah mendirikan partai baru (Hanura), sehingga sangat berat buat Golkar mempertahankan perolehan suaranya dalam Pemilu legislatif maupun Pilpres.
Berbagai manuver Megawati yang rajin menjambangi para tokoh itu merupakan hal yang biasa. PDIP dan khususnya Ibu Mega memang harus proaktif, mengapa? Sebab, Pemilu tahun ini merupakan kesempatan terakhir. Jika gagal, maka tamatlah riwayat karir Ibu Mega di panggung politik. Tidak mungkin lagi ia tampil dalam Pilpres 2014 mengingat usianya sudah uzur. Sama halnya dengan peluang SBY, JK, Amien Rais, Gus Dur, Wiranto, termasuk Sri Sultan, rasanya tidak mungkin bisa maju lagi dalam Pemilu berikutnya, sehingga medan pertempuran Pilpres 2014 bakal diisi Capres usia muda.
Pernyataan Ketua Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo bahwa Capres PDIP Megawati hanya akan berhadapan “head to head” dengan ’’incumbent’’ SBY tampaknya bakal menjadi kenyataan, bila ketentuan pencalonan Pilpres tidak mengalami perubahan.
Secara individu, kalau Mega vs SBY peluang SBY lebih besar, tapi keliahian Mega merangkul Sultan yang juga raja Jawa membuat Mega/Sultan Vs SBY/JK bakal ketat. Tergantung siapa yang paling mampu memanfaatkan peluang mendekati hati rakyat.
Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Barack Obama mencetak sejarah saat menang dalam pemilihan presiden Amerika Serikat pada Rabu waktu setempat untuk menjadi presiden pertama keturunan Afrika-Amerika dalam sejarah negara itu.
Kantor berita AP mencatat Obama menjanjikan beberapa hal terkait masalah terkini dalam kampanyenya. Dalam soal Afganistan, Obama menjanjikan memindahkan lebih dari 7.000 tentara dari Irak untuk memperkuat sekitar 32.000 tentaranya di sana. Dia juga menjanjikan serangan tunggal pada sasaran utama teroris di Pakistan, asal terungkap keberadaannya dan “jika Pakistan tidak mampu atau tak mau bertindak atas mereka”.
Pada masalah Kuba, presiden ke-44 Amerika Serikat itu berjanji mencabut larangan perjalanan keluarga dan pengiriman uang oleh warga Amerika Serikat keturunan Kuba ke kampung halaman mereka. Dia juga siap bertemu dengan pemimpin Kuba Raul Castro tanpa syarat, serta mengurangi embargo perdagangan jika Havana “mulai membuka Kuba pada demokrasi”.
Terhadap isu hukuman mati, politisi berusia 47 tahun itu mendukung hukuman tersebut, asalkan diberikan untuk kejahatan yang bisa “diberi hukuman apa pun oleh masyarakat”. Di Illinois, Obama juga menyetujui undang-undang, yang mewajibkan rekaman video interogasi dan pemeriksaan pengakuan dalam perkara dengan tuntutan hukuman mati serta melakukan perubahan dalam sistem, yang dianggap korup.
Pada persoalan pendidikan, presiden yang mewakili kelompok etnik minoritas Amerika-Afrika tersebut menjanjikan paket 18 miliar dolar Amerika Serikat untuk pendidikan pra-taman kanak-kanak bagi seluruh warga. Dia juga menjanjikan kenaikan gaji guru dikaitkan dengan hasil ujian, memperbaiki undang-undang Pendidikan untuk Semua Anak (NCLB), yang bisa mengukur prestasi anak, serta mengembangkan subyek tertentu, seperti, musik atau seni. Selain itu, perangsang uang kuliah hingga 4.000 dolar Amerika Serikat bagi mahasiswa bekerja amal hingga 100 jam setiap tahun juga disediakan.
Sebagian dana untuk memenuhi janji tersebut akan diperoleh Obama dengan cara mencabut pasal potongan pajak perusahaan untuk pembayaran gaji CEO serta menunda seluruh misi NASA.
Terkait permasalahan energi dan pemanasan global, Obama –yang pernah tinggal di Indonesia beberapa tahun– menjanjikan paket 150 miliar dolar Amerika Serikat dalam 10 tahun untuk pengembangan bahan bakar nabati, tenaga matahari, hibrida, teknologi batubara bersih dan teknologi lain ramah lingkungan. Dia mewajibkan pengurangan emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca lain sekitar 80 persen dari tingkat tahun 1990 pada 2050 dengan memanfaatkan sistem perdagangan berbasis pasar, yang akan membuat energi mahal.
Pada hal sama, dia juga akan membatasi pemboran minyak dan gas lepas pantai dan mengusulkan pajak “windfall profit” pada perusahaan minyak besar hingga 1.000 dolar Amerika Serikat. Obama juga akan mengeluarkan kebijakan mewajibkan penggunaan etanol hingga 60 juta galon setahun dan penggunaan 25 persen energi terbarukan, seperti, angin, sinar matahari, dan biomass. Potongan pajak hingga 7.000 dolar Amerika Serikat untuk pembelian mobil ramah lingkungan diharapkan dapat menambah kendaraan hibrida hingga satu juta mobil pada 2015.
Untuk menyelesaikan kemelut keuangan, Obama menjanjikan potongan pajak 3.000 dolar Amerika Serikat selama dua tahun bagi dunia industri atas setiap lapangan kerja baru dan memungkinkan penarikan 15 persen dana pensiun hingga maksimal 10.000 dolar Amerika Serikat tanpa penalti, kecuali untuk pajak.
Selain itu, dia juga akan memperpanjang penundaan pajak bagi usaha kecil untuk menghapus buku investasi hingga 250.000 dolar dan mempermudah pinjaman usaha kecil senilai lima miliar dolar, sehingga nilai total proposal tersebut mencapai 60 miliar dolar. Dia juga mewajibkan pembekuaan 90 hari pada beberapa perkara penyitaan rumah. Lobi pada anggota Kongres atas paket penyelamatan 700 miliar dolar juga akan digencarkan.
Masih pada masalah sama, Obama akan terus memberikan tunjangan pengangguran dan menawarkan potongan pajak 10 persen dari pembayaran bunga kredit perumahan tahunan bagi yang kesulitan.
Atas soal pernikahan sejenis, Obama –yang akan dilantik pada 20 Januari 2009– menentang perubahan undang-undang yang ingin mensahkannya dan menegaskan kekuatan negara bagian dalam meresmikan pernikahan.
Pada masalah penggunaan senjata api, Obama mendukung upaya penuntutan bagi pembuat dan penjual senjata api. Di Illinois, dia juga mendukung larangan peredaran senjata semiotomatis dan senjata api genggam apa pun.
Untuk menyelesaikan masalah kesehatan, dia mendukung tunjangan kesehatan bagi semua anak-anak, bukan dewasa. Dia juga mengusulkan tunjangan kesehatan bagi seluruh pekerja, termasuk pekerja federal. Dia juga mengusulkan belanja 50 miliar dolar untuk teknologi informasi dalam lima tahun ke depan dalam rangka mengurangi beban biaya kesehatan. Seluruh janji untuk bidang kesehatan itu kemungkinan membebani negara 1,6 triliun dolar dalam 10 tahun.
Pada persoalan imigrasi, Obama mendukung undang-undang 2006, yang memberi status warga negara pada imigran gelap atas syarat tertentu, seperti, kecakapan berbahasa Inggris serta kesediaan membayar pajak dan denda.
Terhadap masalah Iran, meski pada awalnya menyatakan siap bertemu dengan Presiden Ahmadinejad tanpa syarat, Obama kini seperti ragu. “Ahmadinejad adalah orang yang tepat untuk ditemui sekarang” dan mengatakan diplomasi langsung dengan pemimpin Iran akan memberi kredibilitas pada Amerika Serikat untuk menekan pemberian sanksi internasional. Dia juga siap meningkatkan tekanan diplomasi pada Teheran sebelum Israel memutuskan menyerang sarana nuklir Iran.
Pada isu Irak, Obama menentang penambahan pasukan dan pernah menentang undang-undang belanja tentara pada Mei 2007. Dia mengatakan akan menarik pasukannya di Irak dalam 16 bulan.
Tentang masalah jaminan sosial, Obama menolak menjanjikan kenaikan pajak penghasilan bagi penduduk berpenghasilan sampai dari 250.000 dolar setahun. Saat ini, pajak penghasilan dikenakan pada penerimaan di atas 102.000 dolar pertahun. Namun, dia menolak kenaikan pembatasan umur bagi penerima tunjangan.
Untuk masalah pajak, Obama akan menaikkan pajak penghasilan bagi keluarga yang menghasilkan lebih dari 250.000 dolar dan bagi pribadi dengan gaji 200.000 dolar serta menaikkan pajak perusahaan. Dia juga akan memberikan potongan pajak 80 miliar dolar bagi pekerja miskin dan orang tua, termasuk melipattigakan potongan pajak penerimaan pekerja berpendapatan minim. Pengenaan pajak bagi pekerja berusia lanjut dengan penghasilan di bawah 50.000 dolar juga akan dihapuskan. Potongan bunga pinjaman perumahan bisa diberikan kepada pemilik rumah berpendapatan kecil, yang tidak menikmati potongan bunga karena tidak memperinci pajak mereka.
Lembaga swadaya masyarakat Tax Policy Center memperkirakan penghapusan pajak senilai 1.118 dolar Amerika Serikat bakal diberikan kepada 20 persen pembayar pajak menengah, yaitu dengan penghasilan antara 37.600 dolar hingga 66.400 dolar.
Sementara pada masalah perdagangan, Obama menjanjikan membuka kembali Kesepakatan Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) untuk memperkuat penegakan standar perburuhan dan lingkungan. Pada 2004, dia mengusulkan penggiatan kembali kesepakatan perdagangan yang sudah ada, bukan merevisi.
Jumat, 09 Januari 2009
Satu-satunya Situs Kota di Indonesia
MENGAPA perusakan situs bekas ibu kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, menjadi begitu menyesakkan? Selain karena tindakan itu menunjukkan pengabaian dan penghinaan terhadap sejarah, Situs Trowulan juga memiliki arti yang sangat istimewa secara arkeologis.
Arkeolog senior dari UI, Prof Dr Mundardjito, mengatakan, Situs Trowulan adalah satu-satunya peninggalan purbakala berbentuk kota dari era kerajaan-kerajaan kuno di masa klasik Nusantara, dari abad V sampai XV Masehi.
"Dari kerajaan lain yang tersisa hanya candi-candi atau prasasti," ungkap Mundardjito.
Peninggalan berwujud kota sangat penting karena dengan mengetahui lanskap urban masa lalu kita bisa mempelajari kehidupan masyarakat pada waktu itu secara lengkap. Maka, jika Yunani memiliki Acropolis di Athena, Italia menyimpan reruntuhan Pompeii, Kamboja bangga dengan Angkor, dan Peru masih setia merawat Machu Picchu, Indonesia hanya memiliki Trowulan yang hingga saat ini pun belum tergali sempurna.
Sejak Raffles
Menurut buku Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan, penelitian ilmiah pertama terhadap Trowulan dilakukan oleh Wardenaar atas perintah Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1815. Hasil penelitian itu kemudian dimasukkan Raffles di bukunya, History of Java.
Sepanjang abad ke-19, penelitian tentang Trowulan dilakukan oleh pihak kolonial Belanda. Tanggal 24 April 1924, Bupati Mojokerto RAA Kromodjojo Adinegoro bekerja sama dengan seorang arsitek dari Belanda, Ir Henry Maclaine Pont, mendirikan komunitas peneliti peninggalan Majapahit bernama Oudheeidkundige Vereeneging Majapahit (OVM). Dua tahun kemudian, mereka merintis berdirinya Museum Trowulan yang pertama.
Tahun 1942, museum tersebut ditutup seiring dengan masuknya Jepang. Pada periode inilah, menurut Mundardjito, banyak hasil penelitian tentang peninggalan Majapahit di Trowulan yang hilang atau terbakar. ”Saya sedang mencoba mengumpulkan catatan penelitian sejak kemerdekaan hingga dari Pelita I sampai sekarang, tetapi sudah susah juga,” tuturnya.
Mundardjito berharap penggalian terhadap Situs Trowulan terus berlanjut sehingga suatu saat nanti seluruh kota itu akan tersingkap dan bisa dinikmati publik, seperti di Acropolis atau Pompeii. ”Selama ini, setelah kami gali dan teliti, situs itu kami tutup plastik dan diuruk tanah lagi supaya tidak rusak. Nanti setelah seluruh kota terungkap dan selesai diteliti, semua situs kami buka kembali dan menata untuk tujuan wisata sejarah,” papar Mundardjito.
Namun, sebelum cita-cita itu terlaksana, situs yang ada pun sudah semakin porak-poranda.
Sabtu, 03 Januari 2009
DUKA YANG MENDALAM UNTUK WARGA GAZA
Sejumlah negara langsung bereaksi melihat serangan brutal rezim Zionis Israel ke Jalur Gaza. Uni Eropa, Rusia Perancis mendesak Israel untuk menghentikan serangannya. Inggris menyatakan keprihatinannya, sedangkan AS meminta Israel agar menghindari jatuhnya korban di kalangan warga sipil di Gaza.
"Rusia meyakini, pentingnya menghentikan segera serangan luas ke Jalur Gaza yang telah menimbulkan banyak korban jiwa dan penderitaan bagi rakyat Palestina," kata Menlu Rusia dalam pernyataannya hari Sabtu (27/12).
Di Prancis, Presiden Nicolas Sarkozy mendesak Israel untuk menghentikan pengerahan pesawat-pesawat tempurnya yang telah membombardir markas-markas Hamas dan kantor-kantor polisi di Gaza. Meski demikian, Sarkozy dalam pernyataannya terkesan menyalahkan Hamas sebagai biang keladi atas serangan Israel ini.
"Presiden Prancis mengungkapkan keprihatinan yang dalam atas eskalasi kekerasan di selatan Israel dan di Jalur Gaza. Ia mengutuk keras provokasi yang tidak bertanggung jawab yang menyebabkan situasi ini terjadi dan penggunaan kekerasan yang berlebihan," demikian pernyataan yang dirilis kantor Sarkozy.
Sementara dari dunia Arab, pemimpin Libya Muammar Gaddafi yang pertama kali melontarkan kecaman atas serangan brutal Zionis Israel ke Jalur Gaza. Ia menyerukan dunia Arab mengambil sikap tegas terhadap Israel dan mendesak agar perbatasan-perbatasan di Gaza dibuka.
Sementara itu, helikopter-helikopter Israel masih melayang-layang diatas wilayah Gaza setelah membantai lebih dari 180 warga Gaza. Dipekirakan jumlah warga Gaza yang gugur syahid akan bertambah karena masih ada ratusan orang yang mengalami luka-luka berat dan ringan.
Pada saat yang sama, militer Israel menyatakan masih akan melakukan operasi militer lagi ke Gaza dan kemungkinan serangan yang akan dilakukan lebih besar dari serangan hari ini. Israel menargetkan serangannya ke utara dan selatan Gaza, terutama kota Khan Younis dan Rafah yang diklaim sebagai basis utama Hamas.
BBC melaporkan, rumah-rumah sakit di Gaza penuh dengan para korban. Padahal rumah-rumah sakit itu tidak memiliki banyak persediaan obat-obatan akibat blokade Israel ke Jalur Gaza. Sedangkan masjid-masjid di Gaza melalui pengeras suara menghimbau warga Gaza yang selamat untuk mendonorkan darahnya guna membantu para korban luka.
Duka Gaza adalah duka bagi umat Islam sedunia. Menjelang tahun baru umat Islam, saudara-saudara kita dizalimi oleh rezim ilegal Zionis Israel. Selayaknya kita memanjatkan doa buat warga Gaza dan merenungkan kembali seberapa jauh kita mengingat penderitaan saudara seiman kita di Jalur Gaza.
Rabu, 24 Desember 2008
KONTROVERSI UU BHP
Salah satu perkembangan mutakhir pendidikan Indonesia adalah pengesahan Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) menjadi Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) (17/12/2008) oleh DPR RI. UU BHP menempatkan satuan pendidikan sebagai subjek hukum yang memiliki otonomi luas, akademik maupun non akademik, tanpa khawatir lagi dengan kooptasi birokrasi. Otonomi yang diberikan dikunci oleh Undang-Undang BHP harus dilandasi oleh prinsip-prinsip seperti nirlaba, akuntabilitas, transparan, jaminan mutu dan seterusnya yang memastikan tidak boleh ada komersialisasi dalam BHP. BHP memastikan bahwa komitmen pemerintah untuk membantu lembaga pendidikan tidak pernah berkurang bahkan bertambah besar.
Namun dibalik idealisme dan tujuan Undang-Undang BHP itu dibuat, muncul kritik-kritik dari beberapa kalangan yang mengatakan bahwa BHP adalah sebuah produk undang-undang yang digerakkan oleh mitos otonomi. BHP tidak lebih dari sebuah bentuk lepas tangan Negara atas pembiayaan pendidikan nasional. Lembaga Pendidikan akan mengarah pada tujuan pragmatis komersil ketimbang pada tujuan kritis dan blok histories yang mencerdaskan bangsa dan melahirkan putra-putra terbaik yang bisa membaca tanda-tanda zaman. Pada akhirnya BHP melegasisasi suatu kesempatan kepada satuan pendidikan untuk memberi peluang bagi calon mahasiswa berkapasitas intelegensia rendah untuk mengambil kursi mahasiswa lain yang berkualitas tinggi jika mampu memberi imbalan tertentu.
Itu adalah wacana pemikiran yang lazim dalam sebuah Negara demokratis. Pembentukan Undang-Undang BHP ini adalah merupakan amanah dari Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal 53 ayat (1) bahwa “penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum”. Pembentukan BHP ini adalah merupakan bentuk koreksi atas pelaksanaan BHMN yang telah berjalan selama ini dan bukan replika dari BHMN.
Undang-Undang BHP menempatkan satuan pendidikan bukan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Departemen Pendidikan Nasional, tapi sebagai suatu unit yang otonom. Rantai birokrasi diputus habis diserahkan ke dalam organ badan hukum pendidikan yang menjalankan fungsi badan hukum: penentuan kebijakan umum dan pengelolaan pendidikan. Misalnya di dalam satuan pendidikan perguruan tinggi, praktek selama ini bahwa untuk memilih seorang rektor harus melewati tujuh lapis birokrasi (tingkat senat, Dirjen Dikti, Inspektora Jenderal, Sekjen Depdiknas, Menteri Pendidikan Nasional, Tim penilai akhir Sekretariat Negara dan akhirnya sampai ke Presiden). Saat ini, dengan BHP hal itu tidak lagi terjadi, rektor dipilih dan ditetapkan oleh organ representasi pemangku kepentingan.
UU BHP menjamin bahwa peserta didik hanya membayar biaya pendidikan paling banyak 1/3 dari biaya operasional satu satuan pendidikan, bukan biaya investasi. Selama ini satuan pendidikan sangat tergantung dari pendanaan dari peserta didik bahkan sampai sembilan puluh persen. Saat ini, BHP membatasi menjadi 1/3 maksimal dari biaya operasional. Ini adalah jaminan Undang-Undang BHP bahwa kenaikan SPP seperti yang banyak dikhawatirkan rasanya tidak mungkin terjadi.
UU BHP menjamin secara khusus warga negara Indonesia yang tidak mampu secara ekonomi tapi berpotensi secara akademik, terutama yang ada di quintil lima termiskin, dimana sampai saat ini hanya 3 Persen dari kategori ini yang menikmati pendidikan tinggi. Satuan Pendidikan BHP wajib menjaring dan menerima warga Negara Indonesia yang memiliki potensi akademik tinggi dan kurang mampu paling sedikit 20 persen dari keseluruhan peserta didik yang baru. Satuan Pendidikan BHP harus menunjukkan kepada publik bahwa mereka menerima dan menyediakan paling sedikti 20 persen beasiswa atau bantuan biaya pendidikan untuk mereka yang kurang mampu dan/atau peserta didik yang memiliki potensi akademiki tinggi.
Undang-Undang BHP mengikat tanggungjawab pemerintah dalam pendanaan pendidikan. Misalnya Pemerintah menanggung seluruh biaya pendidikan untuk BHPP dan BHPPD dalam menyelenggarakan pendidikan dasar untuk biaya operasional, investasi, beasiswa dan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik. Pemerintah bersama-sama dengan BHPP menanggung seluruh biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan pada BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. menurut Dirjen Dikti, dr. Fasli Jalal, Ph.D dalam konferensi Pers (18/12) justru pemerintah yang akan pontang-panting mencarikan dana untuk tanggung jawab yang sangat besar ini.
Sebagai badan hukum, satuan pendidikan memiliki wewenang hokum untuk melakuka tindakan hukum dan konsekwensi hukum atas penggunaan hak itu. Pasal 63 menyebutkan “ setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1), pasal 38 ayat (3), dan pasal 39 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun da dapat ditambah dengan denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Pasal 4 ayat (1), pasal 38 ayat (3) da pasal 39 adalah pasal yang mengatakan bahwa pendidikan itu adalah nirlaba, seluruh sisa dari hasil usaha dari kegiatan BHP harus ditanamkan kembali ke dalam BHP untuk meningkatkan kapasitas dan/atau mutu layanan pendidikan.
Dikutip dari http://www.dikti.go.id/
Bagaimanakah sikap anda?
Apakah kita harus mem beo dg teman2 kampus lain yg telah lebih dulu berdemonstrasi..?
Ato kita akan menyatakan sendiri sikap kita..?
Saya tunggu komentar teman2 smua, mengingat dalam waktu libur ini kita sulit untuk berjumpa muka
Namun setidaknya kita bisa berjumpa pemikiran disini.
Wss
Langganan:
Postingan (Atom)